BULELENG, Balipolitika.com- Berawal dari aktivitas pramuka yang kerap mengeksplorasi lingkungan sekitar, seniman asal Buleleng, Made Agus Janardana atau familiar disapa Made Oplas sukses mengubah sampah kemasan plastik menjadi karya seni mendunia.
Ide karya seni yang kini dikenal luas oleh masyarakat dengan sebutan “Wajah Plastik” itu ungkap Made Oplas pertama kali muncul pada bulan Agustus 2018.
Pria yang sehari-hari berprofesi sebagai sebagai guru Informatika salah satu sekolah di Buleleng itu melihat kemiripan warna-warni sampah kemasan plastik dengan palet warna yang biasa ia lihat dalam desain grafis.
“Pada saat itu saya ingin memberikan hadiah kepada negara Indonesia karena HUT kemerdekaan. Saya mencoba wajah Presiden Soekarno untuk karya pertama saya, tetapi ya begitulah, hancur. Tetapi, saya tidak menyerah. Tiga bulan saya melakukan riset sampai menemukan formula yang tepat” ujar Made Oplas diwawancarai di Galeri WHY Wajah Plastik, Jalan Ancak Sari, Banjar Ancak, Desa Bungkulan, Kecamatan Sawan, Kabupaten Buleleng, Minggu, 7 Juni 2026.
Dari kegagalan yang ia alami, lahirlah teknik khusus yang kemudian menjadi ciri khas proses pembuatan Wajah Plastik yang dimuat dalam buku berjudul Wajah Plastik A Pigment of Imagination.
Karya ini dibuat melalui empat tahapan utama, yakni collecting and filtering, designing and printing, cutting and pasting, serta retouching and framing.
Dari proses itu, terciptalah Wajah Plastik, sebuah karya seni berbahan sampah kemasan plastik yang kini telah dikenal luas oleh banyak orang.
Wajah Plastik mengantarkan Made Oplas meraih banyak penghargaan nasional, salah satunya menerima SATU Indonesia Awards Bidang Lingkungan Tahun 2021.
Bagi Made Oplas, tantangan terbesar justru bukan mencari bahan pembuatan karya, melainkan mengajak masyarakat agar ikut peduli terhadap persoalan sampah plastik dan kebersihan lingkungan.
Ia memanfaatkan adanya media sosial, kegiatan workshop, hingga karakter bondres ciptaannya yang disebut Made Oplas (manusia dengan operasi plastik) untuk menyampaikan pelatihan serta edukasi peduli lingkungan dengan cara yang lebih menarik melalui karakter bondres khas Buleleng.
“Karena masalah sampah plastik itu bukan urusan pemerintah saja” tegasnya.
Tak hanya fokus menghasilkan karya seni, Made Oplas juga aktif berbagi ilmu kepada pelajar dan masyarakat sekitar.
Bahkan, sebagian hasil yang didapat dari hasil penjualan karya, disisihkan untuk disumbangkan dan aktif memberikan pelatihan kepada masyarakat mengenai pengolahan sampah plastik.
Melalui karya Wajah Plastik, ia berharap semakin banyak masyarakat khususnya generasi muda Bali tidak hanya menjadi penonton tetapi juga sadar akan persoalan sampah dan menyumbangkan ide.
Ia yakin perubahan dapat dimulai dari setiap orang yang mau bertindak nyata.
“Talk more do more. Jadi ketika kita melakukan aksi nyata. Kita harus sampaikan, biar mereka tergerak juga. Karena kalau bukan dengan aksi nyata, bukan kata-kata saja pasti masalah sampah plastik akan terselesaikan” tegas Made Oplas. (bp/Ayu Pradnya Mahayani/4A/Basindo/Undiksha)










