BALI, Balipolitika.com – Sungguh ironi, kasus penebasan di Buleleng yang terjadi saat hari suci Nyepi, apalagi latar belakangnya karena pertengkaran dan pengaruh minuman keras alias miras.
Sejatinya, bukan hanya pendatang yang tak paham makna Nyepi seperti bule Swiss yang dengan entengnya menyebut ‘Fuck Nyepi’ lalu kemudian jadi tersangka.
Tapi orang Bali, khususnya warga Hindu di Bali harus mulat sarira alias introspeksi diri. Sebab rasanya masih banyak yang tidak paham dengan esensi Nyepi ini. Sampai-sampai hening sehari saja malah terisi dengan maksiat bahkan hingga aksi kriminal.
Bayangkan saja, ada yang keluar rumah, ada yang judi seperti maceki dan lainnya, ada yang maksiat menginap dengan pasangan tidak sah di hotel. Ada yang maling, dan bahkan ada yang menebas temannya sendiri usai menengak miras.
Ini bukti, bahwa warga Hindu di Bali kurang literasi, khususnya tentang makna Nyepi sebagai salah satu landasan beragama. Lalu siapa yang salah? orang tua yang juga tidak paham? pemerintah yang cuek bebek? atau SDM Bali yang tidak mumpuni?
Daripada saling menyalahkan, mari pahami apa pentingnya Nyepi secara sederhana dan makna sakral dari hari suci setahun sekali ini. Secara harfiah, Nyepi di dalam kitab-kitab kuno Hindu seperti Sundarigama, adalah proses pembersihan bhuana agung yaitu alam semesta dan bhuana alit yaitu diri manusia.
Semua ini maprelina, karena akan menyambut tahun baru yaitu Tahun Saka, dengan harapan agar bisa menjadi pribadi yang jauh lebih baik dari hari kemarin. Cara membersihkan bagaimana? dengan sembahyang, makanya ada melasti. Tak hanya manusia, ida bhatara-bhatari pun ikut pembersihan ke pantai dan sumber mata air saat melasti ini.
Lalu alam semesta juga, salah satunya dengan pangerupukan dan Tawur Agung Kesanga. Leluhur Hindu zaman dahulu sudah meneliti, dan mendapati bahwa Sasih Kesanga adalah sasih buruk, karena peralihan musim dan banyak musibah. Sehingga bhuta kala masomia, dengan ngerupuk, ogoh-ogoh sebagai lambang dan kemudian pembakaran sebagai tanda semuanya telah seimbang.
Namun kini, bahkan ada ogoh-ogoh yang masih pawai sampai jam 4 pagi. Tentu ini sudah menyalahi aturan. Sebab Nyepi mulai pukul 06.00 pagi setelah ngerupuk kemarin, sampai besoknya pukul 06.00 pagi. Sehingga tetua meminta jam 12 malam tidak ada lagi pawai atau arakan ogoh-ogoh.
Lalu mengendalikan diri dengan puasa, makanya ada Amati Geni atau tidak menyalakan api, tujuannya agar manusia fokus dan meditasi, menahan nafsu, amarah dan sifat binatang di diri. Jika tidak kuat bisa makan setelah jam 6 sore. Namun itu pun harapannya minim ada api. Toleransi pun ada bagi yang sakit dan lansia serta balita.
Amati Karya, tidak bekerja hanya merenung dan introspeksi diri, meditasi. Termasuk Amati Lelungan dan Lelanguan, tidak pergi dan bersenang-senang. Ironinya, ini hanya setahun sekali namun rasanya cukup berat bagi banyak orang untuk menahan diri berdiam di rumah saja. Tapi kita berteriak untuk hal lain dengan lantang. Rasanya sudah perlu Bali dan umat Hindu berbenah, demi masa depan Pulau Dewata yang sesuai Panca Sradha.
Sebab jika tidak, lambat laun Bali dan generasi penerus akan kehilangan akar budaya dan dasar agamanya. Serta campah dalam menjalankan ajaran suci, padahal ini yang menjadi daya tarik pariwisata sampai saat ini. (BP/OKA)













