Informasi: Rubrik Sastra Balipolitika menerima kiriman puisi, cerpen, esai, dan ulasan seni rupa. Karya terpilih (puisi) akan dibukukan tiap tahun. Kirim karya Anda ke [email protected].

PuisiSastra

Puisi-Puisi Akhmad Sekhu

Ilustrasi: Gede Gunada

 

Tentang Keberangkatan

Apakah keberangkatan harus selalu dikatakan?
Jalan terus saja ke depan. Tidak perlu ragu
Waktu bergegas begitu sangat terburu-buru
Menderaskan rindu di ujung gang yang lurus itu

Mungkin sisa percakapan semalam masih kau simpan
Dalam lipatan kenangan. Ada bayang yang datang
Menjelang keberangkatan serupa ragu membelenggu
Sementara kereta terdengar sebentar lagi akan tiba

Stasiun Pasar Senen, Jakarta, 2023

 

Rapsodi Pertemuan

Ada yang sangat berkesan dari sisa kegembiraan pertemuan
Semalam. Ada kata serupa peristiwa penting dalam sejarah
Sebuah keistimewaan sebagai bentuk perhatian kasih sayang
Ada senyuman mengembang tak pernah hilang dari ingatan

Pertemuan sangat mendadak yang tak pernah direncanakan
Sebelumnya. Kau muncul tiba-tiba seperti sebuah keajaiban
Dari sekian banyak orang yang datang dalam acara semalam
Kau adalah pemeran utama yang menjadi pusat perhatianku

Percakapan demi percakapan dalam rangkaian kegembiraan
Masa silam yang dibicarakan akan jadi kenangan masa depan
Adapun masa depan yang dibicarakan akan menjadi keindahan
Terpatri dalam hati kita selalu tersimpan rapi sepanjang ingatan

Akan selalu aku ingat pertemuan ini melebihi peristiwa apapun
Sensasi artis, gonjang ganjing politik, pergantian kepimpinan
Tak akan ada yang mampu menandingi hangatnya kebersamaan
Kita berdua, betapa kebersamaan kita ingin abadi seribu tahun lagi

Masih hangat ingatan kesan dari sisa kegembiraan pertemuan
Semalam. Sebuah pertemuan indah yang tak akan terlupakan
Masa lalu dan masa depan menyatu dalam sebuah kebersamaan
Kita berdua yang tentu tak ingin berlalu begitu saja dari ingatan

Pengadegan, Pancoran, Jakarta Selatan, 2023

 

Rapsodi Kampung Halaman

Daun-daun berguguran memaknai satu demi satu teman
Masa kecil pergi. Ada yang pamit pergi merantau ke kota
Setelah lulus SD tak lanjutkan sekolah, inginnya langsung
Kerja tanpa pengalaman bergelut dengan kerasnya kehidupan

Ada yang telah pergi untuk selama-lamanya karena sakit
Tak terobati. Karena hidup adalah sebuah pertarungan
Ada yang menang, tapi ada yang menyerah langsung kalah
Bagaikan persaingan laron berebut cahaya gemerlapan

Bagi yang belum pergi masih punya kesempatan panjang
Menyeberangi kenangan dan harapan, betapa perjuangan
Tak segampang seperti kita membalikkan telapak tangan
Karena jalan kehidupan memang harus terus dilanjutkan

Sudah tak ada yang masih bertahan di kampung halaman.
Semuanya telah pergi menempuh jalan hidupnya sendiri
Hari-hari yang telah mengalir seiring takdir yang bergulir
Semuanya berjalan sesuai suratan Tuhan yang tentukan

Daun-daun berguguran, terus berguguran, mengenang
Teman-teman masa kecil pergi. Kita masih belum khatam
Membaca tanda-tanda zaman begitu banyak pertanyaan
Kehidupan memang penuh misteri yang tak terpecahkan

Jatibogor, Suradadi, Tegal, 2023

 

