KAKEK itu tidak pernah menyebut usianya. Orang-orang kampung hanya tahu, ia sudah ada sebelum jalan di depan rumahnya diaspal, sebelum listrik masuk, bahkan sebelum sebagian nama-nama orang di sekitarnya lahir. Ia tinggal sendiri di rumah kayu yang dindingnya berderit seperti ingatan yang tak pernah selesai.
Di beranda, selalu ada satu benda yang tak pernah berpindah. Sepeda ontel tua, hitam kusam, dengan cat yang terkelupas seperti kulit yang lelah menahan waktu. Sepeda itu bukan sekadar alat. “Itu adalah warisan dari ayah,” kata kakek. Ayahnya konon hidup pada zaman kolonial.
Namun setiap kali ia mengucapkan “warisan,” matanya tidak benar-benar melihat sepeda itu. Ia menatap sesuatu yang jauh. Sesuatu yang tidak lagi berada di dunia ini atau mungkin tidak pernah benar-benar ada seperti yang ia bayangkan. “Ini dari zaman Belanda,” katanya pada siapa pun yang bertanya. Nada suaranya selalu mengandung kebanggaan yang samar.
Setiap pagi, kakek akan membersihkan sepeda itu dengan kain lusuh. Gerakannya pelan, hampir ritualistik. Ia mengusap setang, jok, rantai, dan seluruh bagian sepeda seolah sedang menyentuh tubuh seseorang. Kadang-kadang, bibirnya bergerak. “Masih kuat, ya… kita masih bisa jalan.” Tak ada yang menjawab. Tapi kakek selalu mengangguk, seolah mendengar balasan.
Orang kampung mulai membicarakannya. Mereka bilang kakek itu kesepian. Ada yang bilang pikirannya mulai kabur. Tapi tak ada yang benar-benar tahu apa yang terjadi di dalam kepalanya. Karena ingatan tidak pernah benar-benar netral. Ia memilih apa yang ingin disimpan. Dan menyingkirkan apa yang terlalu menyakitkan untuk diakui.
Satu-satunya yang berani mendekat adalah Raka, seorang anak kecil yang rasa ingin tahunya belum dirusak oleh prasangka. “Kek, kenapa sepedanya tidak pernah dipakai?” tanyanya suatu sore. Kakek berhenti mengelap sepeda itu. Tangannya menggantung di udara.
“Karena kalau dipakai, nanti dia pergi.” kata kakek. “Dia? Siapa?” ujar Raka penasaran. Kakek tersenyum tipis. “Ayah.”
Sejak itu, Raka mulai memahami (atau setidaknya mencoba memahami) bahwa sepeda itu bukan sekadar benda. Ia adalah jangkar. Sesuatu yang menahan kakek agar tidak hanyut terlalu jauh ke dalam kehilangan.
Malam hari, ketika kampung tenggelam dalam sunyi, kakek sering duduk di samping sepeda itu. “Aku masih ingat, waktu kau ajak aku ke pasar. Aku duduk di depan, takut jatuh, tetapi kau bilang, ‘pegang yang kuat, Nak.’” Dalam ingatannya, ayahnya tidak pernah mati. Ia hanya berhenti hadir secara fisik. Dan sepeda itu menjadi jembatan rapuh antara masa kini dan masa lalu yang terus ia hidupkan ulang.
Namun, waktu diam-diam bekerja. Suatu pagi, kakek tidak membersihkan sepeda itu. Ia hanya duduk, menatap kosong. Sepeda itu berdebu. Rantainya mulai berkarat. “Capek,” katanya saat Raka bertanya. Tapi bukan tubuhnya yang lelah. Ada sesuatu yang mulai retak di dalam dirinya.
Sore itu, hujan turun tipis, seperti ingatan yang ragu untuk jatuh sepenuhnya. Raka menemukan sebuah kotak kayu tua di gudang belakang rumah kakek. Di dalamnya: kain lusuh, foto pudar, dan sebuah buku kecil dengan tulisan tangan yang menguning. “Kek, ini punya siapa?” kata Raka. Kakek terdiam. Tangannya gemetar saat menyentuh buku itu. Seolah benda itu bukan sekadar kertas, melainkan pintu yang selama ini ia kunci rapat.
Ia membuka halaman pertama. Dan sesuatu runtuh. Catatan itu bukan tentang perjuangan. Bukan tentang perlawanan. Bukan tentang heroisme. Itu adalah pengakuan.
Ayahnya bukan pejuang. Ia adalah pencuri. Seorang pembantu di rumah pejabat Belanda diam, patuh, tak terlihat. Namun menyimpan sesuatu yang lebih gelap: iri, dendam, dan hasrat memiliki yang bukan miliknya.
Sepeda itu bukan hadiah. Bukan hasil kerja keras. Bukan pula rampasan perang. Ia dicuri. Diambil diam-diam pada suatu malam ketika tuannya mabuk. Namun yang lebih kelam bukanlah pencuriannya, melainkan kalimat yang tertulis setelahnya: “Aku tidak hanya mengambil sepeda itu. Aku memastikan dia tidak akan mencarinya lagi.”
Kakek menutup buku itu dengan keras. Napasnya berat. Selama puluhan tahun, ia tidak hanya merawat sepeda. Ia merawat ilusi. Ia membangun narasi bahwa ayahnya adalah bagian dari sejarah yang layak dikenang. Padahal kenyataannya, sepeda itu adalah bukti kejahatan. Dan lebih dari itu, bukti bahwa ayahnya bukan korban zaman, melainkan pelaku dalam kegelapan yang sunyi.
