PELUKAN-PELUKAN YANG KITA LEPASKAN KEMARIN
adalah pertanyaan-pertanyaan yang kita kurung
dalam sangkar dada lalu menjelma burung-burung kenari.
barangkali untuk waktu yang lama atau bahkan
lebih lama dari itu. dan kita bawa selalu ke mana
pun kaki hendak melangkah. menjauh, mendekat,
atau menetap. berharap burung-burung itu tetap hidup.
selamanya bernyawa tanpa merasa khawatir mereka
akan mati kehausan atau dingin kelaparan. sama halnya
dengan pertanyaan-pertanyaan itu sendiri yang dirawat
baik seperti anak-anak kucing yang dibuang induknya
tapi ditemukan oleh manusia baik hati yang tak bosan-
bosannya jatuh hati setiap hari pada mereka, anak-anak
kucing liar itu. sebab semua yang berlalu memang sebuah
pengelanaan diri. pergi yang jauh, tapi tetap pulang
ke dalam diri sendiri. persis seperti pelukan-pelukan
yang kita lepaskan kemarin. mereka mengembara
mencari-cari, mengusahakan ingatan baik tetap berada
di dalam kepala. sampai tiba waktunya pertanyaan demi
pertanyaan itu terdengar seperti alunan musik pengantar
pagi hari yang tenang. yang berbisik lembut, yang mengusap
dada gamang bagai ikan kecil lupa cara berenang.
“apa kau masih ingat, pelukan itu begitu lekat sampai
sepanjang tahun, bertahun-tahun aku selalu berdebat dengan
diri sendiri. apakah nanti aku akan menemukanmu lagi.
memiliki sentuhan itu ke dalam puisi-puisi yang kutulis
setiap kali burung-burung kenari mampir berteduh
melepas risaunya di pohon kersen dekat jendela kamarku?”
2025
KARENA CINTA AKU MENCINTAI PENDERITAAN INI
karena cinta,
maka aku mencintai
penderitaan ini;
sama halnya ketika aku mencintai
keberadaanmu yang tak henti-henti
menyirami seluruh bunga tidurku.
yang kusemai pada pukul tujuh malam
dan mekar jam lima pagi. dengan jutaan bulir
kata-kata indah sebagai pupuk yang sehat
agar aku lebih kuat dan ikhlas tatkala
bangun dan merangkum seluruh nyawa kehidupan.
bahwa kau tak pernah mengucapkan kalau kau
juga mencintaiku, bahkan tak pernah ada yang
disembuhkan dari rangkaian sejarah luka ini.
sebab aku sebenarnya mencintaimu dalam
kesendirian. dalam rasa khawatir dan takut kalau
aku tak lagi bisa menemukan penderitaanku
waktu tidur. karena aku tahu kau sebetulnya tak
pernah ada.
hanya aku yang
mencintai diriku
sendiri.
sendirian.
2025
MENATAP LANGIT DI KEJAUHAN TIMUR
aku menyukai langit sisi timur
cahaya mekar seperti bunga-bunga mutabilis
yang putih suci bagaikan bayi surga yang baru saja
dilahirkan ke dunia yang berantakan ini;
perjalanannya sehari penuh adalah perayaan besar,
mati merah muda, ke langit yang kesumba.
bukan berarti aku tak menyukai langit sisi barat.
aku mencintai rasa kehilangan
tapi aku tak menginginkan setiap perpisahan.
yang datang kenapa harus pergi
yang mencintai kenapa harus patah hati
tak bisakah satu kali bahagia tanpa harus
meratapi bekas luka yang sembuh tapi masih pedih?
aku berulangkali menatap langit di kejauhan timur
yang sebetulnya tidak apa-apa, selain pergerakan awan-awan
dan harapan-harapan kecil yang seringkali semerbak
seperti bunga-bunga yang mekar di senja hari saat
langit sisi barat menyanyikan lagu-lagu yang menyembuhkan;
dalam dan mengharukan.
2025
DENGUNG
maka jadilah lebah,
yang menjelajah hingga jauh
hingga rindu.
lelah tak menganiaya
kepak sayapnya. sebab ia paham
ada perjalanan panjang
yang harus ditempuh. tanpa duka
semua ini pasti bukan apa-apa.
karena tak ada cinta yang mekar
yang tak memulihkan derita.
sesuatu yang manis sedang menunggu
di masa depan. seorang kekasih mungkin
atau taman-taman bunga yang semerbak
di suatu tempat yang jauh. di mana kelak
kita mendengungkan kegembiraan
dari lembah ke lembah, dari dadamu
ke dada kekasihmu yang sedang menunggu
sebotol madu dari perjalanan cinta
seekor lebah.
2025
MENGGUNTING LANGIT
ingin rasanya kugunting sepotong langit
untuk kukirimkan kepadamu. di sini
cuaca terik, tapi merindukanmu
dadaku terasa sejuk. senja tidak membuat
hatiku sedih, meski ada yang rapuh
di dalamnya. langit seperti dipenuhi
bunga-bunga anyelir. aku ingin sampai
kepadamu dengan berjalan kaki.
menyusuri kota demi kota, menulis
puisi-puisi pada tiap lembar daun
yang gugur di pagi hari. ah, andai
bisa kukirimkan selembar langit di sini
untukmu. ingin kukemas seluruh
perasaanku untuk pulang ke rumahmu;
ke tempat yang paling kuinginkan
di alam semesta ini. kuharap di planet jauh
pun ada versi kau yang tetap ada aku di sana.
2025
BIODATA
M.Z. Billal, lahir di Lirik, Indragiri Hulu, Riau. Seorang Guru Sekolah Dasar. Menulis cerpen, cerita anak, dan puisi. Bukubukunya yang telah terbit berupa novel remaja berjudul Fiasko (2018), kumpulan puisi berjudul Cara Kerja Perasaan (2022), dan kumpulan cerpen berjudul Sebuah Tempat di Tepi Lelap (2022). Karya-karyanya juga dimuat di berbagai media cetak dan digital seperti kompas.id, Jawa Pos, Suara Merdeka, Kedaulatan Rakyat, bacapetra.co, dll, serta sejumlah antologi nasional.













