BADUNG, Balipolitika.com- Menelusuri sejarah Desa Munggu. Pemberian nama suatu desa pasti memiliki kisah. Begitu pula dengan Sejarah Desa Munggu yang kita cintai. Kami mengakui keterbatasan sumber tertulis, seperti babad dan lontar. Namun, berdasarkan cerita para tetua, kami merangkum kisah ini. Kisah ini dimulai setelah Kerajaan Bedahulu takluk.
Pada tahun Saka 1265, pasukan Majapahit menaklukkan Bedahulu. Kerajaan dengan patih Kebo Iwa dan Pasung Gerigis ini takluk. Tampuk pimpinan kerajaan di Bali sempat kosong. Keadaan masyarakat menjadi kacau dan huru-hara terjadi.
Raja Baru dan Kekacauan Kedua
Untuk mengatasi kekacauan, Patih Wulung menobatkan raja. I Gusti Agung Pasek Gelgel dinobatkan sebagai Raja Bali. Namun, pada Saka 1272, Majapahit menobatkan adhipati baru. Sri Kresna Kepakisan diangkat sebagai adhipati Bali di Samprangan.
Kepemimpinan Sri Kresna Kepakisan sempat ditolak masyarakat. Khususnya Bali Mula dan Bali Aga merasa tidak setuju. Kekacauan dan huru-hara sempat terjadi lagi. Setelah dinasihati Gajah Mada, beliau mengubah gaya kepemimpinan. Beliau mulai memimpin sesuai tatacara masyarakat Bali. Keadaan pun menjadi aman, dan beliau diterima rakyat.
Pada masa Raja Sri Smara Kepakisan (Saka 1302–1382). Kehidupan masyarakat mulai tertata, aman, dan makmur. Perkembangan ini berlanjut pada Raja Waturenggong (Saka 1382–1472). Masyarakat mulai berpencar mencari tempat hidup baru.
Perjalanan ke Hutan Beraban
Sekitar 20 orang yang merupakan satu keluarga melakukan perjalanan. Keluarga ini berasal dari Denpasar, tepatnya Desa Sumerta. Mereka melakukan perjalanan ke arah barat. Mereka tiba di timur suatu hutan lebat. Hutan itu dikenal dengan nama Hutan Beraban.
Tempat kedatangan pertama mereka kini disebut Datengan. Banjar Datengan di Desa Tumbak Bayuh, Mengwi, adalah lokasinya. Nama Datengan berasal dari kata dateng yang berarti datang atau tiba.
Keluarga ini mulai membangun pemukiman di sana. Beberapa anggota keluarga melanjutkan perjalanan ke tempat lain. Ada yang menuju Buduk dan ada pula ke Kaba-kaba. Namun, orang tua dan beberapa anaknya masuk ke Hutan Beraban. Mereka merabas hutan dan membangun gubuk tempat tinggal.
Berdirinya Kerajaan Munggu
Hutan Beraban berada di bawah kekuasaan Kerajaan Mengwi. Raja Mengwi saat itu adalah I Gusti Agung Putu. Beliau bergelar Cokorda Agung Bhima Cakti. Istrinya bernama Ni Gusti Luh Alangkajeng. Raja ini memiliki tiga orang putra-putri yang dihormati.
Pemukim baru ini dipimpin oleh Ki Pasek Gelgel Sumerta. Mereka menghadap Raja Mengwi untuk memohon perlindungan. Raja Mengwi menyambut baik dan berkenan mengayomi mereka. Raja mengutus anak bungsu beliau untuk bertahta di sana. Anak beliau bernama I Gusti Agung Nyoman Alangkajeng.
Beliau ditemani 500 orang prajurit sebagai perwakilan raja. Sebuah istana dibangun di sebelah barat laut mata air. Kerajaan itu dinamakan Kerajaan Munggu. Raja I Gusti Agung Nyoman Alangkajeng lebih dikenal sebagai I Gusti Agung Nyoman Munggu.
Asal Usul Nama Munggu
Pemukiman baru ini berkembang pesat seiring waktu. Masyarakat lain mulai berdatangan dan menetap. Kelompok-kelompok ini berkembang menjadi banjar-banjar. Raja I Gusti Agung Nyoman Alangkajeng membangun tempat suci. Beliau membangun Pura Kahyangan Tiga (Pura Bale Agung, Puseh, dan Dalem Ulun Setra).
Pemukiman itu terus berkembang menjadi sebuah Desa. Desa itu kini kita kenal sebagai Desa Munggu. Kata Munggu berasal dari kata amunggu. Kata amunggu yang berarti alungguh. Ini berarti Menempati, berkedudukan, atau bertempat tinggal. Di Hutan Beraban itulah beliau bertempat tinggal. Beliau berkedudukan dan dinobatkan sebagai raja.
Sejarah Desa Munggu erat kaitannya dengan kerajaan Mengwi. Jejak seperti pura dan nama banjar mencerminkan hal itu. Desa Munggu adalah warisan yang terikat kuat. Apakah Anda ingin mengetahui kisah Ki Pasek Gelgel Sumerta lebih lanjut?. (BP/CHA).










