TEPAT di pagi itu, langit mendung dan gerimis menggelayuti Moskwa. Begitu keluar dari stasiun metro di dekat lapangan merah, angin dingin merayap dalam dekapan mantel bulu yang baru dibeli selapas turun di bandara Sheremetyevo, lengkap dengan syal tebal, sarung tangan, dan sepatu bot hangat. Suhu udara di hari Minggu ini minus 15 derajat celsius, di tengah musim dingin.
Agenda berlibur di tengah cuti kerja tak kusia-siakan hilang begitu saja. Berbekal uang tabungan selama tiga bulan, aku dan Rasti juga Revan anakku sudah menjadwalkan untuk berlibur ke Rusia. Bertepatan dengan perayaan hari kemenangan Rusia yang selalu diperingati setiap tanggal 9 Mei. Sebuah hari bersejarah tentang penyerahan tanpa syarat nazi Jerman yang mengakhiri Perang Dunia II di Eropa dan perang patriotik raya bagi Uni Soviet. Aku dan keluarga kebetulan harus berangkat pada 10 Mei karena padatnya jadwal tiket yang ada.
Pandangan mata segera tertumbuk pada bangunan megah berdinding merah diujung jalan. Namun, sebelum bisa sampai di depannya, deretan pos pemeriksaan dengan tantara yang berjaga sudah menghadang Langkah. Aku coba bertanya dengan warga sekitar yang kebetulan juga berlibur.
“Kenapa banyak sekali penjagaan di sini ya,”jawabaku basa-basi.
“Sedang ada acara peringatan hari kemenangan. Jadi ada penjagaa,” jawabnya dengan santai. Dalam beberapa percakapan berikutnya baru diketahui bahwa dia ternyata warga negara Indonesia yang sudah tujuh tahun tinggal di Moskwa.
Satu persatu tas diperiksa. Antrean mengular. Namun pemeriksaan tak berjalan lama. Pengunjung bisa langsung menuju lapangan luas yang dikelilingi berbagai bangunan bersejarah. Musik bernuansa perjuangan menggema. Ada dua panggung besar di tengah Lapangan Merah. Menampilkan sekelompok pemusik klasik khas Negeri Beruang Merah.
Di layar lebar ditayangkan film perang. Di sisi kiri tertulis 1945, di sisi kanan tertulis 2025. Orang-orang dengan variasi bentuk tubuh ada yang dduk, berdiri sembari menyimak film. Anakku yang sudah berusia 14 tahun suka sekali dengan aneka film perang. Tak heran jika dai sangat kagum dengan gaya kepemimpinan vlademir putin yang begitu heroic jika soal strategi perang global.
Dari berbagi sudut lapangan, penampil berbusana tantara berbaris, menarik perhatian pengunjung. Seorang perempuan berbusana era perang berpose, menjadi target bidikan kamera pengunjung. Istriku juga tak kalah sigap, mengabadikan momen bersejarah yang jarang sekali didapati dalam hidupnya.
Lapangan Merah memang layak diabadikan. Di tempat itu, acara-acara penting dari politik, upacara, hingga pesta berlangsung sejak berabad-abad lalu. Luasnya sekitar 73.000 meter persegi dengan bentuk nyaris persegi empat. Panjangnya 300 meter dan lebarnya 70 meter. Letaknya tepat di dinding timur Kremlin, pusat pemerintahan Rusia.
“Itu kantornya presiden Vlademir Putin,” ucarku sembari disambut antusias sumringah Revan.
“Aku mau ke sana Ayah,” jawabnya dengan semangat.
“Di sana hanya orang-orang Istimewa yang bisa menjadi bagian dari kemegahan istana presiden,” jawabku disambut muka masam anakku.