Malam itu, kakek duduk di samping sepeda seperti biasa. Namun kali ini, ia tidak berbicara. Ia hanya menatapnya. Lama. Sangat lama. Seolah melihatnya untuk pertama kali. “Jadi, ini semua bukan tentang kita ya,” bisik Kakek. Sepeda itu kini terasa asing. Bukan lagi jembatan. Melainkan jurang.
Namun keesokan malamnya, sesuatu yang tak terduga terjadi. Kakek berdiri. Ia mendorong sepeda itu keluar dari beranda. Langkahnya goyah antara takut dan lega. Ia menaikinya. Roda berderit. Rantai menggeram pelan. Sepeda itu bergerak.
Pelan-pelan, ia mengayuh melewati jalan kampung yang sunyi. Angin malam menyentuh wajahnya. Untuk sesaat, ia merasa ayahnya duduk di belakang. Seperti dulu. Namun kali ini, kakek tidak menoleh.
Ia mengayuh lebih jauh. Lebih lama. Seolah ingin keluar dari sesuatu yang selama ini mengurungnya. Di ujung jalan, ia berhenti. Turun. Dan untuk pertama kalinya, ia mendorong sepeda itu menjauh dari dirinya. Meninggalkannya di pinggir jalan.
Raka yang diam-diam mengikuti dari kejauhan akhirnya mendekat. “Kek, sepeda itu mau dibawa ke mana?” Kakek tidak menoleh. “Dikembalikan.” Jawab kakek. “Ke siapa?” ujar Raka. Kakek tersenyum tipis. “Ke kebenaran.”
Ia tahu sepeda itu tidak benar-benar bisa kembali. Pemiliknya telah hilang dari sejarah. Namun yang ingin ia kembalikan bukan benda itu, melainkan maknanya. Saat ia berjalan meninggalkan sepeda itu, langkahnya terasa ringan dan kosong sekaligus. Ia kehilangan ayahnya untuk kedua kalinya. Kali ini, ia kehilangan versi ayah yang ia ciptakan sendiri.
Dan di dalam kehampaan itu, ia akhirnya memahami sesuatu yang paling sulit, bahwa tidak semua yang kita rawat layak untuk dipertahankan. Bahwa kenangan bisa menjadi rumah sekaligus penjara.
Sepeda itu tidak pernah pulang, tetapi untuk pertama kalinya kakek itu melakukannya. Dan setelah sosoknya benar-benar hilang dalam gelap, Raka berdiri lama di depan sepeda itu. Hening. Seolah sedang berhadapan dengan sesuatu yang lebih besar dari sekadar benda tua. Lalu, dengan ragu (tetapi pasti) ia menggenggam setangnya. Dan diam-diam,
ia membawanya pulang. Dan diam-diam, ia membawanya pulang.
“Lalu… apa yang terjadi dengan sepeda itu?” Suara seorang anak laki-laki memecah keheningan. Aku terdiam sejenak. Udara sore masuk pelan melalui jendela rumahku, rumah yang kini tak lagi muda, seperti diriku.
Anak itu duduk di lantai, bersandar pada tiang kayu, matanya penuh rasa ingin tahu. Ia sering datang ke sini, bermain, bertanya, dan kadang hanya diam memperhatikan persis seperti aku dulu.
Aku tersenyum tipis. “Sepeda itu masih ada.” Aku menoleh ke beranda. Di sana, sepeda ontel tua itu berdiri dalam diam. Catnya semakin pudar, tetapi bentuknya tetap sama, seperti waktu yang enggan benar-benar pergi. Anak itu mengikuti arah pandangku.
“Itu, Kek?” kata anak laki-laki itu. Aku mengangguk pelan. “Ya. Itu.” kataku pelan. Ia bangkit, mendekat beberapa langkah, lalu berhenti. Seolah merasakan bahwa benda itu bukan sekadar benda. Aku menatapnya lama.
Dan tanpa sadar, aku melihat diriku sendiri, puluhan tahun yang lalu. Seorang anak kecil yang pernah berdiri di tempat yang sama, dengan pertanyaan yang hampir sama,
tanpa benar-benar siap menerima jawabannya. Aku menarik napas pelan.
“Cerita tadi,” kataku, lirih, “Adalah ceritaku.” Anak laki-laki itu menoleh cepat. “Maksudnya, Kakek itu…” Aku mengangguk. “Dan anak kecil itu, adalah aku.” Tegasku.
Hening sejenak. Angin berdesir pelan. Sepeda itu tetap diam di beranda, seperti menyimpan sesuatu yang tak pernah selesai diceritakan. Aku kembali menatap anak itu. “Dan sekarang,” kataku pelan, “Kamu yang datang ke sini.” Anak laki-laki itu tidak menjawab. Hanya menatap sepeda itu. Lama. Sangat lama. Seolah sebuah cerita, tanpa ia sadari, baru saja memilihnya. Berulang.
BIODATA
Heri Isnaini adalah dosen sastra di IKIP Siliwangi, Kota Cimahi, Jawa Barat. Heri lahir di Subang pada 17 Juni dan memiliki minat yang mendalam terhadap dunia sastra beserta berbagai kajiannya. Tulisan-tulisannya telah dipublikasikan di beragam media massa, baik daring maupun cetak. Heri merupakan kontributor media RNSI dan Literatura Nusantara.













