Nulipara
aku meraba-raba diriku sebagai wujud yang cacat, menelusuri lorong waktu, menemui dua pintu yang saling mengintip dari kejauhan, cahaya tak pernah mengizinkanku untuk melihatnya. gumpalan darah dari dinding sunyi tempat doa dan kata terpantul, kupelihara ia seperti benih tanpa tanah; lalu berguguran sebelum sempat menyebut namanya sendiri
dan aku bertanya apakah kehidupan hanya sekadar menunggu dibatalkan, atau ketiadaanku selalu kembali ke kehampaan yang sama— takdirku belum sempat dicetak, rahim semesta pun lupa menamai anaknya
2025
Barangkali Rindu Tak Bisa Kusemai
Rindu adalah hujan yang menjatuhkan ujungnya paling tajam; menusuk kita
Kau pernah taburkan benih agar tumbuh jadi payung, jadi pelindung
Tapi hujan lebih dari amuk dan gelegar guruh
Kita terhempas, dengan lengan-lengan yang tak lagi bertautan
2025
Klandestin
Wahai sang penyendiri
Aku ingin kembali dengan percakapan-percakapan dahuluku
Dunia yang kuciptakan
Ialah setumpak parunan
Yang melintang dan terbuang
Hanya ada kalut yang carut marut
Hanya ada carut yang berpagut lutut
Tersaruk-saruk sebuah cerita
Melangut semu kalbu beliak
Wahai sang penyendiri
Di memoar bahasa ini
Aku trauma dengan kata kabar
Aku jera dengan sifat sabar!
2025
Mengikhtisarkan Kehidupan
Pagi ini aku hanya ingin merinding dan merenung
Ada beribu-ribu makna di depan sana; terlihat luka kehidupan meringis dari sinar pucat pagi yang tidak punya matahari
Aku datang perlahan dengan melepas perpisahan yang masih tertahan. Lalu sajakku menjadi hidup dalam kebuasan lain
Sementara kematian menjadi tidur paling nyenyak untuk sementara waktu — memastikan untuk tidak lupa bahwa dalam mimpi hanya satu hal yang paling aku ingat; aku harus segera bangun untuk menyimpulkan hidup di setiap perjalanan
Karena semua hal adalah hal lain; asing
Kepura-puraan yang tidak bernama, dan sekarang aku memilih berdiam dengan diri sendiri
Barangkali di setiap keinginan manusia, ada waktu murung yang panjang. Maka aku berdoa, semoga ketidakberdayaan manusia bisa sungguh mencintai ketidakberdayaan yang lain
Hidup sungguh menyentuh yang rapuh dan aku ingin bangun dari keterpurukan manusia-manusia yang lemah karena keluhan, aku ingin senyumku terlepas dan bisa menyelesaikan hidup tanpa tergesa-gesa
Aku percaya; dalam gemetar jiwa
Tuhan menyeru untuk kembali
Lewat puisi; kutaruhkan hidupku
Untuk mengingat dan berkontemplasi
2025
Apologia Untuk Tuhan
Tuhan. sekiranya aku belajar
Dari jalanan, hutan
Sungai, gunung, laut, danau
Hingga quasar-Mu
Sebab ciptaan-Mu lebih berfungsi
Daripada hambamu yang bermalas-malasan kini
2025
BIODATA
Rifqi Septian Dewantara asal Balikpapan, Kalimantan Timur Mei 1998. Karya-karyanya tersebar di beberapa media online dan buku antologi bersama. Kini, sedang menggarap buku puisi Aku Tidak Datang dari Masa Depan (Langgam Pustaka, 2025).













