WASHINGTON, Balipolitika.com- Amerika Serikat kini sedang menghadapi ancaman kehancuran ekonomi yang sangat serius dari dalam negerinya sendiri. Gelombang demonstrasi besar meletus di berbagai negara bagian akibat ketimpangan sosial yang semakin tajam. Rakyat mulai turun ke jalan untuk menuntut keadilan ekonomi di tengah ketidakpastian nasib hidup mereka.
“Amerika Serikat sedang menuju perang saudara karena pemerintah kembali membunuh warga sipil yang berprofesi sebagai perawat,” ujar Bennix dalam unggahan video terbarunya.
Kematian perawat Alex Pretty oleh agen federal memicu kerusuhan hebat di wilayah Minneapolis hingga saat ini. Toko-toko di pusat kota memilih tutup sementara demi menghindari amukan massa yang semakin beringas. Aktivitas ekonomi pada sektor ritel lumpuh total sehingga merugikan banyak pengusaha lokal di wilayah tersebut.
“Para CEO perusahaan besar seperti 3M dan Target mendesak pemerintah agar segera menurunkan tensi ketegangan keamanan,” ucapnya.
Laporan terbaru menunjukkan lebih dari tujuh ratus perusahaan besar di Amerika Serikat resmi dinyatakan bangkrut. Angka kegagalan bisnis ini merupakan catatan yang paling buruk dalam kurun waktu lima belas tahun terakhir. Tsunami pemutusan hubungan kerja kemudian menghantam satu juta pekerja dari berbagai sektor industri utama.
“Tingkat kebangkrutan perusahaan Amerika Serikat sekarang berada pada titik tertinggi akibat fenomena krisis kredit yang akut,” tutur Bennix menjelaskan situasi pasar.
Sektor teknologi dan ritel menjadi penyumbang terbesar dalam daftar panjang pengangguran baru di sana. Pemerintah pusat terlihat kesulitan menangani beban sosial yang timbul akibat kehilangan pekerjaan secara masif ini. Kebijakan moneter bank sentral justru dianggap memperparah kondisi keuangan perusahaan yang sedang berdarah-darah.
“Suku bunga tinggi yang bertahan lama menciptakan efek domino berupa lonjakan kasus gagal bayar utang perusahaan,” ungkap pakar ekonomi dalam analisisnya.
The Fed tetap mempertahankan suku bunga tinggi meskipun jutaan warga mulai kehilangan sumber pendapatan utama. Donald Trump merasa kebijakan bank sentral tersebut sengaja dilakukan untuk mencekik para pelaku usaha kecil. Perseteruan antara presiden dan gubernur bank sentral memicu ketidakpastian hukum di pasar modal global.
“Donald Trump tidak setuju dengan kebijakan suku bunga tinggi karena menghambat ekspansi bisnis para pengusaha domestik,” tegas Bennix dalam videonya.
Kondisi fiskal Amerika Serikat juga berada dalam posisi yang sangat kritis akibat defisit anggaran. Beban bunga utang negara kini telah melampaui total anggaran belanja militer yang sangat besar. Para ahli memprediksi pendapatan negara akan habis hanya untuk membayar bunga pinjaman pada tahun mendatang.
“Kita sedang menyaksikan titik nadir kematian sebuah imperium besar yang bernama Amerika Serikat dalam waktu dekat,” kata Bennix menutup penjelasannya. (BP/CHA).










