SENIN MALAM, 30 MARET 2026. Di sebuah ruang yang sederhana namun sarat makna—Padepokan Bocah Angon, kediaman Dadang Wahyu Saputra di Balerejo, Kebonsari, Madiun—waktu seakan melambat. Diskusi bertajuk Kali Yuga Sangharsha tidak sekadar menjadi forum pertukaran gagasan, melainkan sebuah cermin tempat kami melihat wajah zaman. Kami tidak hanya berbicara tentang dunia, tetapi juga tentang kehilangan—yang perlahan menggerus makna kehidupan.
Diskusi bertajuk Kali Yuga Sangharsha malam ini tidak hanya menjadi ruang intelektual, tetapi juga ruang batin yang hangat dalam suasana Idul Fitri di bulan Syawal—sebuah momentum silaturahmi yang sarat makna saling memaafkan. Di antara percakapan yang mengalir tentang zaman dan krisis, kami duduk bersama dalam kesederhanaan, ditemani aneka jajanan lebaran yang masih tersisa melimpah di rumah Dadang Wahyu Saputra. Aroma kue-kue tradisional, tawa yang sesekali pecah, dan suasana cair tanpa sekat menjadikan diskusi ini tidak kaku—seolah mengingatkan bahwa di tengah beratnya wacana tentang konflik dan kerusakan dunia, manusia tetap membutuhkan ruang untuk kembali pada fitrah: saling menyapa, saling memahami, dan saling menguatkan.
Kali Yuga, dalam kosmologi Sansekerta, adalah zaman kegelapan. Sebuah fase ketika moralitas merosot, ketika kebenaran menjadi relatif, dan ketika manusia lebih sibuk membenarkan kepentingannya daripada mencari kebenaran itu sendiri. Sangharsha, konflik, menjadi denyut utama dari zaman ini. Kita menyaksikannya hari ini dalam bentuk perang, ketegangan geopolitik, dan fragmentasi kemanusiaan. Konflik antara Amerika, Israel, dan Iran, keterlibatan Rusia dan Cina, serta perang Rusia-Ukraina hanyalah puncak dari gunung es yang lebih dalam: krisis nilai yang melanda umat manusia.
Namun, diskusi malam itu tidak berhenti pada peta dunia. Ia bergerak lebih dekat, lebih intim—ke halaman rumah kita sendiri. Titus Tri Wibowo mengungkapkan bahwa kerusakan terbesar seringkali tidak kita sadari karena ia datang secara perlahan, menyelinap dalam kebiasaan sehari-hari. Ia berkata, “Peradaban tidak runtuh karena satu ledakan besar, tetapi karena kita terlalu lama berdamai dengan kerusakan kecil.” Pernyataan itu menggema, seolah mengingatkan bahwa krisis global selalu berakar dari krisis lokal.
Di titik itulah, kunang-kunang muncul dalam percakapan. Makhluk kecil yang dulu menjadi bagian dari malam desa kini hampir tak pernah terlihat. Kehadirannya dahulu bukan sekadar estetika, melainkan indikator ekologis: tanda bahwa air masih bersih, tanah masih subur, dan udara masih layak dihirup. Hilangnya kunang-kunang bukan sekadar kehilangan biologis, tetapi kehilangan simbolis—hilangnya harmoni antara manusia dan alam.
Bagus Yan Praptasani, dengan sensibilitas seorang musisi, menyampaikan sesuatu yang sederhana namun mendalam: “Kita telah menukar nyanyian alam dengan kebisingan mesin, dan kita mengira itu adalah kemajuan.” Kalimat itu membuka ruang refleksi yang dalam. Dalam obsesi kita terhadap produktivitas, efisiensi, dan pertumbuhan ekonomi, kita lupa bahwa ada harga yang harus dibayar. Pestisida yang meningkatkan hasil panen, insektisida yang melindungi tanaman, dan industrialisasi yang mempercepat produksi—semuanya membawa konsekuensi ekologis yang perlahan mematikan kehidupan lain.