Bangunan berdinding merah yang pertama kali menyapa mata seturun dari kereta bawah tanah adalah museum Sejarah negara yang berada di sisi utara. Museum itu memamerkan relik dari masa prasejarah hingga masa modern Rusia. Total koleksi museum disebut mencapai jutaan unit. Didirikan pada 1872 untuk mempromosikan sejarah Rusia dan mengampanyekan kesadaran nasional.
Di sisi barat Lapangan Merah terdapat GUM Departemen Store. Sejak didirikan antara tahun 1890 dan 1893, bangunan ini memang dimaksudkan sebagai pusat perniagaan. Semasa era Soviet, yang berjualan di tempat itu hanya negara Soviet. Sebelum tahun 1920, tempat ini dikenal sebagai Upper Trading Rows.
Di sisi timur lapangan merah berdiri Mausoleum Lenin. Di sana terbaring jenazah pemimpin Soviet, Vlademir Lenin yang meninggal tahun 1924. Bangunan makam tersebut berbentuk persegi berundak mirip piramida, tepat di dinding Kremlin.
Sementara di sisi selatan berdiri Katedral St Basil yang terkenal dengan kubahnya yang berbentuk seperti bawang dan berwarna-warni cerah. Ini adalah gereja ortodoks Rusia dan simbol budaya paling terkenal di Rusia. Bangunan ini sekarang sudah menjadi museum. Katedral St Basil didirikan pada 1555-1561 atas perintah Tsar Ivan IV atau yang dikenal sebagai Ivan yang mengerikan (Ivan the Terrible) untuk memperingati penaklukan Kazan dan Astrakhan. Ada Sembilan kubah bawang di atap katedral.
Bangunan Katedral St Basil yang megah inilah yang menjadi primadona pengunjung untuk berswafoto. Kubah dan warnya yang unik menjadi daya tarik tersendiri untuk dibadikan dalam layar ponsel. Sayangnya meski dibujuk oleh ibunya, Revan tampak tak ada selera untuk melakukan sesi foto Bersama.
Anakku sepertinya lebih tertarik membaca berulang laporan The Moscow Times edisi 9 Mei 2025 yang menyebutkan sekitar 11.000 tentara dalam parade mliter yang dipimpin langsung oleh presiden Vlademir Putin dari Kementerian Pertahanan dan badan keamanan Rusia termasuk Badan Keamanan Federal (FSB) dan Garda Nasional turut berbaris dalam parade besar di tanggal tersebut.
Ketertarikannya dalam dunia militer mengalahkan kemegahan kota yang ditawarkan di berbagai sisi kota Moskwa. Jiwa patriotisme yang diwujudkan dalam pengabdian sebagai abdi bela negara memang diwarisan dari almarhum kakekknya yang tak lain adalah pensiunan jendral yang pernah memimpin agresi perdamaian di Timor Timur. Sayangnya jiwa militernya yang berlaku bagi anaknya sendiri. Aku lebih suka bisnis dan membangun banyak relasi di berbagai kota bahkan sampai ke mancanegara.
“Kenapa Ayah tak tertarik dengan parade militer. Jauh-jauh ke Rusia bukannya semangat menyaksikan perayaan kemenangan Rusia dengan aksi para militer dan peralatan tempur yang menakjubkan. Malah sebaliknya sibuk sama urusan bisnisnya,”
“Iya maaf Revan, ayah kebetulan punya relasi bisnis di sini jadi gak sempat menyaksikan,”
“Ah…, payah,” jawabnya ketus.
Aku mencoba mengalihkan dengan mengajaknya untuk mampir di beberapa destinasi wisata dekat kota Moskwa yaitu taman Gorky yang terletak di sepanjang Sungai Moskwa. Mengisahkan tentang keindahan yang ditawarkan; ruang hijau yang luas. Fasilitas olahraga, dan acara budaya.
Sayangnya anakku tak begitu tertarik, dia lebih memilih diam dan mencoba membaca Kembali laporan The Moscow Times yang disertai gambar parade militer yang tampak heroik dengan seragam kebesarannya.
