DENPASAR, Balipolitika.com– Meski papan larangan masih terpajang, faktanya jalur hijau tinggal kenangan di sepanjang Jalan Hayam Wuruk dan Jalan Hang Tuah, Denpasar.
Jika dulu bangunan beton dibangun sembunyi-sembunyi jauh di dalam di antara rindang pepohonan, kini warga setempat terang-terangan mendirikan rumah hunian maupun akomodasi bisnis.
Endingnya, menyempitnya jalur hijau yang tak sekadar berfungsi mempercantik wajah kota, namun merupakan elemen vital paru-paru kota, peredam polusi udara, daerah resapan air, dan ruang interaksi masyarakat ini kembali berbuah petaka.
Usai banjir besar di bulan September 2025, “mampetnya” ruang ekologis di sepanjang Jalan Hayam Wuruk dan Jalan Hang Tuah, Denpasar kembali berbuah pahit bagi warga Jalan Cempaka Putih, Sanur, Denpasar.
Selasa, 24 Februari 2026, warga setempat kembali kebanjiran untuk yang kesekian kalinya.
Pantauan di lapangan, gorong-gorong yang melintas di bawah Jalan Hang Tuah Denpasar menjadi salah satu pemicu karena tidak mampu mengalirkan volume air besar hingga akhirnya meluber ke pemukiman warga di Jalan Cempaka Putih.
Belum diketahui dengan pasti kerugian yang diakibatkan oleh banjir kali ini di Kota Denpasar, khususnya Jalan Cempaka Putih.
Namun, berdasarkan sejumlah dokumentasi yang diterima tim redaksi, selain rumah, tampak sejumlah kendaraan bermotor warga, baik mobil maupun sepeda motor terendam.
Flashback, menyikapi kondisi banjir September 2025, aparatur pemerintah setempat sejatinya sudah melakukan normalisasi Sungai Cempaka Putih sebelah timur berkat CSR dari BRON Cafe.
Normalisasi menyikapi pendangkalan yang berpotensi menimbulkan banjir beberapa bulan silam ini dihadiri oleh pihak Kecamatan Denpasar Timur, Kelurahan Kesiman, dan Desa Sumerta Kelod, termasuk Kepala Lingkungan Kebon Kuri, Jumali Sumerta Kelod, serta Satgas Kebersihan Kelurahan Kesiman. (bp/ken)













