Titik Biru Pucat
kulihat rumah
dari jendela langit:
hanya setitik debu biru
melayang dalam gelap
di titik itu
bayi pertama menangis
dan pembantaian tak pernah usai
ada pelukan kekasih
dan senjata kimia
ada altar
yang haus persembahan
dan doa-doa
yang terkurung dalam sel penjara
di titik itu
kita menyembah dewa
yang dipahat dari rasa takut
lalu menyalibkan satu sama lain
atas nama kasih
di titik itu
kita menggambar batas
di tanah yang tak pernah milik siapa-siapa
dan membayar kebenaran
dengan darah
di titik itu
aku pernah menyebut namamu
dengan lidah patah
dan dada bolong
jika ada yang sakral—
itu tubuh anak-anak
yang tertidur dalam lapar
dan pelukan terakhir ibu
di bawah reruntuhan
jika ada yang suci—
itu keputusan untuk tak menghancurkan
padahal kita mampu
jika cinta hanyalah ilusi
biarlah itu jadi satu-satunya ilusi
yang kami peluk
dengan gigi berdarah
dan tangan penuh luka
dan titik itu
pucat, kecil, nyaris tak ada
tapi kami ada:
kami berdarah
kami mencinta
kami berdoa
kami bertahan
titik itu—
adalah altar
adalah kawah neraka
adalah rumah
adalah kita
dan langit
tetap gelap
tetap diam
tetap membisu
2025
Tersesat di Peta Indonesia
Aku berjalan dari reruntuhan toko buku
Menghisap rokok yang kulinting
Dari sobekan puisi
Dan mimpi-mimpi
Kususuri jejakmu di trotoar retak
Di cahaya neon redup
Di lorong-lorong senyap
Tersesat di peta indonesia
Aku bertanya padamu:
Puisi macam apa yang bisa bertahan hari ini?
Di genggaman tangan tentara
Di bawah baliho politisi
Di atas mimbar doa dan pidato dusta
Di balik kamera cctv yang mengintai
Tiap nafas kita
Anak-anak dibungkam karena bertanya
Perempuan ditelanjangi atas nama moral
Para pencinta dihakimi karena mencintai
Dan kata “dosa” dijadikan batu suci
Merajam kaum yang berbeda
Aku bertanya padamu:
Puisi macam apa yang bisa bertahan hari ini?
Banyak penyair kini menggantung pena mereka
Di rak-rak kafe
Menyeduh puisi dari busa latte
Memuja daun gugur dan senja
Di balik jendela kaca
Dan menyebut itu: meditasi
Di tengah penjajahan tubuh dan pikiran
Di mana api yang membakar, chairil?
Di mana kata-kata yang mengguncang tubuh tuhan?
Mengapa mereka hanya menulis tentang mata perempuan,
Rindu dan cinta yang sendu?
Aku tersesat di peta indonesia
Dan aku akan terus berjalan
Sampai kata-kata kembali membara
Sampai puisi kembali jadi binatang jalang
Sampai dunia tahu
Bagaimana rasanya luka manusia
Bagaimana rasanya terbuang di negeri sendiri
2025
Nyanyian Bara
kucoba menyebut namaMu
tapi huruf-hurufnya meleleh
di langit-langit mulutku
seperti lilin
yang disulut dari dalam dada
logika pun runtuh
di depan tubuh yang hangus dan pecah
karena bahasa tak pernah cukup
menjelaskan mengapa bayi bisa mati di dekapan doa
mengapa tuhan menangis di tiang hukuman
kutulis kata damai
di pasir
tapi ombak datang membawa bom
dan menghapus setiap makna
dengan desis darah
kubaca kitab suci dan lembaran sutra
di reruntuhan sekolah
lalu menyobek halaman terakhir
karena yang tersisa
hanyalah tangisan dan karat
aku tak bisa mengatakannya,
tentang cinta yang dikuliti
tentang nyawa yang ditimbang di meja diplomasi
tentang nama Tuhan yang ditera pada rudal-rudal perang
maka aku menyanyikannya
dengan suara terbakar:
aaaaaaa
suara yang menjalar di kawat berduri
menggema di dinding penjara
mengalir di radio rusak
dan berdesir sunyi di tenggorokan
pelacur tua yang merindukan surga
aku menyanyikannya
karena bahasa telah gagal
aku menyanyikannya
karena doa telah membatu
aku menyanyikannya
karena hanya bara
satu-satunya cara bicara:
aaaaaaa
Ubud, 2025
Memento Mori
di balik kaca kamar mayat
kulihat bayangku sendiri—
mata kosong, bibir membiru
seperti puisi yang gagal menemukan dirinya sendiri
aku hidup
dengan jam pasir di dada
butir-butir waktu jatuh
menjadi serpihan doa yang berguguran
di bawah neon kumal rumah sakit,
aku dengar napas mesin
mengganti bisikan para malaikat
dan detak jantung jadi kode Morse
berdenging panjang
ingat mati—
bukan untuk takut
tapi agar kita tahu
bahwa tiap pelukan bisa jadi terakhir
bahwa tiap ciuman bisa beraroma formalin
ingat mati—
karena hidup ini
tak lebih dari silet yang menari
di atas kulit nurani
aku menyalakan rokok
bagi bibir dan jiwaku yang hangus,
dan meneguk arak Bali dari cawan luka
seraya berbisik:
apakah Kau benar ada,
atau hanya gema dari ketakutan kami?
sudah cukup banyak salib
dan takdir tergantung di tiang gantungan
sudah cukup banyak surga
dijual dalam iklan-iklan pemilu
aku tuliskan di dinding kamar mandi
dengan darah, liur, dan tinta keputusasaan:
kita semua akan mati
dan hanya lagu sumbang kita
yang mungkin tersisa
mengendap di lubang langit
Ubud, 2025
Aku
Oh, jangan katakan
aku adalah anak Adam
aku terlahir dari jalan raya
dari pohon pinus dan sawah-sawah
dari debu, lumpur, dan cahaya matahari
jangan katakan
aku merindukan bidadari
rinduku pada cakrawala
dan langit berbintang
jangan katakan
aku adalah hamba atau wayang
aku adalah badai
mengembara
membawa bara api di dada
BIODATA
Santi Maulana Aria adalah nama pena Arya Soetanjung. Ia lahir di Surabaya, 5 Mei 1987. Kini berdomisili di Ubud, Bali.













