DENPASAR, Balipolitika.com– Pasar Rakyat Bali, PPLH Bali, dan Rikolto melaksanakan panen perdana dan pengubinan demplot padi regeneratif di lahan milik I Nyoman Suparta (Pak Balok) di Munduk Batuaji, Subak Padang Galak, Desa Kesiman Kertalangu, Denpasar, Senin, 4 Mei 2026.
Panen perdana ini menandai tonggak penting dalam Program Sustainable Food Production for Healthy School Food Procurement yang didukung oleh The Rockefeller Foundation.
Demplot seluas 30 are ini mulai dikembangkan sejak Januari 2026 sebagai bagian dari upaya memperkenalkan praktik pertanian regeneratif kepada petani padi di kawasan urban dan periurban Bali.
Pendekatan ini berfokus pada pemulihan kesuburan tanah dan keseimbangan ekosistem tanpa ketergantungan pada input kimia, sekaligus menghasilkan beras yang lebih sehat dan aman dikonsumsi.
Hasil panen dari lahan demplot Pak Balok nantinya akan disalurkan langsung ke sekolah-sekolah dalam gugus Kesiman Kertalangu, sebagai bagian dari rantai pasok pangan lokal yang mendukung program makan bergizi bagi para siswa.
Ini merupakan wujud nyata dari model bisnis inklusif yang menghubungkan petani kecil dengan pasar institusional secara langsung dan berkelanjutan.
Kegiatan panen perdana ini dihadiri oleh berbagai pemangku kepentingan, termasuk Kepala Desa Kesiman Kertalangu, Pekaseh dan Pangliman Munduk se-Subak Padang Galak, Koordinator Majelis Subak Denpasar Timur, Direktur BUMDes, koordinator penyuluh pertanian, perwakilan PKK, serta petani dan kelompok tani setempat.
Turut hadir pula perwakilan dari Pengawas Sekolah Gugus Kesiman Kertalangu, PPLH Bali, Pasar Rakyat Bali, dan Rikolto.
“Banyak yang beranggapan pertanian regeneratif hanya cocok untuk lahan pedesaan yang luas. Kegiatan ini membuktikan sebaliknya. Di tengah kota pun, lahan yang ada bisa dikelola secara regeneratif dan menghasilkan pangan sehat yang langsung bisa diakses oleh masyarakat sekitar,” ucap Nonie Kaban, Kepala Program Rikolto.
Selain prosesi panen, kegiatan juga mencakup pengubinan —proses pengukuran hasil produksi padi secara teknis— yang dilakukan oleh Tim PPLH bersama petani sebagai sarana edukasi dan dokumentasi produktivitas lahan demplot.
Perbekel Kesiman Kertalangu, Made Suena menyampaikan apresiasinya atas pelaksanaan program tersebut di wilayahnya.
“Tentu desa Kesiman Kertalangu sangat berterima kasih dijadikan pilot project pertanian regenerative ini, selain untuk mempertahanan subak yang tinggal 90 hektar juga memberikan ketahanan pangan warga saya juga termasuk sarana penyaluran kompos dari TPS 3R kami,” katanya.
Program ini merupakan bagian dari inisiatif yang lebih luas yang sedang diimplementasikan di tiga wilayah di Indonesia: Bali, Jawa Barat, dan Jawa Tengah melalui dukungan Rockefeller Foundation.
Di Bali, kolaborasi antara Rikolto, Pasar Rakyat Bali, dan PPLH Bali menjadi model kemitraan multi-pihak yang menempatkan petani sebagai pelaku utama dalam sistem pangan kota yang lebih inklusif, tangguh, dan berkelanjutan.
Rikolto adalah organisasi internasional yang bekerja bersama petani kecil dan pelaku rantai pangan untuk membangun sistem pangan yang lebih berkelanjutan dan inklusif.
Di Indonesia, Rikolto berkantor pusat di Denpasar, Bali, dan bekerja di 9 propinsi di Indonesia melalui Program Kota Cerdas Pangan, Beras Berkelanjutan, dan Kopi dan Kakao Berkelanjutan.
Pasar Rakyat Bali adalah pasar rakyat berbasis komunitas yang menghubungkan petani lokal dengan konsumen perkotaan melalui rantai pasok pangan yang pendek, transparan, dan berkeadilan.
Sementara PPLH atau Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup (PPLH) Bali adalah lembaga yang bergerak di bidang pendidikan dan advokasi lingkungan hidup dengan fokus pada pertanian berkelanjutan dan ketahanan ekologi lokal. (bp/ken)