Hari sudah beranjak sore, aku berinisiatif untuk mengajaknya menjelajahi wisata kuliner di Moskwa. Deretan restoran lokal yang dikenal dengan kantin ‘Stolovaya’ menjadi pilihan yang menjanjikan karena makanannya bergizi dan terjangkau. Ada banyak makanan lokal yang tersedia, salah satunya berupa Borsch atau sejenis sup merah kaya rasa dari bit, sayuran, dan daging. Beef Stroganoff, sejenis irisan daging sapi tumis dengan saus krim asam, jamur dan bawang.
Dalam hal minuman tidak perlu mewah, cukup minuman Kompot, yaitu minuman dari buah-buahan yang direbus, bisa dijadikan dingin ata hangat. Bukan sejenis Vodka yang terkenal dengan minuman alkohol ikonik Rusia, disuling dari biji-bijian dan sering dinikmati untuk acara sosial dan perayaan.
“Kenapa kita tidak datang saat perayaan kemenangan Rusia,” tanya anaku memecah keheningan obrolan sore itu. Aku hanya tersenyum menanggapi.
“Mestinya kita datang bulan kemarin, tepat di tanggal 9 Mei. Pasti akan sangat ramai jalanan di sudut-sudut kota Moskwa ini,” raut wajahnya menampakkan kekecewaan yang mendalam.
“Jika kita datang saat itu, kita tidak bisa menikmati suasana yang lebih romantis di sini,” jawabku basa-basi.
“Ah.. itu karena alasan Ayah saja.”
“Jika kita dipaksakan pastilah kita tidak akan mennyaksikan parade militernya juga. Sebab hanya orang-orang tertentu saja yang bisa hadir,”
“Alasan klasik. Jika ditanya pastilah itu jawabannya”
“Semoga tahun depan kita bisa menyaksikan secara langsung,” jawabku penuh harap.
“Janjinya tahun depan terus. Padahal ini sudah yang ketiga kalinya kita ke sini,” aku hanya bisa menampilkan dengan senyuman untuk yang kesekian kalinya. Tak peduli dengan muka masam anakku yang mulai tak bersahabat dengan suasana.
Angin berhembus merayapi sudut jalanan kota Moskwa, hilir mudik wisatawan mancanegara tampak sumringah menikmati suguhan dengan variasi kuliner lokal yang memanjakan lidah. Revan sepertinya tak menikmati suasana itu. Dia tampak gelisah dengan pikiran kosong. Segelas kompot dengan aroma jeruk sepertinya kaku karena belum dicicipi sama sekali olehnya.
“Revan, Ayah sebenarnya tidak suka dengan dunia militer. Makanya ayah tidak memberikanmu izin untuk memiliki ketertarikan dengannya,” semua diam.hanyut dalam pikirannya masing-masing.
“Apa sih sebenarnya alasan Ayah?” revan memberanikan dirikan diri memecah kesunyian.
“Ayah takut kehilangan untuk yang kedua kalinya”
“Maksud Ayah!”
“Dulu di saat Ayah masih seusiamu harus merelakan kepergian kakekmu karena gugur saat pertempuran melawan gerilya di Timor Timur. Sejak saat itu ayah benci dengan yang namanya militer, bahkan Ayah berjanji untuk memupus keteratarikan Ayah dulu memenuhi Impian kakekmu, termasuk ketertarikan anak Ayah sendiri.”
Aku melihat anakku tertunduk lesu mendengar pengakuan yang sebenarnya. Raut kekecewaan bercampur dengan kenyataan pahit tak bisa disembunyikan. Tapi kuyakin kelak dia pasti akan percaya bahwa pengakuan rasa cinta perlu waktu untuk berdamai dengan suasana.***
BIODATA
Khazin lahir di Sumenep, Jawa Timur. Kini tinggal di Denpasar sebagai guru Bahasa Indonesia di SMK Penerbangan Cakra Nusantara.













