MAMUIT
: untuk J
I
toreh keningku
dengan bija dari ibu jari
atau ciuman dari lipatan bibirmu
—sekali lagi bila mungkin.
langit tak berawan,
namun bercahaya temaram.
kudengar para wanita tua
melantunkan mamuit
dan membongkar rasa sakit.
seratus jendela di rongga dadaku
terbuka, menyambut bau dupa
membedaki aroma kematian
di udara.
II
katamu,
hari terbaik untuk meletakkan
jasadmu ke petulangan
ialah hari ketika kembali
kuhidu debu dari tanah lahirmu.
demikian aku datang menziarahi
kenangan: tubuh yang terbaring
kekuningan. tubuh yang ditanam,
dijaga, dan kini dimandikan dengan
kidung pitra yadnya.
sang Indra segera pergi,
tersisalah kebajikan.
III
kukantungi Tuhan yang kukenal
ketika kukenakan selop, saput, dan udeng:
semua yang telah kau siapkan untukku bersiap
menyaksikan harapan kian gagap.
api dan asap mengepung
mimpiku tentangmu yang sebatas jasad,
melulu jasad. apa arti tulang dan daging
bila hari depanku sisa abu yang geming?
mataku periuk retak,
mengalirkan tanya dan doa.
kisik api suarkan kenangan
yang hangus dalam petulangan berkukus.
di kaki awan, kau tunggangi lembu hitam itu
sambil membaca pedih mata
yang gagal dirumuskan aksara tua.
kau baca pasrah sebelum lubang langit
terbuka dan lekas kau masuki nirwana.
hari ini, lewat api dan asap,
aku takkan lagi bertanya.
sebab Tuhan takkan lekas menjawab.
IV
larung abuku beserta tarian.
tari macam apa yang kau mau
untuk nganyut-mu? langgam macam apa
yang mampu melatari gerak tubuh
selain pupuh bernada rapuh?
di laut, entah beku atau berlepasan,
sendi-sendiku gagu.
sehelai angin mendarat di tenguk,
seperti dua ibu jarimu kerap membaca
ketegangan hari pada urat leherku.
kau urai dan lenturkan kembali waktu.
di sudut terjauh pantai, seraya
saksikan keluarga melepas abu,
jemariku terbuka, menjemput wajah sederhana itu,
lengan sawo matang, serta perbincangan nasib
yang terlalu dini raib.
entah aku angin atau kau udara
atau suaramu ombak, yang meneguh-goyahkan
pijakanku pada pasir; entah gerak lambat
atau awan berpindah terlampau cepat,
kupulangkan sisa ingatan dari liang tergelap
usia, yang kini dimurnikan dengan tarian.
dengan tarian!
usai sudah kematian.
air mata yang kemudian tumbuh
ialah kejujuran yang jatuh pada gelombang,
tak menambah air pasang.
V
tiap perpisahan adalah kelahiran baru,
isak tangis sang bayi, dan matahari pagi.
mataku kembali belajar membagi
warna dan cahaya, dalam gelap dan terang:
melulu tentang dunia.
namun, harus habis puisi ditulis.
harus bersih diksi dikikis.
kelak, ketika ibu jarimu
menorehkan bija atau mendaratkan
ciuman di keningku; ketika dua ibu jari itu
melenturkan waktu di leher dukaku,
saat itu aku tahu: harus aku yang akan
melepasmu lebih dulu.
aku tahu,
aku selalu tahu.
sang Indra mencintai dan segera pergi
tersisalah kidung kesedihan
Banjarmasin, November 2024
Catatan:
Bija: Beras yang dibasahi dan ditempelkan di kening setelah peribadatan.
Mamuit: Kidung atau tembang suci dalam tradisi adat Bali.
Petulangan: Tempat pembakaran mayat dalam upacara Ngaben di Bali yang berbentuk binatang-binatang tertentu atau peti sederhana.
Pitra Yadnya: Upacara keagamaan Hindu untuk memuliakan leluhur yang telah meninggal.
Saput: Kain bawahan dalam busana adat Bali.
Udeng: Ikat kepala.
Nganyut: Prosesi melarungkan abu jenazah ke laut.
Pupuh: Tembang tradisional yang biasa dilantunkan dalam upacara adat atau kegiatan sehari-hari.
