“KAMU itu sudah terkena pelet sehingga tidak bisa melupakan perempuan penari itu.”
Suara ayahnya menggelegar. Menghantam kuping Markudut, sang anak yang mematung duduk di kursi tamu rumah mereka. Sementara sang ibu menatap tajam ke arah sang anak yang diam bak patung.
Malam makin meninggi seiring cahaya rembulan yang mulai menaiki langit. Suara ayah dan ibunya pun makin meninggi seiring kekecewaan yang melanda hati mereka sebagai orang tua.
“Sebagai orang tua , kami sungguh sangat kecewa denganmu. Sangat kecewa,” ungkap sang ayah dengan nada suara berat.
“Apa sih yang kamu harapkan dari perempuan itu? Kok kamu bisa budeng banget sama perempuan penari itu,” sambung ibunya.
“Kayaknya kamu sudah terkena guna-guna perempuan itu. Coba kamu mandi air pelicek sebagaimana petuah orang tua dulu,” saran ibunya.
Markudut tetap terdiam. Tidak ada suara yang keluar dari mulutnya. Mulutnya terkunci rapat. Bak koruptor yang tertangkap tangan oleh KPK. Tidak mau menjawab pertanyaan para jurnalis.
Ingatan Markudut menerawang jauh. Sangat jauh. Perkenalannya dengan Marfuah, seorang perempuan telah meluluhlantakkan jiwanya. Markudut, seorang lelaki yang lugu, kini terbuai dengan pesona Marfuah.
Marfuah adalah seorang gadis. Usianya sekitar 40 tahunan. Profesinya adalah seorang penari. Gerakan tubuhnya saat menari di atas panggung sangat luwes. Memesona para penyaksi. Tidak heran bila tangan-tangan jahil berusaha menjamahnya dengan saweran. Suara-suara nakal membisikkan hamparan harapan di telinganya.
Pesona kecantikannya tak tertandingi. Kemasyhuran namanya sebagai penari menembus hingga ke kampung-kampung terluar. Bahkan mampu menaklukkan hati para pembesar dari berbagai pelosok untuk blusukan ke kampung demi melihat dirinya tampil di atas panggung.
“Aku heran kok penari itu belum menikah?” tanya seorang teman Markudut saat mereka menonton pertunjukan Marfuah menari dalam sebuah acara di pendopo kecamatan.
“Padahal wajahnya cantik. Tariannya sangat memesona. Dan tidak mungkin tidak ada lelaki yang mencintainya,” sambung teman Markudut lainnya.
“Atau… Jangan-jangan, penari itu yang tidak mau menerima cinta dari para lelaki,” sahut teman Markudut lainnya sembari tertawa.
Markudut hanya terdiam mendengar celotehan kawan-kawannya. Jiwa mudanya menggelora. Dia mulai berangan-angan bisa menjadi orang yang dicintai penari itu. Ya, menjadi lelaki pilihan hati Sang Penari. Impian Markudut tampaknya bukan sekedar angan-angan semata.
Entah bagaimana ceritanya, usai menari di pendopo kecamatan malam itu, penari idola kaum pria itu meminta Markudut untuk mengantarnya pulang ke rumahnya. Tawaran istimewa itu tidak disia-siakan Markudut. Sementara semua mata memandang ke arahnya yang membonceng Sang Penari meninggalkan pendopo kecamatan.
“Sungguh beruntung Markudut,” ujar temannya.
“Mimpi apa semalam kawan kita itu,” sambung temannya yang lain.
“Malam ini malamnya Markudut, Kawan,” ucap temannya yang lain. Mereka mengangguk kepala.
Dan ini adalah untuk pertama kalinya Markudut sebagai lelaki dewasa membonceng seorang perempuan. Baru kali ini. Sebelumnya tidak pernah sama sekali. Kecuali membonceng ibunya saat minta antar ke pasar untuk berbelanja.
Tak heran, bila kegugupan melanda sekujur tubuhnya saat mengendarai sepeda motor. Apalagi saat Sang Penari melingkarkan tangannya ke pinggangnya membuat tubuh Markudut menjadi gemetar. Sekujur tubuhnya pucat. Badannya terasa dingin. Keringat mengucur deras. Membanjiri sekujur tubuhnya.
Tidak heran pula bila sepanjang perjalanan menuju rumah Sang Penari, motor yang dikendarai Markudut menjadi tidak stabil. Markudut ibarat bak orang yang baru belajar mengendarai sepeda motor. Padahal semenjak Sekolah Menengah Atas, dirinya sudah mengendarai sepeda motor saat berangkat sekolah. Demikian pula saat kuliah, sebuah sepeda motor siap mengantarkannya ke kampus.
