DENPASAR, Balipolitika.com- Membuka tahun 2026 ini, Teater Sastra Welang Bali meluncurkan “Kidung Capung”, buku puisi teranyar karya penyair Wayan Jengki Sunarta.
“Kidung Capung” yang merangkum 50 puisi ini ditulis dari tahun 2021 hingga 2025 menjadi kado ulang tahun ke-50.
Pada usia setengah abad ini, Jengki merasa puisi masih memberkati kehidupannya dengan segala keindahan dan kepiluan.
Untuk itulah ia selalu berterima kasih kepada puisi.
Buku yang terdaftar terbit November 2025 ini menampilkan perwajahan sampul berupa lukisan apik karya perupa Nyoman Wirata.
“Kidung Capung” adalah sebuah perjalanan batin Wayan Jengki Sunarta dalam menatap hidup, memunguti kehilangan demi kehilangan, namun tetap setia menjadi pemuja keindahan.
Buku ini bukan sekadar kumpulan puisi, melainkan semacam catatan perjalanan seorang manusia yang telah menempuhsetengah abad usia dengan kesadaran puitik yang matang.
Teater Sastra Welang selaku penerbit memandang karya ini lebih dari sekadar teks puisi.
Ini adalah semacam pertunjukan batin; setiap puisi seperti adegan yang bisa dilihat, didengar, dan dirasakan.
Di dalamnya, bahasa bekerja seperti cahaya yang menyorot panggung waktu, sementara keheningan menjadi musik yang mengiringinya.
Penerbit menyaksikan bagaimana Jengki berdiri di keseimbangan antara keindahan dan kehancuran, antara liris dan lirih, antara cinta dan pedih, antara renungan spiritual dan tajamnya kritik-kritik sosial yang ia lemparkan.
Sepeninggal Umbu Landu Paranggi, Jengki tak mau menyerah maupun kalah; ia memilih untuk senantiasa berjuang.
Ia tetap melanjutkan napas, denyut, dan cita-cita Sang Guru, melanjutkan baktinya dengan terus menulis, terus menggali, terus mengeksekusi, hingga titik akhir nanti.
Kini, di usia 50 tahun, Wayan Jengki Sunarta menatap dunia dengan tatap pandang jernih, seperti embun pertama yang jatuh di pagi hari, Ning!
Puisi-puisi dalam buku ini adalah upaya untuk berdamai dengan waktu, sekaligus perlawanan terhadap segala ketimpangan carut-marut dunia.
Ia menulis agar sastra senantiasa menggema, agar kata mampu menyembuhkan luka.
“Kidung Capung adalah catatan kecil tentang bagaimana saya menjalani, menghayati, dan merenungi kehidupan ini. Buku ini mengajak pembaca untuk berhenti sejenak di tengah keriuhan dunia, meresapi puisi demi puisi, seperti menatap kilau sayap-sayap capung di tepi senja. Mungkin dari sana kita menemukan kembali makna sederhana dari hidup yang sungguh fana,” ungkap sang penyair dalam siaran persnya.
“Bagi kami di Teater Sastra Welang menerbitkan Kidung Capung adalah sebuah kehormatan. Ini bukan semata perayaan ulang tahun seorang penyair, melainkan perayaan atas daya juang, daya hidup seni itu sendiri, semangat yang bertahan di tengah dunia yang makin riuh dan tergesa, semangat yang bertahun-tahun bersemayam di tubuh dan pemikiran seorang Wayan Jengki Sunarta,” papar Moch Satrio Welang.
Wayan Jengki Sunarta meraih sejumlah penghargaan, antara lain Krakatau Award 2002 dari Dewan Kesenian Lampung, Cerpen Pilihan Kompas 2004, Cerpen Terbaik Kompas 2004 versi Sastrawan Yogyakarta, Nominator Lomba Naskah Monolog Anti Budaya Korupsi se-Indonesia 2004, Nominator Anugerah Sastra Majalah Horison 2004, Anugerah Widya Pataka dari Gubernur Bali (2007), Longlist KhatulistiwaLiterary Award (2010), Lima Belas Nominator Sayembara Buku Puisi Yayasan Hari Puisi Indonesia (2016 dan 2019), Sebelas Terbaik Lomba Cipta Cerpen dan Puisi Nasional yang digelar Disparbud DKI Jakarta dan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2019), Nominator Penghargaan Sastra Badan Bahasa (2020), Penghargaan Bali Jani Nugraha 2020 dari Gubernur Bali, Penghargaan Buku Puisi Terbaik dari Yayasan Hari Puisi Indonesia 2021 untuk buku puisi Jumantara. (bp/ken)













