KARANGASEM, Balipolitika.com– Pada usia hampir 58 tahun, I Made Silib atau akrab disapa Jero Olas masih mampu memanjat 13 pohon lontar setinggi belasan meter dua kali sehari tanpa alat pengaman; hanya bermodalkan canggahan yang dibuat manual.
Aktivitas ini dilakukan setiap pagi antara pukul 04.00 hingga 08.00 Wita dan sore hari pukul 16.00-19.00 Wita untuk menyadap air nira pada pohon lontar.
Pekerjaan ini, telah dijalaninya selama empat dekade atau 40 tahun untuk memenuhi kebutuhan hidup dan menyekolahkan anak-anaknya serta mempertahankan tradisi pembuatan gula lontar khas Desa Tianyar Barat, Kabupaten Karangasem.
Jero Olas merupakan petani gula lontar yang mempertahankan proses produksi secara alami dan ramah lingkungan.
Ia berasal dari Dusun Muntigunung, Desa Tianyar Barat dan sejak muda telah menyadap pohon lontar dan mengolah berbagai hasilnya untuk memenuhi kehidupan sehari-hari.
Hingga kini, pekerjaan tersebut masih menjadi sumber penghasilan utama keluarganya.
“Tiang sudah menyadap pohon lontar sejak tahun 80-an hingga sekarang. Astungkara tiang masih kuat bekerja untuk memenuhi kebutuhan. Anak muda zaman sekarang sama sekali tidak ada yang mau menjadi petani pohon lontar, sama sekali tidak ada. Mau tidak mau tiang harus tetap bertahan,” ujar Jero Olas.
Proses pembuatan gula lontar diawali dengan menyadap air nira pada bunga lontar atau puji.
Petani harus membawa ember dan pisau untuk memotong ujung bunga lontar agar meneteskan air nira dan proses ini harus rutin dilakukan dua kali sehari.
“Jika tidak dilakukan secara rutin dan disiplin, wah kacau sudah, tidak akan berhasil mengumpulkan air nira secara maksimal,” tutur Jero Olas sembari menyebut jika tidak diambil secara rutin, maka air nira akan membusuk.
Karena kedisiplinan itulah dalam sehari Jero Olas mampu mengumpulkan puluhan liter nira dari belasan pohon lontar yang disadapnya.
Setelah terkumpul, Jero Olas akan langsung merebusnya dengan cara unik, yakni menggunakan perapian tradisional berbahan kayu bakar yang diperoleh di lahan miliknya sendiri.
Air nira ini direbus selama kurang lebih 3 hingga 4 jam untuk mengendapkan sari-sari gula pada air nira.
Dalam prosesnya Jero Olas mengutakan kealamian dan ramah lingkungan sehingga hanya menggunakan bahan tambahan tradisional berupa pamor atau cuka untuk membantu pengendapatan sari gula.
Setelah mengendap sempurna, selanjutnya adonan akan mengental dan diturunkan dari panggangan kemudian didinginkan sambil diaduk agar tidak menggumpal sebelum dituangkan ke cetakan.
Dalam pengemasan gula, hingga kini Jero Olas menggunakan bahan yang ramah lingkungan, yaitu daun lontar yang digulung.
Dalam satu kemasan, gula-gula tersebut memiliki berat setengah kilogram dan dibandrol dengan harga Rp25.000 per kilogram.
“Dalam sebulan tiang berhasil menjual gula sekitar Rp2 juta hingga Rp3,5 juta,” ungkap Jero Olas.
Selain itu, hasil lontar seperti buah dan daunnya juga ia olah sendiri.
“Buah lontar terkadang tiang konsumsi atau tiang jadikan pakan ternak sapi. Daun lontar yang masih berupa pucuk, akan diolah oleh istri tiang dijadikan kerajinan, kemudian ranting (perapah) dan daun yang sudah kering tiang jadikan bahan perapian,” tandasnya.
Dari hasil pembuatan kerajinan, Jero Olas mengaku mampu memperoleh tambahan uang sekitar Rp300.000 hingga Rp500.000 per bulan.
Digempur kemajuan zaman, Jero Olas tetap mempertahakan cara-cara tradisional untuk menyadap hasil dari pohon lontar.
Baginya, lontar sudah menjadi bagian dari hidupnya dan dari pohon itu ia mampu memenuhi kebutuhan sehari-hari bahkan mampu menyekolahkan empat anaknya hingga perguruan tinggi. (bp/I Ketut Agus Wijaya/4A/Basindo/Undiksha)













