BADUNG, Balipolitika.com- Komitmen zero handphone, pungutan liar, dan narkoba alias halinar, Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Kerobokan gelar penggeledahan atau razia gabungan serentak, Sabtu, 25 Oktober 2025.
Kegiatan ini merupakan hasil sinergi kuat bersama TNI dari Kodim 1611/Badung, dan Polres Badung.
Aksi tegas ini menindaklanjuti perintah Direktur Jenderal Pemasyarakatan Republik Indonesia untuk memperkuat integritas dan komitmen lapas agar bersih dari barang-barang terlarang.
Razia ini juga selaras dengan salah satu dari 13 Program Akselerasi Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan, yaitu memastikan tidak ada peredaran narkoba di lapas.
Dalam operasi gabungan yang dipimpin oleh Kabid Pelayanan dan Pembinaan Kanwil Pemasyarakatan Bali bersama Kalapas Kelas IIA Kerobokan, Hudi Ismono ini sebanyak 13 kamar hunian prioritas di Wisma Yudistira dan Wisma Bima menjadi sasaran.
Hal ini menandaskan upaya proaktif Lapas Kerobokan dalam memerangi ancaman halinar.
Total personel yang terlibat adalah 47 orang, terdiri dari 35 petugas Lapas Kelas IIA Kerobokan, 1 personel Satgas Kamtib Kanwil Pemasyarakatan Bali, 7 anggota Polres Badung, dan 4 anggota Kodim 1611 Badung.
Sasaran utama penggeledahan ini adalah untuk meminimalisir benda berbahaya dan terlarang seperti handphone, narkotika, dan senjata tajam.
Seluruh proses penggeledahan kamar hunian berlangsung secara humanis, aman, tertib, dan kondusif.
Mengenai soliditas aksi ini, Kalapas Kelas IIA Kerobokan, Hudi Ismono menegaskan bahwa sinergi yang solid antara pemasyarakatan, TNI, dan Polri adalah bukti nyata komitmen untuk memastikan Lapas Kerobokan benar-benar steril dari halinar sejalan dengan visi bersih dan berintegritas pemasyarakatan.
Sebagai tindak lanjut, barang-barang sitaan hasil razia telah diinventarisir dan didata untuk proses pemusnahan lebih lanjut.
“Keberhasilan razia serentak ini merupakan penegasan bahwa Lapas Kelas IIA Kerobokan terus berupaya maksimal dalam menjaga keamanan, ketertiban, dan berkomitmen untuk melaksanakan kegiatan penggeledahan atau razia secara sistematis dan berkelanjutan,” ucap Hudi Ismono. (bp/ken)