Itu adalah malam yang menjadi awal lengketnya hubungan dua anak manusia. Markudut selalu mengantar Marfuah saat pertunjukan menari dan menjemput Marfuah usai pertunjukan menari. Setiap hari, lelaki muda itu selalu berada di rumah Marfuah. Pulang ke rumah saat cahaya rembulan mulai menuruni langit.
Dan sejak malam itu pula, perseteruan dirinya dengan keluarganya yang sangat menentang hubungan dirinya dengan Marfuah dimulai. Hubungan dirinya dengan Marfuah bukan hanya mendapat tantangan dari ayah dan ibunya semata.
Suara cibiran datang dari semua warga kampung. Semua membicarakan hubungan dua anak manusia itu. Seolah-olah dengan membicarakan kisah asmara antara sang penari dengan seorang anak muda, sejenak mereka melupakan kehidupan sehari-hari mereka yang makin teramat sulit.
“Dunia mau kiamat,” ujar Roi seorang warga kampung saat beberapa para warga berkumpul di sebuah warung kopi yang terletak di ujung kampung.
“Lho, memangnya kamu sudah dapat ciri-cirinya?” tanya seorang pengunjung warung kopi penuh tanya.
“Apa kamu pikir Markudut mencintai Marfuah bukan salah satu ciri dunia ini mau kiamat?” jawab Roi sembari menyeruput kopi.
“Apa salahnya kalau mereka mau menikah? Marfuah masih gadis. Markudut bujangan?” tanya pengunjung warung kopi yang memakai baju kaos bergambar calon bupati.
“Tidak ada yang salah. Ini soal kepantasan saja. Perbedaan usia mereka terlalu jauh. Bak bumi dan langit. Marfuah itu layaknya jadi kakak Markudut, bahkan ibunya Markudut. Bukan calon suaminya,” jelas Roi.
Sontak, para pengunjung warung kopi terdiam mendengar penjelasan Roi.
Di saat cahaya rembulan sudah di atas kepala, di teras rumah Marfuah, wajah Markudut tampak lesu. Wajah lelaki muda itu menampakkan sebuah kegalauan jiwa. Tidak biasanya.
Selama ini, saat berada di teras rumah Sang Penari itu, jiwanya selalu berbungkus kebahagiaan. Jiwanya dibaluri kegembiraan.
Jawaban yang diberikan Marfuah malam itu, telah membuat hatinya luka. Teriris-iris. Jiwanya mati. Tidak ada lagi yang membahagiakan dirinya.
“Kita tidak mungkin menikah. Usia kita, profesi aku dan keluargamu adalah penyebab semua itu,” terang Marfuah kepada Markudut.
“Kamu menolak cintaku?” tanya Markudut.
Marfuah tersenyum. Memandang ke arah Markudut. Senyum penuh pesona ditaburkannya. Senyum yang selalu membuat lelaki berbunga-bunga.
“Wahai, anak muda. Hidup ini bukan soal cinta semata. Ada faktor lain yang tidak bisa menyatukan kita,” jawab Sang Penari. Hatinya pun terkoyak saat mengucapkan kalimat itu.
“Jadi kamu mempermainkan aku selama ini?” tanya Markudut penuh selidik.
Marfuah menggelengkan kepala. Dia teringat dengan nasehat ibunya beberapa waktu lalu. Matanya menatap rembulan. Terlihat cahaya rembulan menerangi wajah cantiknya. Suaranya kembali terdengar. Menghantam jiwa muda Markudut.
“Kamu masih muda. Masih terbentang luas kehidupanmu. Masih panjang perjalananmu, anak muda. Kita bersahabat saja. Anggap saja aku ini kakakmu,” ujar Marfuah lirih.
Mendengar jawaban Marfuah, dada Markudut bergemuruh. Emosinya tidak terbendung. Suaranya meninggi.
“Dasar perempuan jalang. Kerjanya cuma bisa mempermainkan hati para lelaki. Aku tidak sudi lagi bertemu denganmu,” teriak Markudut sembari meninggalkan rumah Marfuah dengan suara emosi yang membalut tubuhnya.
Langkah kakinya bergegas meninggalkan rumah Marfuah. Ingin rasanya dia menyampaikan dengan segera kepada kedua orang tuanya, bahwa dirinya tidak memiliki hubungan istimewa lagi dengan Sang Penari yang bernama Marfuah itu. Ingin rasanya dengan segera dia mengabarkan berita istimewa itu kepada kedua orang tuanya.
Toboali, Maret 2026
Catatan kaki:
Budeng ( bahasa Toboali): Mencintai seseorang atau tergila-gila dengan lawan jenis.
Pelet: Sejenis ajian yang membuat seseorang tergila-gila kepada lawan jenisnya.
Air pelicek: Air comberan
BIODATA
Rusmin Sopian adalah penulis yang berkehidupan di Toboali, Bangka Selatan. Cerpennya tersebar di berbagai media massa lokal dan luar Bangka Belitung.













