KARYA SENI monumental selalu menghadirkan kekaguman dan pemikiran kritis. Di satu sisi, ukurannya yang raksasa membangkitkan rasa kagum. Di sisi lain, monumentalitasnya rawan dipersoalkan dari segi ekologis, sosial, dan ideologis. Octopus Queen, patung bambu berukuran raksasa karya I Ketut Putrayasa adalah contoh nyata paradoks ini.
Dengan tinggi 25 meter dan lebar 12 meter, patung bambu raksasa ini bukan hanya menorehkan Rekor MURI, tetapi juga menantang kita untuk berpikir lebih jauh. Apa arti seni monumental di era pariwisata global? Apakah ia sekadar ikon visual ataukah juga ruang refleksi yang lebih dalam?
Octopus Queen adalah patung bambu berbentuk figur wanita setengah badan. Dari kepalanya muncul tentakel gurita yang menjulur-julur. Kedua tapak tangannya mempersembahkan bunga teratai yang mekar. Patung ini secara simbolis menggambarkan sosok ratu gurita.
Patung tersebut terbuat dari kerangka baja yang dibalut dengan anyaman tiying (bambu) tali yang secara khusus didatangkan dari Bangli. Proses pengerjaannya memakan waktu sekitar lima bulan dengan melibatkan 400-an pekerja.
Dengan latar lautan luas, patung itu berdiri megah di atas tebing karang di kawasan Broken Beach (Pasih Uug), Desa Sakti, Nusa Penida, Klungkung, Bali. Patung itu seolah menyatu dengan panorama alam sekitarnya.
Tentakel gurita yang menjulur-julur dari kepala patung menghadirkan komposisi yang dramatis dan dinamis.
Tekstur anyaman bambu memberi kesan alami, sementara monumentalitas ukuran menjadikannya pusat perhatian para pengunjung.
Patung itu diperkirakan bisa bertahan hingga sepuluh tahun. Ini artinya patung tersebut monumental sekaligus rapuh. Namun, di balik kerapuhannya, patung itu akan selalu abadi dalam ingatan orang yang melihatnya.
I Ketut Putrayasa menamakan patung itu Octopus Queen. Gurita melambangkan kecerdasan, daya adaptasi, dan kekuatan. Dengan sembilan otak, gurita mencerminkan kemampuan merespons yang simultan. Hal ini bisa menjadi metafora bagi masyarakat yang harus tangguh menghadapi tantangan global. Sementara bunga teratai melambangkan harapan dan keteguhan hati, nilai spiritual yang sejalan dengan upaya-upaya menghargai alam dan kehidupan.
Secara simbolik, karya ini menyampaikan pesan optimisme. Meski dunia penuh gejolak di berbagai bidang, harapan tetap harus dijaga. Namun simbol ini juga bisa dibaca ganda, apakah harapan itu sungguh dimaksudkan untuk masyarakat lokal, ataukah sekadar narasi estetis yang mendukung branding pariwisata
Proses pengerjaan patung yang melibatkan ratusan orang memperlihatkan nilai gotong royong, salah satu inti budaya Bali yang kini terkikis oleh individualisme modern. Karya ini menjadi bukti bahwa seni bisa menjadi ruang kolaborasi dan pengikat sosial.
Namun, penggunaan enam truk bambu menimbulkan pertanyaan ekologis. Apakah seni yang berbicara tentang alam mesti mengorbankan alam? Selain itu, Nusa Penida sebagai destinasi wisata membuat karya ini tidak bisa dilepaskan dari fungsi ekonomi. Ia adalah karya seni sekaligus produk wisata. Di sisi lain, Octopus Queen patut diapresiasi karena keberanian artistik, inovasi material, serta kekuatan simbolik dan sosialnya.
Begitulah. Seringkali seni hidup dalam jaringan makna, institusi, dan ekonomi. Di sini, Octopus Queen juga hidup dalam logika pariwisata. Seni tidak hanya hadir sebagai ekspresi budaya, tetapi juga sebagai instrumen branding destinasi wisata.
Immanuel Kant pernah membedakan antara beautiful (indah) dan sublime (agung). Yang indah memikat dan menyenangkan. Sementara yang sublime menimbulkan kekaguman sekaligus kegentaran karena keagungannya melampaui kapasitas indera kita.
Octopus Queen bekerja pada ranah sublime. Ukurannya yang raksasa, berdiri di tebing dengan latar lautan luas, memunculkan pengalaman yang memukau dan perasaan kagum. Tetapi, berbeda dengan sublime alamiah (laut, gunung), Octopus Queen adalah sublime buatan, hasil tangan manusia yang meniru skala keagungan alam. Pertanyaannya, apakah keagungan buatan ini memperdalam relasi kita dengan alam, atau malah menggantikannya dengan sensasi artifisial?
Jean Baudrillard menekankan bahwa dalam masyarakat kontemporer, tanda-tanda sering menggantikan realitas yang memunculkan apa yang disebut dengan simulakra. Dalam pariwisata, pengalaman seringkali bukan lagi tentang realitas, melainkan tentang representasi yang dikemas.
Octopus Queen berpotensi masuk ke ranah simulakra. Patung bambu raksasa tersebut adalah representasi simbolik yang menarik perhatian. Wisatawan datang ke sana tidak hanya untuk menikmati panorama Broken Beach, tetapi juga untuk berfoto dengan patung raksasa itu. Realitas alam yang megah bisa tergeser oleh daya tarik representasi. Di sini, seni monumental berubah menjadi simulasi yang menguasai citra destinasi wisata itu.
Octopus Queen adalah karya yang kompleks. Indah sekaligus problematis, monumental sekaligus rapuh, spiritual sekaligus komoditas. Ia menghadirkan pengalaman sublime buatan, mengundang kagum, tetapi juga rawan jatuh ke dalam jebakan simulakra pariwisata. Namun justru di titik ambivalensi inilah makna terbesarnya hadir.
Karya ini bukan hanya patung bambu raksasa, melainkan interaksi antara seni, alam, budaya, ekonomi, dan masa depan. Tangan yang mempersembahkan bunga teratai itu adalah pengingat bahwa harapan harus dijaga, bahwa harmoni dengan alam harus diperjuangkan, dan bahwa seni tidak boleh kehilangan jiwa di tengah gelombang kapitalisasi.
Pada akhirnya, Octopus Queen mengajarkan kita bahwa seni monumental tidak hanya untuk dikagumi, tetapi juga untuk dikritisi. Ia juga menjadi renungan bagi kita semua. Apakah kita mampu menjaga makna di balik keindahan, ataukah kita hanya terpesona pada simulasi yang indah namun rapuh?***
*penyair dan penyuka seni rupa.