Rapsodi Alun-Alun

Alun-alun begitu sepi dari pengunjung, bahkan
Masyarakat tak bisa lagi berkerumun di alun-alun
Pagarnya terlalu kokoh untuk dirobohkan demonstran
Juga terlalu pilu untuk dirindukan atau didambakan

Zaman modern ini orang-orang lebih suka ke mall
Daripada alun-alun yang menutup diri dikunjungi
Entah kenapa alam semakin berjarak dengan manusia
Seperti ada jurang yang dalam bernama keterasingan

Jangan lupakan sejarah, kita masih ingat, berpuluh tahun
Yang lalu, orang-orang berduyun-duyun ke alun-alun
Menyamakan visi, mempersatukan tujuan. Ingin lepas
Dari belenggu penjajahan yang membatasi kehidupan

Apa yang dapat kita banggakan dari sebuah kesepian
Alam benda tanpa hati nurani yang begitu ketat dipagari
Tak ada tegur sapa, apalagi saling berbagi kebahagian
Semuanya datang-pergi begitu saja tak ada persinggahan

Alun-alun begitu sepi dari pengunjung, begitu kesepian
Bunga-bunga yang mekar tak bisa sebarkan wewangian
Keindahan kini hanya menjadi sarana tempat untuk selfi
Foto diri orang-orang kesepian tanpa ada kebersamaan

Kota Tegal, 2023

 

Rapsodi Sahabat

Sahabat bagi penyair adalah kata-kata tanpa akhir
Selalu menemani dalam keadaan suka, apalagi duka
Penglipur lara yang tak pernah tinggalkan nelangsa
Karena kebersamaan akan selalu diutamakan

Saat sahabat dikhianati, ia paling pertama membela
Berteriak keras untuk mempertahankan hak-haknya
Kebenaran didekapnya erat-erat seperti kekasih
Tak tergoyahkan dalam keadaan apa pun juga

Sahabat bagi penyair adalah obor penerang kehidupan
Terang-benderang dalam setiap kali kesempatan
Selalu saja menjadi alamat untuk tempat curhat
Dinamika sebuah pergaulan yang berbuah manis

Ketika sahabat terpuruk, ia paling utama menghibur
Kata-katanya menjadi anggur yang lupakan derita
Tak henti-hentinya memotivasi untuk bisa bangkit
Karena kehidupan memang harus diperjuangkan

Sahabat bagi penyair adalah kata-kata tanpa akhir
Tak pernah berakhir, selalu setia dalam kebersamaan
Tak pernah berubah mengarungi perkembangan zaman
Tak pernah mati diuji begitu hebat hakekat sahabat sejati

Pengadegan, Pancoran, Jakarta Selatan, 2023

 

BIODATA

Akhmad Sekhu lahir 27 Mei 1971 di desa Jatibogor, Suradadi, Tegal, Jawa Tengah. Buku puisinya: Penyeberangan ke Masa Depan (1997), Cakrawala Menjelang (2000), Memo Kemanusiaan (2022), Indonesia Negara Paling Puitis di Dunia (Manuskrip). Memenangkan Lomba Cipta Puisi Perguruan Tinggi se-Yogyakarta (1999) dan Pemenang Favorit Sayembara Mengarang Puisi Teroka-Indonesiana “100 Tahun Chairil Anwar” (2022).

Gede Gunada lahir di Desa Ababi, Karangasem, Bali, 11 April 1979. Ia menempuh pendidikan seni di SMSR Negeri Denpasar. Sejak 1995 ia banyak terlibat dalam pameran bersama. Ia pernah meraih penghargaan Karya Lukis Terbaik 2002 dalam Lomba Melukis “Seni itu Damai” di Sanur, Bali; Karya Lukis Kaligrafi Terbaik 2009 dalam Lomba Melukis Kaligrafi se-Indonesia di kampus UNHI Denpasar.

Berita Terkait

Back to top button

Konten dilindungi!