BADUNG, Balipolitika.com– Ratusan mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) yang sedang menjalani Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Bali berkumpul di Sanggar Kagama Bali, Rabu, 6 Agustus 2025.
Mereka mengikuti acara perpisahan yang digelar Keluarga Alumni Gadjah Mada (Kagama).
“Kami ingin menyampaikan terima kasih karena adik-adik sudah ikut membangun Bali, khususnya di pedesaan,” kata Ketua Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada (Kagama) Provinsi Bali, I Gusti Ngurah Agung Diatmika.
“Harapannya pengalaman itu menjadi kenangan indah dan menjadi bekal bila nanti benar-benar terjun ke masyarakat setelah lulus,” sebut notaris senior asli Desa Dalung, Kecamatan Kuta Utara, Kabupaten Badung ini.
KKN UGM berlangsung sekitar 50 hari di mana mahasiswa asal universitas negeri pertama yang didirikan Pemerintah Indonesia pasca kemerdekaan pada 19 Desember 1949 itu dibagi dalam sejumlah kelompok dan disebar di Kabupaten Tabanan, Badung, Buleleng, Gianyar, dan Karangasem.
Sebelum terjun ke lokasi, mereka merancang proposal kegiatan sesuai kondisi desa dan potensi keilmuan yang dimiliki, antara lain di bidang peningkatan kualitas infrastruktur desa, penanganan sampah, pengembangan desa wisata hingga dukungan untuk mengatasi masalah-masalah kesehatan.
“Kami dari Kagama Bali memberikan dukungan dengan menyediakan jaringan kerja sama dengan alumni di Bali,” ungkap Agung Diatmika.
Salah satu mahasiswa UGM, Bramastya Maheranta dari kelompok Kembara yang ditempatkan di Tegallalang Gianyar mengatakan bahwa program KKN itu membuat mereka menjadi lebih mengenal Bali dalam kehidupan keseharian.
“Kami merasa senang karena sebelumnya hanya mengenal Bali sebagai wisatawan. Jadi tidak benar-benar mengenai Bali, tapi kami sekarang melihat Bali dengan perasaan yang berbeda karena seperti memiliki keluarga disini,” sebut mahasiswa Teknik Mesin UGM Angkatan 2022 itu.
Sumiarto, Dosen Pembimbing Lapangan KKN UGM di Bali menyampaikan penghargaan setinggi-tingginya bagi Kagama Bali yang telah memberikan dukungan penuh pada program ini.
“Program ini bertujuan agar mahasiswa bersentuhan dengan problem masyarakat yang paling bawah dengan kondisi riilnya dan nanti kalau mereka memiliki posisi dalam masyarakat tidak akan lupa dengan pengalaman itu,” jelas Sumiarto.
Sumiarto menambahkan mahaiswa UGM diharapkan tidak hanya memiliki pengetahuan yang didapat dari kampus, melainkan juga harus memiliki soft skills untuk bergaul dan berkomunikasi dengan warga sehingga akan selalu mempertimbangkan kondisi rill di lapangan saat kelak menekuni profesi masing-masing selepas dari kampus.
“Bonusnya, biasanya ada saja nanti setelah 2-3 tahun. Saya menerima undangan pernikahan dari mahasiswa yang berada di kelompok yang sama,” kelakarnya. (bp/ken)













