BULELENG, Balipolitika.com– Anggota MPR/DPD RI B-67, Ni Luh Putu Ary Pertami Djelantik hadir membawa semangat membara di SMA Taruna Mandara, Buleleng, Minggu, 14 Desember 2025.
Dipandu moderator I Gusti Ngurah Ayu Trisna Widyaningrum, S.Pd. dan didampingi Komisioner Komisi Perlindungan Anak Daerah Provinsi Bali, Ida Bagus Made Adnyana, S.H., Niluh Djelantik menyampaikan materi bertajuk “Membangun Generasi Kuat, Berkarakter, dan Berintegritas: Empat Pilar Kebangsaan, Anti-Rasisme, Anti-Bullying, dan Seksualitas Sehat untuk Remaja”.
Niluh Djelantik menilai remaja SMA berada pada fase krusial yang menentukan arah perkembangan karakter, identitas diri, moralitas, serta kemampuan mereka dalam berinteraksi secara sehat di masyarakat.
Di tengah era digital dan modernisasi yang berlangsung cepat, para pelajar menghadapi spektrum tantangan baru yang lebih kompleks dibanding generasi sebelumnya.
Tantangan tersebut meliputi meningkatnya potensi rasisme, intoleransi, perundungan (bullying) dalam berbagai bentuk, serta paparan konten, dan perilaku seksual yang tidak sesuai usia.
Ungkapnya isu-isu tersebut tidak hanya memengaruhi kesehatan mental dan perkembangan emosional remaja, tetapi juga berdampak pada lingkungan sekolah, terutama sekolah dengan pola pembinaan berkarakter disiplin seperti SMA Taruna Mandara.
Lingkungan yang ideal seharusnya menjadi tempat aman dan bebas dari kekerasan, namun remaja kerap menghadapi tekanan sosial, dinamika kelompok, dan struktur hierarki yang dapat memperkuat perilaku diskriminatif atau perundungan apabila tidak dipahami secara benar.
Niluh Djelantik menekankan dalam konteks ini, empat pilar kebangsaan menjadi dasar moral dan etika yang relevan untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari pelajar.
Pertama, Pancasila mengajarkan kemanusiaan, persatuan, keadilan, serta penghargaan terhadap martabat manusia. Ini menjadi fondasi untuk menolak segala bentuk rasisme, diskriminasi, kekerasan, dan pelecehan.
Kedua, UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945 menjamin hak warga negara, termasuk hak anak untuk mendapat perlindungan dari kekerasan fisik, psikis, seksual, dan sosial. Hal ini memberikan pemahaman hukum bagi siswa mengenai batas perilaku dan konsekuensi tindakannya.
Ketiga, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) menekankan persatuan dan integritas nasional. Relevan bagi pelajar dalam membangun solidaritas, disiplin, serta rasa tanggung jawab sebagai generasi penerus bangsa.
Keempat, Bhinneka Tunggal Ika menguatkan pentingnya menghargai perbedaan suku, agama, warna kulit, latar budaya, dan identitas personal. Ini adalah nilai inti dalam membangun sekolah yang toleran dan bebas rasisme.
“Di sisi lain, perkembangan teknologi digital membuka ruang pergaulan yang luas tetapi rentan. Remaja sangat terekspos pada cyberbullying, body shaming, ujaran kebencian, stereotip rasial, hingga eksploitasi dan grooming seksual. Tanpa edukasi yang jelas, remaja dapat salah memahami batas antara interaksi sehat dan perilaku berisiko,” jelas Senator RI perempuan pertama asal Pulau Dewata, Bali tersebut.
Sementara itu, Komisioner KPAD Provinsi Bali, Ida Bagus Made Adnyana, S.H. memberikan pemahaman mengenai perlindungan anak, literasi seksualitas sehat, batas tubuh (body boundaries), consent, dan mekanisme pelaporan ketika terjadi pelanggaran.
“KPAD memiliki mandat untuk memastikan setiap anak mendapatkan lingkungan yang aman, bebas kekerasan, dan mendukung tumbuh kembang optimal,” jelas IB Made Adnyana.
Melalui kegiatan Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan yang dikaitkan dengan isu rasisme, bullying, dan seksualitas sehat, siswa SMA Taruna Mandara diharapkan dapat (1) memahami nilai kebangsaan secara kontekstual; (2) mengaitkannya dengan tantangan kehidupan modern; (3) membangun empati dan toleransi; (4) mencegah dan menghentikan perilaku diskriminatif atau merugikan; (5) serta bertumbuh sebagai generasi yang berkarakter kuat, disiplin, dan bertanggung jawab.
“Kegiatan ini bukan hanya bersifat edukatif, tetapi juga merupakan investasi moral untuk mencetak generasi muda Bali dan Indonesia yang cerdas, berintegritas, bertanggung jawab, dan siap memimpin dengan nilai-nilai luhur kebangsaan,” tandas Niluh Djelantik.
Secara rinci, IB Made Adnyana memaparkan tentang anti-rasisme dan penghargaan terhadap keragaman yang mencakup apa itu rasisme?, dampaknya terhadap mental, integritas, dan persatuan bangsa, serta peran pelajar dalam mencegah rasisme.
Narasumber juga mengulas upaya pencegahan bullying di sekolah dan menjabarkan bentuk-bentuk bullying, yakni verbal, fisik, sosial, siber.
Para siswa SMA Taruna Mandara pun diperkenalkan kiat atau cara mencegah dan menghentikan bullying sekaligus diberikan pemahaman tentang peran teman sebaya sebagai pelindung, bukan pelaku.
Yang menarik perhatian audiens, IB Made Adnyana juga mengulas perihal seksualitas sehat dan perlindungan anak untuk remaja.
Para siswa diajak memahami tubuh dan batas aman alias body-boundaries, apa yang boleh dan tidak boleh (consent), etika pergaulan di media sosial, dan ketentuan hukum terkait perlindungan anak.
Dalam kesempatan itu, IB Made Adnyana menggarisbawahi tentang penyalahgunaan seksual, yang mencakup tanda-tanda, risiko, dan pencegahannya.
Sebagai penutup Niluh Djelantik merinci setidaknya ada 6 poin tujuan kegiatan sosialisasi bertajuk “Membangun Generasi Kuat, Berkarakter, dan Berintegritas: Empat Pilar Kebangsaan, Anti-Rasisme, Anti-Bullying, dan Seksualitas Sehat untuk Remaja”.
Pertama, memberikan pemahaman komprehensif tentang Empat Pilar Kebangsaan sebagai pedoman sikap dan perilaku.
Kedua, mencegah rasisme, diskriminasi, dan ujaran kebencian di lingkungan sekolah.
Ketiga, menguatkan kesadaran siswa tentang bahaya bullying dan cara menciptakan lingkungan sekolah yang aman.
Keempat, memberikan edukasi seksualitas yang sehat, aman, dan sesuai norma perlindungan anak.
Kelima, membantu pelajar memahami batas tubuh, consent, serta risiko kejahatan seksual.
Keenam, membentuk karakter pelajar yang berintegritas, toleran, disiplin, dan menghargai keberagaman.
“Kegiatan ini merupakan momentum penting untuk memperkuat karakter pelajar SMA Taruna Mandara sebagai generasi penerus bangsa yang disiplin, bermoral, dan menghargai keberagaman. Dengan pemahaman empat pilar kebangsaan serta edukasi anti-rasisme, anti-bullying, dan seksualitas sehat, diharapkan lahir generasi muda yang kuat secara mental, cerdas secara sosial, dan berintegritas sebagai warga negara Indonesia,” tutup Niluh Djelantik. (bp/ken)













