ANGIN PADANG ILALANG
Angin di padang ilalang itu
Bertiup menerbangkan bunga-bunga putih
Melayang ke rimba belantara
Nyanyian burung-burung kecil
Sayup-sayup terdengar
Dibisikkan angin selatan
Angin di padang ilalang itu
Mengusik ketenangan rimba raya
Tanpa sebuk sari bunga-bunga
Sepasang tonggeret mendendangkan siulan luka
Di bawah daun kuning menuju kering
Tubuhnya makin kerempeng.
Sekara, 18 November 2025
RUMAH KECIL DAN RUANG TAMU
Rumah kami kecil
Di atas tanah tak bersertifikat
Halamannya tak ada bunga-bunga
Tak ada aroma harum yang memikat
Selain apak tanah dibasahi gerimis
Rumah kami kecil
Tanpa sofa di ruang tamu
Jadi maaf, jika kau datang dengan tersenyum
Bersiaplah kecewa setelah kau duduk
Rumah kami kecil
Coba kami kemasi dengan ikhlas
Agar kecoa dan tikus tak bebas berlari
Meninggalkan bau-bau yang kubenci.
Sekara, 18 November 2025
MATAHARI LAHAT
matahari di negeriku
mengintip dari celah lahat
dambakan terang bintik cahaya
menerobos lubang nisan kepala
matahari di negeriku
dihimpit tanah berbau tanah
dari istana persekongkolan tikus-tikus rakus
yang begitu bangga dengan bau kencingnya.
Sekara, 17 November 2025
BANGKAI KATA
Ketika kata telah meninggalkan rasa
maka kata sudah terkubur
sepi tanpa nisan penanda
Ketika sudah kehilangan jiwa
maka kata akan membusuk
beraroma liat menebar bisa
Duhai engkau sang bangkai kata
masihkah mengira
kau sempurna menjadi dewa.
Sekara, 26 November 2025
UNTUK YANG PERGI
selalu saja ingin kutulis
rasa nyeri yang menumbuk hati
ketika nurani-nurani sejati itu pergi
selalu saja ingin kutulis
walaupun ku tau air mataku
tak kan dapat menjadi tinta
untuk mengisahkan luka.
Sekara, 29 September 2025
BIODATA
AHMAD MALIKI MASHAR. Lahir 1971. Semasa kuliah menulis puisi untuk untuk koran kampus Bahana Mahasiswa UNRI, dan surat kabar daerah. Sekarang mencoba menulis puisi untuk antologi bersama.













