BADUNG, Balipolitika.com– Mata Ayu R. Sudana berkaca-kaca menceritakan pahit kisah hidupnya di Bali Beans Coffee & Co, Jalan Umalas 1, Kerobokan Kelod, Kuta Utara Badung.
Lahir dari keluarga petani yang mengandalkan hidup dari hasil panen musiman, Ayu Sudana terpaksa putus sekolah.
Kondisi pelik inilah yang menjadi titik balik hidupnya karena di tengah terpaan masalah keluarganya, ia memberanikan diri bekerja di luar negeri, tepatnya salah satu dari tujuh emirat yang membentuk negara Uni Emirat Arab (UEA), Dubai.
“Waktu saya kerja di luar negeri, saya mengerti bahwa kerjaan di sektor pariwisata bukan pekerjaan yang– kita itu sebagai buruh– jadi saya develop (rancang, bangun, red) diri saya di Dubai. Saya tidak mau– biarpun saya orang kecil dari Plaga, gimana caranya saya ke luar negeri biar bisa menjadi sesuatu yang membanggakan ketika kembali ke Indonesia. Oleh sebab itu lahirlah Bali Beans Coffee & Co sepuluh tahun yang lalu,” kisah Ayu Sudana yang saat ini belum genap berusia 40 tahun.
Flash back ke tahun 2002 dan 2005, Ayu Sudana berkisah Tragedi Bom Bali I dan Bom Bali II membuatnya memberanikan diri merantau ke luar negeri setelah sebelumnya sempat mengadu peruntungan bekerja di sejumlah tempat di Pulau Dewata.
Akhirnya setelah bertahun-tahun maburuh di Dubai, ia pun sadar bahwa celah potensi bisnis kopi di Dubai sangat terbuka.
Naluri Ayu Sudana yang lahir sebagai anak petani kopi pun bergelora untuk memanfaatkan peluang tersebut.
“(peluang bisnis kopi, red) di Dubai sangat besar karena di sana negara muslim. Alkohol bukan sesuatu yang mudah didapat, tapi semua orang minum kopi dan saya eksporlah Bali Beans Coffee ini ke Dubai mulai awal karier bisnis saya. Ternyata banyak feed back yang saya dapatkan dan sangat bagus. Bagi mereka punya kebun kopi di belakang rumah seperti kita itu sesuatu yang wow. Dubai itu negara gurun pasir. Tak bisa menanam kopi, menanam apapun. Semua sumber makanan itu mereka datangkan dari luar negara mereka dan kebetulan selama 9 tahun waktu saya berjenjang karier di Dubai, saya kerja di logistik; membantu sumber makanan masuk ke dalam Uni Emirat Arab dari semua negara berbeda. Saya, di rumah, di Bali, tinggal metik saja. Langsung ke penggorengan. Dan itulah simbol Bali Beans Coffee ini. Di mana pemetikannya secara langsung dan penyajiannya secara langsung; tidak melalui tengkulak-tengkulak lagi,” ungkap perempuan berpenampilannya modis itu sembari menekankan bahwa kesejahteraan para petani merupakan kunci sukses bisnisnya.
Menarik diketahui, tak malu-malu menyebut dirinya hanyalah lulusan Kejar Paket C, yakni program pendidikan setara SMA/SMK bagi masyarakat yang tidak sempat menyelesaikan pendidikan formal di tingkat SMA, Ayu Sudana mengajak generasi muda Bali untuk berani meniti bisnis dan tak sekadar menjadi penonton di tengah gemerlap denyut pariwisata Pulau Dewata.
“Kita tidak boleh menerima apa yang ada (pasrah terhadap keadaan, red). Saya tak mau miskin waktu itu, Pak. Hidup saya sangat pahit. Dari kos-kosan 2×2 sama adik saya yang saya harus tanggung bersekolah SMA. Satu tidur di lantai, satu tidur di bed. Dan itu perjuangan yang sangat pahit. Saya tidak memungkiri background ini. Ada orang Bali ngeluh tak sekolah, saya juga tak sekolah. Jadi, kita tidak boleh punya alasan apapun untuk menyerah,” pesan Ayu Sudana.
20 tahun berlalu, kini Ayu Sudana mengelola Bali Beans Coffee & Co yang merupakan produsen kopi Arabika premium berbasis keluarga asal Plaga, Bali.
Didirikan pada tahun 1985, perusahaan ini menerapkan model “From Crop to Cup”—mengelola seluruh proses produksi kopi, mulai dari budidaya, panen, pengolahan, hingga roasting dan distribusi. Bali Beans berfokus pada keberlanjutan, kesejahteraan petani lokal, serta pelestarian budaya Bali.
Bali Beans didirikan oleh pasangan petani Bali, Nyoman Sudana dan Wayan Sari, yang memulai penanaman kopi Arabika di lahan leluhur mereka di dataran tinggi vulkanik Kintamani.
Dengan memegang nilai Tri Hita Karana—harmoni alam, manusia, dan spiritualitas—Bali Beans berkembang menjadi brand kopi lokal berkelas global.
Saat ini Bali Beans dikelola oleh Ayu Sudana sebagai generasi kedua yang memperkuat profesionalisme perusahaan melalui hospitality, edukasi kopi, dan pengembangan pasar retail serta ekspor.
Berkat kepiawaian Ayu Sudana, Bali Beans Coffee & Co mengelola kini mengelola perkebunan kopi seluas 5,5 hektar dengan area tanaman kopi aktif 2,5 hektar.
“Kami bermitra dengan 22 petani yang seluruhnya adalah perempuan di lahan kurang lebih seluas 2 hektar per petani. Adapun produksi rata-rata yang dihasilkan kurang lebih 500 kg green beans per hektar per tahun,” beber Ayu Sudana.
Terkait jenis kopi, Ayu Sudana menyebut kopi utama bisnisnya adalah jenis Arabika Kintamani dengan profil rasa buah batu, citrus, acidity seimbang.
Sistem perkebunan berjalan melalui Subak Abian, model koperasi tradisional Bali yang mengedepankan gotong royong, keadilan, dan keberlanjutan ekologi.
Dalam menjalankan roda bisnisnya, Ayu Sudana menerapkan model “From Crop to Cup” di mana Bali Beans mengontrol seluruh rantai nilai mulai dari budidaya organik berbasis komunitas, pemetikan manual hanya buah matang alias hand-picked, hingga roasting internal berstandar internasional.
“Natural, honey, atau wet processing sesuai cuaca dan kualitas biji. Kami juga sangat memikirkan soal sun-drying dan grading. Intinya, distribusi langsung dan tanpa perantara untuk menjaga kualitas dan harga adil,” ungkapnya.
“Bali Beans percaya kopi terbaik lahir dari proses yang bertanggung jawab: menghormati alam, menjaga komunitas, dan menciptakan nilai jangka panjang,” tutup Ayu Sudana sembari menekankan bahwa pihaknya juga memperkenalkan kopi sebagai budaya bukan sekadar produk konsumsi sekaligus melakukan edukasi. (bp/ken)













