Catatan Si Penanak Nasi
Aku hanya penanak nasi
di sudut ruang dalam rumah ini.
Tapi kupunya indera mata juga telinga
memantaumu di kala terjaga.
Kulihat takaran beras kau tumpahkan ke dalamku
kini tak lagi seramai bulan-bulan lalu.
Kudengar helaan napasmu di depan rak bumbu
terpaku pada wadah cabai yang semakin pemalu.
Katamu pada suami, “Tak apa, besok kita nyambel terasi saja”
padahal kutahu kau rindu pedasnya sambal bawang.
Tuan rumah datang menagih sewa
kau bilang “Sabar ya, Pak, tunggu tanggal muda”.
Tanggal muda datang lantas bergegas pergi
membayar utang juga janji-janji
menyisakan pedih hingga gigit jari.
Aku hanya penanak nasi
dan kutahu kehangatan yang kau cari
bukanlah berasal dari dalam tubuhku ini.
Yogyakarta, Juli 2025
Doa di Ujung Bulan
Tuhan,
gajiku baru saja datang bertamu
tapi ia sudah berkemas untuk pulang.
Katanya banyak sekali ongkos yang ditanggung
untuk menuju ke depan pintu rumahku.
Harga sembako di pasar seperti anak tangga
naik searah tanpa sudi menoleh ke bawah.
Seragam sekolah anakku mulai sesak
tetap kupakaikan walau ia terasa susah gerak.
Saat malam kuambil kerja tambahan
sekadar menjahit atau mengantar pesanan.
Punggungku kini hafal rasanya pegal
mataku akrab dengan kantuk yang nakal.
Tuhan,
jika rezeki memang tak pernah salah alamat.
Bolehkah Kau selipkan sedikit bonus
di antara jahitan lembarku malam ini?
Setidaknya cukup tuk beli beras satu kilo lagi.
Yogyakarta, Juli 2025
Seni Gali Lubang
Setiap pagi aku menggali lubang
dengan cangkul bernama kebutuhan
lubang untuk listrik, lubang untuk air
lubang untuk sekolah, lubang untuk dapur.
Setiap sore aku menutup lubang
dengan tanah bernama penghasilan
tanah ladang utama, tanah kebun pekarangan
semua kutimbun, kuratakan dengan harapan.
Sayangnya, lubang baru selalu muncul semalaman
lahir dari kebijakan kenaikan harga yang tak diundang.
Kata mereka, ini demi pertumbuhan bangsa
tapi yang tumbuh di halaman rumahku
justru lubang-lubang yang semakin menganga.
Dan aku adalah seniman gali lubang paling setia.
Yogyakarta, Juli 2025
Deru Motor Ayah
Deru motor Ayah jadi alarm malam hari
bagi anak-anak yang terlelap dalam mimpi.
Ia letakkan jaket ojeknya di punggung kursi
membawa sebungkus martabak sisa kemarin.
“Gimana tadi nariknya, Yah?” tanya Ibu pelan.
Ayah tersenyum kecil, senyum yang isyaratkan lelah
seperti ban motornya yang mulai aus.
“Alhamdulillah, cukup buat bayar cicilan panci”.
Ia usap kepala anaknya yang tertidur
teringat janji akan belikan mainan baru.
Sebuah janji yang ia cicil dengan keringat
dari satu orderan ke orderan berikutnya
hingga malam mulai larut.
Ayah tak pernah mengeluh soal beban.
Ia selalu pastikan saat pagi datang
di meja makan tersaji nasi hangat.
Meski punggungnya sendiri masih dingin oleh penat.
Yogyakarta, Juli 2025
Kebijakan X
Di televisi, seorang pejabat berpakaian jas rapi
bicara soal stabilitas ekonomi hingga prestasi negeri.
Grafiknya naik, angkanya hijau semua
katanya rakyat kini lebih sejahtera.
Di dapur, Ibu mematikan kompor gas
hanya cukup untuk merebus dua bungkus mi instan
Telur dadarnya satu, nanti dibagi empat
“Syukurlah,” kata Ibu, “negeri kita hebat”
Sedangkan Bapak, di ruang tamu tertawa kecut
membaca berita yang muncul di gawainya.
“Kebijakan X Demi Kesejahteraan Rakyat”
judulnya tertulis begitu megah dan indah
seolah kebijakan tiada celah.
Tawa Bapak bukan tawa bahagia
tawa spontan saat bingung juga pasrah.
Memilih untuk berteman saja
apalah daya, kami rakyat biasa.
Yogyakarta, Juli 2025
BIODATA
Maria Utami, seorang ibu rumah tangga asal Kota Yogyakarta yang aktif menulis puisi. Baginya, tidak ada kata terlambat untuk terus berkarya. Beberapa karyanya ada yang terpilih dan dimuat dalam buku antologi puisi. Sebagian naskah puisi lainnya juga sudah terbit di sejumlah media literasi digital. Dapat didukung atau disapa melalui akun Instagram: @maria.oetami.