KELAHIRAN
aku tak dapat mengatakan
apa yang dapat menyelamatkan.
pintu-pintu berpernis kediaman
para perawi, tak kuketuk.
bayangan wajah lebih dulu
memuai dalam urat kayu.
namaku kebisuan–pemberontakan
yang sebaiknya tak ditularkan.
peradaban tak melahirkan,
tapi meneteskan noktah tinta
dalam lembar-lembar pengakuan.
usai sudah cerita:
nama-nama yang memalsukan
tabiat malam.
maka,
kembali kuakarkan kaki
pada batu-batu. membiarkan air gunung
membaptis bahasa yang kusenyapkan
dalam mulut pendoa ibu.
guruh yang tak berasal dari
mendung–suara siapakah?
bayi menangis dicampakkan
alam rahim–suara siapakah?
Banjarmasin, Desember 2025
PENJAGA GAPURA
: untuk Y
ke mana kau membawaku?
kau menjaga gapura
bertatah ratusan patung garuda.
pagi hingga siang merajut jala angin
bagi para pelancong tersesat.
siang hingga malam, kau mangsa
kata-kata dari mulut penasaranku.
demikian kau paku pasrah masa kanak
dan rasa percayaku pada tiang bakaran.
kau didihkan wawasan tentang inti perjalanan ini.
pelan hanguskan tiap pukau dan kecewa
pada kota tuamu, yang jadi titik semayam
para dewa.
dan kau berserah diri jadi bidikan mata api,
mengunyah tubuh remajaku dengan lidah
warisan banaspati.
di altar waktu,
abu mimpiku menatapmu. apa makna bercita-cita
ketika kubaca silsilah darah pada tubuhmu,
yang menolak dinihilkan api?
usiaku bersegera dinihilkan tanah
dalam kenduri ribuan cacing dan belatung.
ingin kutanyakan,
kenapa harus wajahmu yang meriak
dari ingatan dalam ketuban, setelah
malaikat tanpa nama memahat janinku
dengan serampai doa selamat?
penjaga gapura,
kukecup lelah dan takutmu pada api.
sebab pagi nanti ratusan patung garuda
harus kembangkan sayap. dan kau pilin
udara jadi angin untuk menjala renjana.
kutemui kau di depan gapura
dari sabak bunyi gamelan di udara
beraroma dupa. kau tuntun aku masuk
ketika warna langit membusuk. aku hanya
punya wajah masa kanak dan usia belia
yang kerap berontak.
penjaga gapura,
ke mana kau membawaku?
kulihat jilatan api.
Gianyar-Banjarmasin, November 2024
PENYAIR LOUISE
sekali lagi,
aku pulang menuju taman terjauh:
putih daster rumahan seorang istri,
kuning asing kelopak segala bunga
mekar senjakala.
aku pulang; ia menyiangi semua warna
yang dapat dinihilkan tebasan parang.
mana keringat mana air mata bias
dalam jingga remang.
kebisuan melebar sebagai hitam
di langit, coklat tanah di kuku,
mulut terkatup yang mendongak
pada titik borok liang hati.
kelopak bunga sepatu gugur.
sesuatu pecah di mata saat
semak mawar termerah dicabut
belitan akarnya dari peluk tanah.
aku pulang dalam segala guncang
dan bising lokomotif yang bekerja
seperti rahim merindu sumpal
memualkan tubuh lelaki,
yang menanggalkan tubuhnya
dari tubuhmu–berjalan keluar kamar
sebagai hantu rumah tangga,
menyanggah tiap simbol alam
yang kau pakai dalam puisi.
penyair,
di mana taman terjauh untuk bernaung?
kuseka percakapan masa tua:
akar mawar termerah telah tengadah
di atas tanah. kau tengadah menunggu
waktu layu sebab akar telah dicabut
dari pelukan tererat di atas ranjang.
untuk apa Eden pernah dicipta,
tanyaku.
kau menatap titik terjauh.
Banjarmasin, Desember 2025
PENYAIR TANAH DATU
penyair,
dari mana asal suaramu?
air mata tanah dan dengung mantra
yang bergema dalam bait-bait dendam
dan luka artifisial itu semata dibudidaya
dalam aplaus; melulu aus dalam kilau
medali–kau sasar dengan kepala
penuh hafalan ritus.
masih tak senyap suara gergaji mesin
membuka lahan-lahan baru; masih
tak senyap raung pemukim banjir
kehilangan rumah dan harta benda
sebagai jangkar ingatan.
benar kau tuliskah tulah padatuan
yang bermukim di alam maya
atau kain kuning semata sapu tangan
menyeka debu dari lencana nama
di dada kemeja?
hari ini,
puisi menjelma arca dalam etalase
sebuah museum. mamang diarak
dalam perebutan piala.
satu tarikan napas pembacaan cepat
tiga bait langsung: tanah adat diperalat.
ulat-ulat musim mengelu satu nama
nabi palsu:
akulah! akulah! akulah!
tulah tersesat dalam angin.
apa memburu siapa ketika
gunung meratap gundul
dan syair-syair oportunis
tumbuh subur?
penyair,
dari mana asal suaramu?
tak ada bahasa yang kukenal di situ.
bahasa dari waktu kita belum
menjelma ada.
