BALI, Balipolitika.com – Umat Hindu sejak dahulu kala, mengenal hari suci Purnama dan Tilem. Kali ini, akan membahas Purnama dan kaitannya dengan piodalan di Pura Besakih.
Dalam lontar Sundarigama, Purnama adalah waktu terakhir pada paroh terang dan awal dari paroh gelap. Untuk itulah, Purnama sebagai waktu sakral dan suci.
Dari kajian lontar Sundarigama, saat Purnama bahwa Bhatara Parameswara atau Sang Hyang Purusangkara bersama saktinya. Bersama para dewa, bidadari-bidadari, serta roh leluhur melalukan yoga.
Di sisi lain pula, bahwa setiap bulan Purnama, maka Dewa Bulan atau Sang Hyang Chandra akan melakukan yoga. Sehingga umat Hindu agar mempersembahkan sesajen (upakara), sesuai kemampuan untuk persembahan kepada para dewa. Terutamanya kepada Dewi Bulan.
Dalam lontar, bahwa sesajen yang di antaranya penek kuning dengan lauk daging ayam putih siungan panggang. prayascita luih dan reresik.
Lengkap dengan segehan agung satu tanding. Kemudian upacara di tempat suci untuk umum, baik di pura maupun parhyangan. Serta pada malam harinya, umat melakukan yoga semadi.
Purnama Kadasa salah satu sebagai hari suci, karena Sang Hyang Suksmamerta beryoga di Sad Kahyangam Wisesa. Purnama Kadasa juga Purnama Sadha. Purnama ini sebagai batas waktu peralihan dari musim penghujan, ke musim kemarau.
Sehingga umat Hindu sejak zaman nenek moyang, telah melakukan upacara untuk mensyukuri masa penghujan yang telah berakhir. Dan memohon perlindungan untuk memasuki musim kemarau mendatang.
Tak heran orang tua, hingga saat ini selalu meminta agar anak cucunya sembahyang saat Purnama maupun Tilem. Khususnya di merajan atau sanggah di rumah masing-masing.
Kemudian saat Purnama Kadasa, umat Hindu di Bali akan melakukan upacara di Sad Kahyangan Wisesa di seluruh Pulau Dewata. Ini karena bahwa para dewa telah turun ke dunia, setelah dunia bersih saat tawur agung dan Nyepi sebelumnya.
Para dewa pula turun ke dunia dengan membawa anugerah keselamatan dan kesejahteraan. Sehingga umat Hindu sejak dahulu, menyambut kedatangan beliau dengan sesajen di sanggah kamulan ataupun di Sad Kahyangan Wisesa.
Tentunya semua upakara dan upacara sesuai dengan kemampuan masing-masing (sakasidan). Adapun sesajen saat Purnama Kadasa, senista-nistanya adalah suci, daksina, pras ajuman, rayunan prangbakat, lauk daging serba suci, canang wangi, dan raka kembang payas, termasuk pangresikan selengkapnya.
Lengkap dengan segehan agung satu tanding, dan segehan sasah 6 tanding. Memakai lauk bawang jahe. Kemudian ada pula sajian untuk manusia, yakni dengan membuat sesajen prayascita luih dan panyeneng tehenan.
Saat Purnama Kadasa juga sebagai hari puncak piodalan di Pura Besakih. Yang dengan sebutan bhatara turun kabeh di Pura Besakih. Atau dalam bahasa Indonesia, bahwa semua bhatara-bhatari turun ke dunia di Pura Besakih.
Sehingga tak heran, saat Purnama Kadasa dan selama piodalan di Pura Besakih akan sangat ramai pamedek. Dan menyebabkan macet di jalur utama ke pura gumi tersebut. Serangkaian upacara pun di Pura Besakih, hingga nanti waktu nyineb (penutup). (BP/OKA)













