JAKARTA, Balipolitika.com- Internet Murah 100 Mbps. Seorang pengamat pasar modal dan ekonomi digital, Bennix, mendesak Pemerintah Indonesia segera mengubah status akses internet menjadi infrastruktur ekonomi primer. Ia menyebut, langkah fundamental ini merupakan kunci utama mencapai target ambisius Produk Domestik Bruto (PDB) 8 persen dalam waktu singkat.
Bennix secara eksplisit menyarankan penetapan harga maksimal Rp50.000 per bulan dengan kecepatan minimal 100 Mbps untuk masyarakat. “Pemerintah harus berani mengakui internet sebagai infrastruktur vital, setara jalan tol atau pelabuhan, karena ini fondasi ekonomi modern yang tidak bisa ditawar lagi,” ujar Bennix di kanal youtubenya.
Indonesia menghadapi tantangan besar karena kecepatan internetnya masih tertinggal jauh di kawasan Asia Tenggara. Data menunjukkan kecepatan rata-rata internet nasional hanya menyentuh angka 28 Mbps, menempatkan Indonesia pada peringkat ke-8 dari 8 negara di kawasan tersebut.
Selain lambat, harga paket data di Indonesia juga tergolong mahal, mencapai Rp6.800 per Mbps, jauh di atas Singapura yang Rp500 per Mbps. “Kecepatan internet kita hanya 28 Mbps, jauh dari Singapura yang 129 Mbps, ini menghambat daya saing kita di pasar global,” kata Bennix.
Para peneliti meyakini penguatan infrastruktur digital ini akan memberikan bonus signifikan bagi pertumbuhan ekonomi nasional. Riset Bank Dunia menemukan bahwa kenaikan 10 persen pada kecepatan internet suatu negara berkembang dapat menyuntikkan bonus PDB sebesar 1,2 persen hingga 1,5 persen.
Sektor ekonomi digital sendiri kini telah berkontribusi sebesar 14 persen terhadap PDB Indonesia, senilai Rp2.300 triliun, dan diproyeksikan melonjak drastis menjadi Rp5.400 triliun pada tahun 2030. “Jika kita mewujudkan internet cepat, stabil, dan murah, PDB Indonesia akan langsung mendapat bonus 1,5 persen, ini adalah mesin pendorong PDB 8 persen,” jelasnya.
Akses internet cepat dan terjangkau akan memberikan dampak positif yang masif pada sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) serta perdagangan. Kemudahan akses e-commerce dan platform digital akan membuka pasar yang lebih luas bagi pelaku UMKM di daerah.
Mereka bisa menjangkau pasar lokal, nasional, dan bahkan global tanpa harus mengeluarkan modal besar untuk membangun toko fisik. “UMKM akan mudah mengakses pasar global melalui e-commerce; pedagang di pelosok bisa menjual produknya hingga ke Filipina dan Malaysia asalkan akses internetnya stabil,” tegas Bennix.
Sektor pertanian pun akan merasakan lonjakan produktivitas luar biasa dengan ketersediaan koneksi internet prima. Para petani dapat mengakses data harga komoditas terbaru dan informasi cuaca dari BMKG secara real-time, meminimalkan risiko gagal panen.
Penggunaan teknologi Internet of Things (IoT) dalam mengelola kebun atau sawah juga akan menjadi lebih efisien. “Petani kita bisa mengecek data BMKG dan menggunakan aplikasi IoT untuk menekan biaya produksi secara signifikan, sehingga hasilnya lebih maksimal,” ujarnya.
Peningkatan mutu Sumber Daya Manusia (SDM) Indonesia akan terakselerasi berkat kemudahan akses terhadap pendidikan online dan kursus daring. Kualitas pendidikan dapat ditingkatkan secara massal tanpa harus membangun puluhan ribu gedung sekolah baru dari Sabang sampai Merauke.
Hal ini akan meningkatkan daya saing individu di dunia kerja global. “Internet akan memfasilitasi edukasi skala massal, setiap orang bisa kursus online mandiri, ini cara cepat meningkatkan kualitas SDM dan inovasi nasional,” tambah Bennix.
Selain sektor-sektor tersebut, digitalisasi pelayanan publik juga akan membantu Pemerintah memangkas birokrasi dan kebocoran dana negara. Bennix menyoroti bahwa implementasi e-government dan e-procurement akan mempercepat pelayanan pembuatan SIM, KTP, dan perpanjangan STNK.
Proses yang biasanya memakan waktu berhari-hari kini bisa diselesaikan dalam hitungan jam, menghemat waktu dan biaya. “Digitalisasi akan membuat birokrasi lebih ringkas dan transparan, sekaligus sangat efektif mengurangi potensi korupsi pada pelayanan publik,” katanya.
Di sisi lain, kebijakan internet murah ini juga memiliki nilai politis yang sangat strategis bagi keberlanjutan kekuasaan Presiden Prabowo. Bennix menilai, upaya ini akan berhasil memenangkan hati Generasi Z (kelahiran 1997-2012) yang merupakan konstituen terbesar. Gen Z akan mendominasi porsi pemilih (48 persen) pada Pemilihan Umum (Pemilu) 2029 mendatang. “Anak-anak Gen Z sangat bergantung pada internet untuk aktivitas sehari-hari, siapapun presiden yang memudahkan hidup mereka, pasti akan mereka coblos pada 2029,” pungkas Bennix. (BP/CHA).