Banjarmasin, Desember 2025
Catatan:
Padatuan: Leluhur
Mamang: Mantra
KARMA
I
adakah cara lain
melepas karma yang menyala
sebagai daging merah delima
di tubuh tulahan trauma?
semata tubuh.
kuingat janin luruh
dari rahim saudari batin.
tidur tertunda jadi erang
dan otot kejang–tubuh
yang mendamba pembuangan,
bukan kelahiran.
darah mengucur, mata
memejam rapat, pelan terbuka.
mencari-cari wajah Tuhan
atau siapa pun, meludahkan tangis
pada detik-detik krisis.
trauma rahim ialah arwah tembuni
yang kelak membunuhnya dalam tidur
atas utang keingkaran. sebelum itu,
harus dilunaskan satu putaran
kehidupan.
II
budak belian mengajariku
berdoa dalam tulisan
dengan punggung
penuh luka:
bisukan sakit saat kutabung
keping demi keping pelarian
menuju pelunasan puncak erang
serta puncak geming hari-hari
tanpa rencana.
kelahiran, kuminta kelahiran.
bukan pembuangan. karma
yang berakhir lepas dari kelempai
tubuh pasrah. topeng masa muda
kikis jadi lecir wajah sang martir.
ini ziarah luka. pulang menuju
cerita yang lebih dulu ditulis
sebelum dunia dilumpuhkan bahasa.
di rumah batu,
tahun-tahun berlalu. cat dinding
kikis dilapukkan musim dan aku
tak ingin lagi mengingat sakit.
Banjarmasin, Desember 2025
UBUD
aku sampai pada titik tuju
yang sempat kuhapus dari peta pelarian.
Ubud,
siangmu nyalang mata seratus penari.
malammu angin ratusan tahun dan sisa dupa
dengan asap tersesat pada dingin yang gamang.
canang sari kini terabai di tepi jalan.
penjor masih melengkung sehabis Galungan.
angkul-angkul terbuka, seratus patung Ganesha
menilik dari tiap aling-aling. Barong menyalak,
matanya menyigi puisi dari pena yang geming.
ratusan lelaki memahat kota dan sudut pura
untuk upacara Piodalan ketika malam temaram.
para turis berlalu-lalang, menghilangkan
alamat rumah dari tujuan pulang.
penglihatanku tergagu. belum dikusamkan
debu di atas kantung mata itu.
Ubud,
aku tak tahu apa yang kucari.
hanya melangkah, terus melangkah:
kaki yang haus dengan persendian mimpi
yang aus.
kunihilkan tiap petunjuk jalan
seperti ayah menihilkan kepulangan
dalam rencana kepergiannya yang singkat,
hingga rangka rumah dimamah ngengat.
Ubud,
aku tak tahu apa yang kucari.
mondar-mandir dengan kepala mabuk kenangan
dan rencana kematian.
tapi, di tubuh kotamu kukendurkan temali
yang bertahun mengikat. kuputus ingatan
jadi jarak terjauh kata-kata kunci
pada catatan takdir, yang selalu terlambat dicatat.
Ubud,
aku flaneur yang menunda-nunda tidur.
tak pernah benar-benar tahu apa yang kucari.
tentang bagaimana tiap memori
harus berakhir jadi puisi.
Ubud-Banjarmasin, November 2024
Catatan:
Canang Sari: Perlengkapan keagamaan umat Hindu di Bali untuk persembahan harian.
Penjor: Tiang bambu yang tinggi dan melengkung di bagian ujungnya, yang dihiasi janur kuning dan pernak-pernik lain.
Angkul-angkul: Pintu gerbang dalam rumah tradisional Bali.
Aling-aling: Pembatas antara gapura pintu masuk dengan pekarangan rumah maupun tempat suci yang berfungsi sebagai penetralisir dari gangguan negatif.
BIODATA
Muhammad Irwan Aprialdy, lahir di Banjarmasin, 28 April 1995, adalah penulis, pengajar, dan pekerja teater yang aktif sejak 2010. Ia menyelesaikan studi S-1 Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di FKIP Universitas Lambung Mangkurat. Karya-karyanya berupa puisi, cerpen, serta naskah lakon telah tersebar di berbagai media dan dimuat dalam sejumlah antologi sejak 2011 hingga 2025. Saat ini bekerja dan bermukim di Kota Banjarbaru.













