PADA zaman ketika manusia semakin percaya kepada algoritma daripada kebijaksanaan, kepada mesin pencari daripada perenungan, sebuah peristiwa terjadi di Melbourne, Australia. Barangkali ia tidak memenuhi halaman utama media mainstream. Tidak pula menjadi trending topic yang diperdebatkan jutaan akun. Namun justru di situlah letak maknanya. Pada 30 Mei 2026, dalam resital bertajuk Songs From Within, suara manusia, puisi, dan musik klasik bertemu untuk mengingatkan sesuatu yang mulai terlupakan: bahwa kebudayaan masih mampu menjadi rumah bagi jiwa yang kelelahan.
Konser yang dibawakan soprano Indonesia Liz Rusli bersama pianis dan komponis Australia Joseph Beckitt itu menghadirkan karya-karya lintas zaman, mulai dari Clara Schumann hingga komposer kontemporer Australia dan Indonesia. Di antara repertoar tersebut, dua karya maestro Indonesia Ananda Sukarlan memperoleh tempat istimewa. Salah satunya menggunakan puisi saya, Yang Menyala Dalam Senyap, sebuah refleksi mengenai kitab suci yang tetap berdiri di rak berdebu ketika masyarakat modern lebih mempercayai algoritma dan mesin pencari.
Yang tak kalah menarik, konser ini berlangsung di hadapan audiens yang bukan sekadar penikmat musik umum, melainkan komunitas yang memiliki kompetensi intelektual di bidang musik klasik: para dosen, pengajar vokal, pianis, mahasiswa konservatorium, serta siswa-siswa musik yang sedang menempuh proses pembentukan artistik. Dalam perspektif kebudayaan, hal ini jauh lebih penting daripada sekadar jumlah penonton.
Gagasan yang diterima oleh khalayak terdidik memiliki daya resonansi yang panjang karena mereka akan meneruskannya kepada murid-murid dan generasi berikutnya. Sebuah lagu yang dipentaskan satu kali dapat menjelma menjadi pengetahuan yang diajarkan berulang kali di ruang-ruang kelas musik.
Dalam konteks itu, pementasan karya Ananda Sukarlan berbasis puisi Indonesia di Melbourne memiliki arti historis tersendiri. Jika Sydney selama ini relatif lebih akrab dengan repertoar vokal Indonesia karena Ananda Sukarlan kerap mengadakan kelas, lokakarya, dan berbagai kegiatan musikal di sana, maka Melbourne belum banyak tersentuh tradisi tembang puitik Indonesia dalam ranah musik klasik. Karena itu, konser ini dapat dipandang sebagai salah satu momentum penting yang memperkenalkan kekayaan puisi Indonesia kepada ekosistem musik klasik Melbourne, membuka kemungkinan lahirnya dialog-dialog artistik baru yang akan terus bertumbuh di tangan para pendidik dan musisi muda masa depan.
Banyak orang menganggap teknologi dan spiritualitas sebagai dua kutub yang saling meniadakan. Padahal persoalan utama bukanlah teknologi itu sendiri. Persoalan sesungguhnya adalah ketika manusia kehilangan kemampuan untuk membedakan informasi dan kebijaksanaan. Kita hidup di tengah banjir data, tetapi mengalami kekeringan makna.
Filsuf Martin Heidegger pernah mengingatkan bahwa bahaya terbesar teknologi bukanlah mesin yang menguasai manusia, melainkan cara berpikir manusia yang akhirnya menyerupai mesin. Dalam konteks hari ini, peringatan tersebut terasa semakin relevan. Kita dapat mengetahui hampir segala hal melalui internet, tetapi semakin sulit memahami diri sendiri. Kita dapat menemukan jawaban dalam hitungan detik, tetapi kehilangan kesabaran untuk merenungkan pertanyaan yang paling penting.
Di sinilah seni mengambil peran yang tidak dapat digantikan oleh kecerdasan buatan, mesin pencari, ataupun algoritma media sosial. Musik dan puisi tidak hadir untuk memberi jawaban cepat. Mereka hadir untuk memperdalam pertanyaan.
Komposer Rusia Igor Stravinsky pernah mengatakan, “Musik mengungkapkan sesuatu yang tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata dan tidak mungkin didiamkan.” Dalam konser itu, kalimat tersebut menemukan bentuknya. Musik tidak hanya mengiringi puisi. Musik memperluas ruang makna puisi hingga melampaui batas bahasa dan geografi. Sebuah puisi yang lahir di Indonesia memperoleh kehidupan baru melalui suara soprano di Australia. Kata-kata yang ditulis dalam kesunyian menjelma pengalaman kolektif yang melibatkan banyak hati.
Fenomena ini menawarkan perspektif menarik mengenai globalisasi. Selama ini globalisasi sering dipahami sebagai arus barang, modal, teknologi, dan informasi. Namun konser tersebut menunjukkan bahwa globalisasi juga dapat menjadi perjalanan nilai-nilai kemanusiaan. Yang bergerak bukan hanya produk ekonomi, melainkan gagasan, empati, dan pencarian makna.
Lebih jauh lagi, konser ini menghadirkan kritik halus terhadap peradaban kontemporer yang semakin terobsesi pada kecepatan. Kita hidup dalam budaya yang mengukur segala sesuatu berdasarkan produktivitas. Bahkan perhatian manusia kini diperebutkan dalam hitungan detik. Musik klasik dan puisi justru bergerak ke arah sebaliknya. Keduanya mengajarkan kelambatan. Mengajarkan mendengar. Mengajarkan diam.
Sastrawan dan peraih Nobel, Rabindranath Tagore, pernah menulis, “Pohon berbicara kepada langit melalui keheningan.” Barangkali peradaban kita membutuhkan lebih banyak ruang sunyi seperti itu. Sebab di tengah kebisingan digital, manusia sering kehilangan kesempatan untuk mendengar suara terdalam dalam dirinya sendiri.
Saya tidak hadir secara fisik di Melbourne pada hari itu. Namun saya membayangkan bagaimana sebuah puisi Indonesia dinyanyikan di hadapan audiens Australia. Bagi sebagian orang, mungkin itu hanya sebuah pertunjukan seni. Bagi saya, itu adalah bukti bahwa kata-kata masih mampu menyeberangi lautan, budaya, dan batas-batas geografis. Bahwa sastra masih memiliki kemampuan menyatukan manusia dalam pengalaman yang sama: menjadi makhluk yang mencari arti.
Pada akhirnya, konser tersebut mengajukan pertanyaan yang jauh lebih besar daripada sekadar musik. Ketika dunia semakin cepat, semakin terhubung, dan semakin canggih, apakah kita juga semakin bijaksana? Ketika algoritma mampu menjawab hampir semua pertanyaan, apakah kita masih memiliki keberanian untuk bertanya tentang makna hidup, tentang kebenaran, tentang arah peradaban yang sedang kita tuju?
Mungkin masa depan manusia tidak ditentukan oleh seberapa cerdas mesin yang berhasil kita ciptakan. Mungkin masa depan manusia justru ditentukan oleh kemampuan kita menjaga nyala yang paling sunyi: kesadaran, kebijaksanaan, dan kemanusiaan yang terus hidup di dalam diri. Sebab segala sesuatu yang benar-benar penting dalam kehidupan sering kali tidak berteriak. Ia hanya menyala dalam senyap.
Fileski Walidha Tanjung adalah penyair dan guru seni budaya di SMAN 2 Madiun. Aktif menulis puisi, esai, dan prosa di berbagai media nasional. Novel terbarunya berjudul Tanah Terbelah 1948.










