MANDA menutup buku lusuh yang baru saja selesai dibacanya. Buku itu, warisan dari seorang guru tua yang dulu pernah singgah di desa, sudah retak di bagian punggungnya, tapi bagi Manda tetap tampak seperti pintu untuk menuju dunia lain. Ia menekan sampul buku dengan kedua telapak tangan, lalu menarik napas dalam-dalam, menahan udara seakan di sana ada ketakutan untuk meredam gemuruh yang tak berhenti dari dalam dirinya. Bibirnya bergetar, doa meluncur tanpa suara.
Jantungnya berdegup cepat. Ia sendiri tak tahu apakah yang bergetar di sana adalah rasa takut, atau justru semacam gairah rahasia yang tak sanggup ia beri nama.
Di luar, badai menari di atas atap rumah kayu. Angin menghantam dinding, menghempas daun jendela hingga berderit seperti suara orang tua yang letih. Hujan turun deras sekali menciptakan suara-suara yang menakutkan. Di kejauhan, guruh sesekali meledak, menggetarkan lantai tanah rumah kecil itu.
Manda memejamkan mata. Di tengah riuh badai, telinganya seakan menangkap suara lain, lirih, penuh jeda dan luka: suara neneknya. Ia teringat bagaimana perempuan renta itu sering duduk di kursi kayu dekat tungku, bercerita tentang masa lalu yang tak pernah benar-benar jelas. Suaranya yang serak, seperti menanggung rahasia yang berat.
Manda berdiri, menghampiri jendela, lalu menyingkap sedikit kayu penahan. Pandangannya menembus kabut. Jalanan desa lengang dilapisi bayangan abu-abu. Cahaya papan gereja tua di ujung jalan hanya berpendar samar, tak sanggup menembus tirai hujan. Gunung-gunung di kejauhan tenggelam dalam kabut tebal.
Manda memungut dahan kering yang semalam tertinggal di sudut ruangan. Saat jemarinya menggenggamnya, tubuhnya seolah membeku. Dari arah hutan, hening merayap. Bukan hening biasa. Bukan sekadar jeda antara hujan dan guruh. Ini adalah hening yang menakutkan, seolah seluruh makhluk hidup di dalam rimba tiba-tiba menahan napas. Burung berhenti bersiul, serangga tak lagi berdesis, bahkan daun pun enggan berdesir.
Manda merasakan sesuatu menyusup ke dalam dirinya. Ketakutan, ya, tapi juga kesadaran bahwa betapa kecil dan sendirinya ia di dunia ini.
Hidup sangat tidak adil padanya. Sejak lahir, Manda sudah kehilangan sesuatu yang tak pernah bisa ia kembalikan. Ibunya meninggal saat melahirkan dirinya. Ayahnya? Bahkan namanya pun tak pernah ia ketahui. Seolah ia lahir dari rahasia yang ditutup rapat, rahasia yang tidak ada seorang pun di desa ini berani menyebutkan.
Neneknya, seorang penjahit desa dengan tangan yang selalu berdarah oleh jarum, adalah satu-satunya yang tulus mencintainya. Perempuan tua itu tak banyak bicara, hanya bekerja, bekerja, dan bekerja. Setiap receh ditabung, setiap sisa kain dijahit kembali untuk menjadi sesuatu yang berharga. Semua itu demi satu tujuan, agar Manda bisa bersekolah dan membaca, agar ia punya pilihan hidup yang lebih baik dari sekadar menerusan hidup seadanya di lereng gunung ini.
Namun, ironisnya pendidikan itu tak memberi kebebasan. Justru buku-buku yang Manda baca membuka pintu pada dunia yang luas, dunia yang jauh dan mustahil. Dari halaman-halaman itu, ia merajut mimpi, ingin menjadi penulis, melintasi kota-kota besar, mencatat kisah orang-orang asing. Tapi setiap kali buku ditutup, kenyataan kembali hadir. Yang ada hanya rumah kayu reot, hujan abadi, dan sunyi yang melekat di tubuhnya seperti bayangan.
