BALI, Balipolitika.com – Perubahan cuaca hingga terjadinya cuaca ekstrem di Bali, ternyata tidak hanya karena perubahan iklim saja.
Hal ini menjadi bahasan di depan 50 orang jurnalis (cetak, online, dan TV), tatkala mengikuti Pelatihan Peningkatan Kapasitas Jurnalis Peliputan Bencana Alam yang Jawa Pos TV Bali- Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) adakan di Quest Hotel San Denpasar, Sabtu kemarin (4/10/2025).
Sekitar 6 jam, dipandu moderator Galuh Praba, mengikuti paparan para narasumber, mulai Kadis Lingkungan Hidup Provinsi Bali, Made Rentin. Kadek Setiya Wati dari Balai Besar Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Wilayah III Denpasar.
Putu Eka Tulistiawan (Stasiun Meteorologi Ngurah Rai Bali), I Made Dwi Wiratmaja (Stasiun Klimatologi Bali), dan Ni Luh Desi Purnami (Stasiun Geofisika Denpasar).
Kadek Setiya Wati menjelaskan perbedaan cuaca dan iklim. Ia menyebutkan, cuaca mengacu pada kondisi udara di sekitar sehari-hari yang lebih apesifik seperti cerah, hujan, dan lainnya.
Lalu ada iklim, yaitu rata-rata cuaca dalam jangka panjang. “Cuaca itu berubah seperti perempuan, sesuai moodnya, kalau iklim ibaratkan seperti lelaki polanya lebih stabil,” sebutnya.
Cuaca Ekstrem (cuek), sebenarnya adalah fenomena alam di mana terjadi kondisi yang tidak lazim sehingga dapat menimbulkan ancaman. Masuk dalam cuek, seperti angin kencang, puting beliung.
Lalu angin kencang jika sudah masuk cuaca ekstrm maka kecepatannya mencapai 45 Km per jam. “Bedanya jika puting beliung maka ada pusaran dari dasar awan cumulonimbus,” paparnya.
Angin kencang bisa berasal dari awan cumulonimbus tanpa pusaran, namun jika puting beliung maka akan ada ada corong udara di angin itu.
Lalu Siklon Tropis, badai besar menyebabkan awan cumulonimbus yang masif bisa menghasilkan tornado. Siklon Tropis terbentuk di lautan karena butuh kehangatan.
Selanjutnya, hujan lebat jika debitnya 50 mm dalam 24 jam. Jarak pandang ekstrem kurang 1.000 meter, seperti pernah ada hujan es di Kintamani.
Suhu udara ekstrem udara dingin apabila seluruh minimal 3 derajat celcius. “Cuek bisa memicu bencana hidrometerologi di Bali seperti banjir, tanah longsor, kekeringan, angin kencang, puting beliung, dan gelombang tinggi atau di atas 2 meter,” sebutnya.
Hal ini sering terjadi di Bali Selatan karena perbatassn dengan Samudera Hindia di selatan. Bahwa ancaman cuaca ekstrem melihat berbagai skala metereologi. Beberapa terkenal dengan sebutan El Nino dan La Nina.
El Nino biasanya membuat wilayah menjadi kering, La Nina membuat wilayah menjadi lebih basah. Kondisi suhu air laut menghangat, terutama di samudera ekuarotial pada El Nino. Nah La Nina kebalikannya.
Iklim di Bali
Made Dwi Wiratmaja, menjelaskan ihwal perubahan iklim di Bali. Total 118 titik pengamatan hujan di seluruh Bali, dan ada yang mengirimkan data hujan tiap 10 hari per bulan, bahkan sampai data pelosok di Nusa penida pun ada.
Cuaca, iklim, curah hujan, sifat hujan, dasarian, El Nino dan La Nina menjadi topik penting pembahasan. “Normal hujan jika nilai rata-rata hujan selama 30 tahun kalau kurang dari 30 hujan rata-rata hujan, kebiasaan hujan lah,” katanya.
Apabila hujan normal, maka tanaman padi akan bagus, hawa bagus, sayangnya kalau di atas normal alias ekstrem maka akan menyebabkan banjir, sementara kekeringan kalau hujannya di bawah normal.
Dwi menyebutkan, bahwa Bali terbagi menjadi 20 zona musim, hitungan ini dari tahun 1991 sampai 2020. Selama ini berpuluh tahun di Bali, terbiasa curah hujan tinggi pada Januari – Februari dan naik lagi pada bulan akhiran ‘ber’ yaitu November, Desember dan fluktuatif.
“Nah musim kemarau itu masuk di pertengahan tahun, Juni sampai September,” sebutnya. Kemudian curah hujan pun di 20 zona musim di Bali tentu berbeda-beda, ada yang tinggi, sedang dan rendah. Ini pun melalui pemantauan yang panjang. “Mungkin 2030 akan lebih banyak lagi zona hujannya,” imbuhnya.
Dwi mengatakan di Indonesia secara umum, ada pola hujan dan 4 faktor utama yang mempengaruhinya. Faktor global seperti El Nina dan La Nino, faktor lokal dan Monsoon. Namun fakta unik, bahwa El Nino dan La Nina tidak terjadi di Bali, tetapi terjadi di laut pasifik namun berdampak ke Indonesia dan Bali.
Sehingga saat masuk El Nino akan terjadi kering alias curah hujan menurun hampir tidak ada. Lalu saat La Nina, suhu muka laut akan panas di Bali sementara pasifik dingin sehingga terjadi hujan dan banjir di mana-mana. Ini ibarat seseorang yang kepanasan maka akan keluar keringat, keringat ini lah yang sama dengan hujan saat laut mulai menghangat dan panas.
“Kembali lagi, saat El Nino karena ada 20 zona berbeda, maka tidak semua tempat kekeringan, kami mendata semakin merah zona maka semakin kering,” jelasnya. Lalu kapan El Nino dan La Nina terjadi?
Ia menjelaskan El Nino terjadi pada Maret, April, Mei, dan La Nina pada bulan lainnya. Bali pun termasuk konsisten menerima dampak dari El Nino dan La Nina ini. Ia memberitahu, cara mudah melihat dua musim adalah tatkala masih ada layangan dan angin maka itu masih musim kemarau.
Namun anomali memang terjadi belakangan ini, karena suhu muka laut naik 1 persen. “Ketika angin kencang awan banyak, tetap gak hujan tetapi begitu ada belokan angin, awan ngumpul akhirnya turun jadi hujan dan belok di Bali pada 10 September 2025 kemarin,” sebutnya. (BP/OKA)