Fenomena ini mengingatkan pada kritik tentang alienasi. Dalam konteks modern, manusia tidak hanya teralienasi dari pekerjaannya, tetapi juga dari alam. Kita tidak lagi melihat tanah sebagai ibu, melainkan sebagai objek eksploitasi. Kita tidak lagi mendengar suara alam, karena kita terlalu sibuk mendengar suara mesin.
Namun, lebih dari itu, kita juga mengalami alienasi spiritual. Friedrich Nietzsche pernah mengatakan, “Manusia adalah sesuatu yang harus dilampaui.” Dalam terjemahan bebas, ini bukan sekadar ajakan untuk berkembang, tetapi peringatan bahwa manusia yang tidak berefleksi akan terjebak dalam kekosongan makna. Kali Yuga bukan hanya tentang dunia yang gelap, tetapi tentang manusia yang kehilangan arah dalam terang buatan yang ia ciptakan sendiri.
Nuris Udzma dalam diskusi itu menambahkan dimensi yang lebih personal. Ia berkata, “Kita sering berbicara tentang menyelamatkan dunia, tetapi lupa menyelamatkan cara kita hidup di dalamnya.” Kalimat ini seperti tamparan halus. Kita terlalu sibuk mencari solusi besar, namun abai terhadap perubahan kecil yang sebenarnya lebih fundamental. Kita ingin mengubah dunia, tetapi tidak ingin mengubah diri.
Di sinilah letak paradoks zaman ini. Kita hidup dalam era dengan akses informasi yang tak terbatas, namun justru kehilangan kebijaksanaan. Kita memiliki teknologi yang mampu menjangkau luar angkasa, tetapi gagal menjaga keseimbangan di bumi. Kita membangun peradaban yang megah, tetapi lupa membangun kesadaran yang mendalam.
Kali Yuga Sangharsha bukan sekadar tema diskusi, melainkan realitas yang kita hidupi setiap hari. Konflik tidak hanya terjadi di medan perang, tetapi juga dalam diri kita sendiri—antara kebutuhan dan keserakahan, antara kemajuan dan keberlanjutan, antara akal dan nurani. Sangharsha adalah pertarungan yang tidak selalu terlihat, tetapi sangat nyata terasa.
Malam itu, di tengah percakapan yang mengalir, saya menyadari bahwa mungkin kita tidak bisa sepenuhnya menghentikan Kali Yuga. Namun, kita masih memiliki pilihan tentang bagaimana kita hidup di dalamnya. Apakah kita akan menjadi bagian dari kegelapan, atau menjadi cahaya kecil seperti kunang-kunang yang dulu kita rindukan?
Kunang-kunang mungkin telah menghilang dari sawah dan ladang kita, tetapi pertanyaannya adalah: apakah ia juga telah menghilang dari kesadaran kita? Apakah kita masih mampu melihat keindahan dalam kesederhanaan, atau kita telah terlalu terbiasa dengan kompleksitas yang kita ciptakan sendiri?
Jika zaman ini adalah zaman kegelapan, maka mungkin yang kita butuhkan bukanlah cahaya yang besar, tetapi keberanian untuk menyalakan cahaya kecil. Sebab dalam kegelapan yang paling pekat sekalipun, satu titik cahaya tetap memiliki makna.
Dan pada akhirnya, pertanyaan yang tersisa bukanlah tentang bagaimana kita mengubah dunia, tetapi bagaimana kita memahami posisi kita di dalamnya. Apakah kita masih mampu mendengar suara alam di tengah kebisingan zaman? Apakah kita masih memiliki ruang untuk refleksi di tengah arus percepatan? Ataukah kita telah sepenuhnya larut dalam Kali Yuga, tanpa pernah benar-benar menyadarinya. (*)
Fileski Walidha Tanjung adalah penulis dan penyair kelahiran Madiun 1988. Aktif menulis esai, cerpen, puisi di berbagai media nasional.