Kadang, Manda benci pada mimpinya sendiri. Ia merasa buku-buku itu adalah penjara, bukan kunci. Mereka mengajarkan kata ‘kebebasan’ tapi tak pernah memberi jalan ke sana. Ia ingin berlari, meninggalkan desa, tapi kaki neneknya yang pincang dan tubuh renta itu seolah menahannya. Bagaimana ia bisa pergi, jika satu-satunya orang yang mencintai dan merawatnya sejak kecil terikat di sini?
Hujan semakin deras. Manda kembali ke kursinya. Ia menatap buku yang tergeletak, kemudian memejamkan mata. Ingatan berloncatan seperti kelinci di padang rumput.
Ia teringat masa kecil, ketika usianya baru tujuh tahun. Saat itu, ia bertanya pada neneknya, “Mengapa ayahku tidak pernah pulang?” Neneknya diam lama, lalu menjawab dengan suara pelan, “Beberapa pintu tidak boleh dibuka, nak.”
Kalimat itu menempel di kepala Manda, menumbuhkan tanda tanya yang semakin membesar. Hingga kini, pintu itu tetap terkunci, dan ia pun belajar menanggung beban dari sebuah rahasia yang bahkan tak pernah ia pahami.
Ia juga teringat malam ketika neneknya sakit keras. Tubuh ringkih itu menggigil di ranjang, dan Manda duduk di sampingnya, menggenggam tangan yang kasar penuh luka.
“Kau harus terus membaca,” ucap neneknya waktu itu. “Jangan biarkan dunia ini merampas cahaya dari matamu.” Sejak saat itu, setiap halaman buku terasa seperti titipan. Seolah neneknya menitipkan hidup di sana.
Tapi justru di situlah luka abadi mengangga, semakin banyak Manda membaca, semakin jauh ia tersesat ke dunia yang tak pernah bisa ia sentuh.
Di luar, guruh kembali bergemuruh. Hening di hutan masih tertahan. Manda berdiri sekali lagi, menatap ke arah kegelapan yang pekat. Ada sesuatu di sana. Sesuatu yang tak terlihat, tetapi terasa. Barangkali hanya bayangan pikirannya sendiri. Barangkali juga kenyataan lain yang menunggu untuk ditemukan.
Ia menggenggam dahan kering itu erat-erat, seakan benda remeh itu bisa menjadi senjata melawan apa pu yang mendekat. Matanya berkilat dalam redup cahaya lampu minyak.
Dalam diri Manda, pertarungan berlangsung tanpa suara. Ia ingin melawan garis nasib, tapi ia juga terikat oleh kasih yang terlalu dalam pada neneknya. Ia ingin meraih dunia luas, tapi dunia luas itu hanya hidup di buku-buku yang sudah usang.
Betapa hidup begitu dilematis bagi Manda, hujan yang ia benci sekaligus ia rindukan, desa yang mengekang sekaligus melindungi, nenek yang ia cintai sekaligus menjadi alasan mengapa ia tak bisa pergi.
Dan di malam itu, ketika badai seolah tak akan pernah reda, Manda menyadari sesuatu yang menakutkan, bahwa dirinya mungkin tak jauh berbeda dengan hutan di seberang sana. Sunyi, misterius, penuh rahasia, seolah menyimpan sesuatu yang tak pernah bisa benar-benar terucapkan.
Ia menutup mata, membiarkan suara badai menyelimuti. Jiwanya ribut, liar, tak menentu seperti badai itu sendiri. Tetapi tubuhnya tetap diam, terkunci di ruang sempit, menunggu reda yang mungkin tak akan pernah datang.
BIODATA
Pitrus Puspito adalah guru dan penulis. Karyanya berupa puisi, cerpen dan esai pernah dimuat di media cetak maupun digital. Buku tunggalnya yakni kumpulan puisi berjudul Yang Hilang (2018). Dapat disapa lewat akun instagram: @pitruspiet.













