BADUNG, Balipolitika.com– I Wayan Disel Astawa, Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) Kabupaten Badung turut menyampaikan penolakan terkait rencana bergabungnya Ketua Umum Projo, Budi Arie Setiadi ke parpol besutan Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto.
Terkecuali Ketum Projo Budi Arie, I Wayan Disel Astawa yang juga mengemban amanah sebagai Wakil Ketua DPRD Provinsi Bali menegaskan Partai Gerindra sangat terbuka kepada siapa saja.
Dengan catatan mereka berstatus Warga Negara Indonesia (WNI), berusia di atas 17 tahun atau sudah menikah, dan bersedia mematuhi Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) partai.
“Gerindra partai politik yang sangat terbuka, kecuali untuk Budi Arie, Ketua Umum Projo. Kenapa? Karena Ketua Umum Projo, Budi Arie Setiadi kita ketahui semua telah bermanuver seolah menghalalkan segala cara sampai-sampai mau mengubah logo Projo yang terang-benderang adalah wajah Presiden RI ke-7, Joko Widodo menjadi logo yang lain,” ucap I Wayan Disel Astawa, Sabtu, 8 November 2025.
Berkomitmen menjaga wibawa Partai Gerindra sebagai rumah perjuangan, I Wayan Disel Astawa menilai Ketum Projo Budi Arie Setiadi terkesan ingin selalu dekat dengan kekuasaan dan menjadikan Partai Gerindra sebagai rumah singgah politik pasca lengser sebagai menteri.
Sebagaimana diketahui, saat Jokowi resmi lengser dari jabatan orang nomor 1 di Republik Indonesia pada bulan Oktober 2024 silam, relawan garis keras Jokowi, Projo yang dipimpin Budi Arie Setiadi langsung berkeinginan menjadi partai politik (parpol).
Kala itu, menurut Projo, jika Jokowi sudah tidak menjabat Presiden RI, maka sebaiknya ayah Gibran Rakabuming Raka itu memimpin sebuah parpol.
Hitung-hitungannya, hal tidak lepas dari popularitas Jokowi di kalangan masyarakat bahkan Projo mengklaim Jokowi sangat dicintai rakyat Indonesia.
Cita-cita itu tak terwujud, tiba-tiba Projo menyatakan tidak akan membentuk parpol sendiri bahkan mau mengubah logo mereka alias menghilangkan siluet wajah Jokowi demi menjaga peluang masuk Partai Gerindra.
Terkecuali Budi Arie, I Wayan Disel Astawa mengajak masyarakat Indonesia, khususnya Provinsi Bali dan Badung untuk berdisiplin sebelum masuk ranah partai politik, khususnya Gerindra.
Ungkapnya harus ada kualitas, ada loyalitas kader itu sendiri sehingga bisa memperkuat fondasi partai.
“Yang utama adalah Partai Gerindra sangat terbuka kepada masyarakat Kabupaten Badung dan seluruh Indonesia. Bukan semata-mata partai bernafas pada keluarga. Jadi, partai ini sangat terbuka untuk memajukan daerah, memajukan provinsi, dan memajukan bangsa Indonesia, tetapi tidak untuk Saudara Budi Arie” tegasnya.
Lebih jauh, I Wayan Disel Astawa menekankan bahwa siapa pun Warga Negara Indonesia (WNI) boleh mendaftarkan diri sebagai kader Partai Gerindra tanda memandang latar belakang yang bersangkutan.
“Kami tidak pernah memandang orang kaya atau miskin, yang penting niat dan loyalitasnya. Kualitas dan loyalitas tidak ditentukan dan tidak dinilai dari kekayaan atau uang, melainkan dinilai dari kepribadian seseorang untuk menuju sebuah kemajuan bersama Partai Gerindra,” tandasnya.
“Bapak Presiden berkata bahwa setiap orang harus mempunyai sikap dan pribadi membantu banyak orang. Apabila tidak bisa membantu banyak orang, bantulah beberapa orang. Kalau tidak bisa beberapa, bantulah satu orang. Apabila tidak bisa membantu satu orang minimal jangan sakiti orang lain,” imbuh I Wayan Disel Astawa.
Dipertegas bahwa Partai Gerindra adalah partai kader yang tumbuh melalui proses panjang, pengorbanan, dan kesetiaan, bukan melalui jalan instan atau kepentingan sesaat sebagaimana yang tampak pada sosok Ketua Umum Projo, Budi Arie Setiadi. (bp/ken)













