BADUNG, Balipolitika.com– Gaet Komisi Perlindungan Anak Daerah (KPAD) Provinsi Bali, Ida Bagus Made Adnyana, Anggota MPR/DPD RI B-67, Niluh Putu Ary Pertami Djelantik hadir di Aula SMP Negeri 2 Kuta Utara, Badung, Sabtu, 13 Desember 2025.
Membawakan materi “Pelajar Aman, Berkarakter, dan Cinta Indonesia: Empat Pilar Kebangsaan dan Perlindungan Anak untuk Remaja”, Niluh Djelantik menyebut pelajar SMP berada pada tahap perkembangan yang penting dalam membentuk karakter, jati diri, dan nilai moral.
Pada usia remaja, mereka mulai berinteraksi lebih luas dengan lingkungan sosial dan digital, menghadapi berbagai tantangan seperti perundungan, tekanan pergaulan, kesenjangan sosial, hingga penyalahgunaan media sosial.
“Dalam situasi seperti ini, penting untuk memberikan pemahaman yang kuat mengenai nilai kebangsaan, etika, dan perlindungan anak agar mereka tumbuh sebagai generasi yang aman, percaya diri, dan berkarakter,” ucap Niluh Djelantik.
Dalam rangka menumbuhkan nilai kebangsaan dalam diri pribadi tiap siswa, Niluh Djelantik menekankan para siswa membutuhkan pedoman hidup berbangsa yang relevan untuk ditanamkan sejak dini.
Nilai-nilai seperti toleransi, gotong royong, penghormatan terhadap keberagaman, serta cinta tanah air sangat penting bagi remaja dalam membangun kepribadian dan perilaku yang positif.
Mewujudkan perilaku toleransi, gotong royong, penghormatan terhadap keberagaman, serta cinta tanah itu, empat pilar kebangsaan, yakni Pancasila, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), dan Bhinneka Tunggal Ika, merupakan sesuatu yang mutlak.
“Hadirnya Komisi Perlindungan Anak Daerah (KPAD) Provinsi Bali sebagai narasumber pendamping ini bertujuan memperkuat pemahaman pelajar mengenai hak-hak anak, keamanan di lingkungan sekolah dan rumah, serta pencegahan kekerasan dan perundungan,” ungkap Niluh Djelantik.
“Dengan menggabungkan materi Empat Pilar Kebangsaan MPR RI dan isu perlindungan anak, kegiatan ini menjadi sarana edukatif yang holistik bagi pelajar. Melalui kegiatan ini, diharapkan siswa SMP Negeri 2 Kuta Utara dapat tumbuh sebagai generasi muda yang aman, berkarakter Pancasila, dan memiliki rasa cinta yang kuat kepada Indonesia,” harapnya.
Anggota Komisi Perlindungan Anak Daerah (KPAD) Provinsi Bali, Ida Bagus Made Adnyana menekankan sejumlah hal penting dalam sosialisasi ini.
Hal-hal penting dan wajib menjadi perhatian semua pihak mencakup hak-hak anak berdasarkan hukum nasional; (2) tanda-tanda kekerasan, perundungan, dan ancaman lainnya; (3) cara meminta bantuan dan melapor secara aman; (4) dan peran sekolah dan keluarga dalam menciptakan lingkungan aman.
Sementara itu, Niluh Djelantik membahas Pancasila sebagai pedoman etika dan perilaku sehari-hari.
Hak dan kewajiban pelajar sebagai warga negara dijelaskan dalam kaitannya dengan hak dan kewajiban warga negara dihubungkan dengan UUD 1945.
Niluh Djelantik juga menggelorakan pentingnya persatuan dan integritas bangsa di bawah payung Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
“Saya juga mengingatkan para siswa tentang Bhinneka Tunggal Ika dengan cara menghargai perbedaan di lingkungan sekolah,” tandas Senator Perempuan pertama asal Bali dengan nada tegas.
Sebut era digital penuh tantangan, tak lupa, Niluh Djelantik mengajak para siswa SMP Negeri 2 Kuta Utara untuk senantiasa beretika saat bermain media sosial, menghindari cyber bullying dan penyalahgunaan informasi sehingga menjadi pelajar yang bijak, kristis, dan berkarakter.
“Kami berkomitmen melakukan pencegahan terjadinya perundungan, kekerasan, dan pelanggaran hak anak di lingkungan sekolah. Sosialisasi ini digelar untuk membentuk pelajar yang berkarakter Pancasila, beretika, menghargai perbedaan, dan aktif dalam menciptakan lingkungan aman. Tak lupa menumbuhkan rasa cinta tanah air dan kebanggaan sebagai bagian dari,” tegas Niluh Djelantik.
Lebih jauh, Niluh Djelantik menegaskan kegiatan Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan dan Edukasi Perlindungan Anak ini menjadi langkah penting dalam membentuk pelajar SMP Negeri 2 Kuta Utara yang aman, berkarakter Pancasila, dan cinta tanah air. Dengan sinergi antara dunia pendidikan, lembaga negara, dan lembaga perlindungan anak, diharapkan lahir generasi muda Bali yang kuat, toleran, berbudaya, dan siap berkontribusi bagi masa depan Indonesia. (bp/ken)













