DIPICU oleh penulis dan penyair Fileski Walidha Tanjung (baca https://balipolitika.com/2025/12/03/resonansi-yang-menghidupkan-sebuah-pertemuan-dengan-ananda-sukarlan/) dan direspons oleh Ali Muchson di website-nya yang populer membahas segala macam soal Surabaya di http://www.alisson.id, tema “Fenomena Surabaya” dalam hal musik klasik ternyata menggelitik banyak orang dan menjadi tema utama pembicaraan di akhir 2025.
Ternyata “Fenomena Surabaya” terbukti sebagai fakta dan bukan mitos, melihat hasil babak grand final Kompetisi Piano Nusantara Plus (KPN+ ) di Jakarta 13-14 Desember 2025 lalu di mana peserta Surabaya mendominasi kejuaraan dan juga paling banyak meraih Golden Ticket to Ananda Sukarlan Award (ASA) 2027.
Golden Ticket ini berarti mereka dapat langsung masuk ke babak final ASA 2027 tanpa melalui babak penyisihan atau semi final, yang sebetulnya paling sulit. Banyak yang beranggapan, masuk babak final ASA berarti “sudah menang” karena secara teknik permainan sudah dianggap mapan.
Bagi saya, tentu ini belum cukup, ibaratnya mereka sudah berhasil membangun sebuah rumah yang fondasi sampai atapnya kuat, tapi bagaimana mereka mengecat dindingnya dan mendesain interior dan perabotannya baru kita bisa lihat di babak final.
Berbagai tulisan kami sejak akhir November 2025 lalu banyak diperbincangkan sehingga saya sering “dihadang” dan ditanya-tanya banyak hal. Ada 195 finalis KPN+ saat itu yang datang dari 11 kota, jumlah itu tersaring dari total 587 peserta bahkan lebih kalau dihitung anggota grup musik duo yang ada (seperti piano 4 tangan atau duo biola & piano) dan saya berkeputusan untuk menuliskan apa saja yang saya ingin jawab atas semua yang mereka ingin saya respons.
Dengan membludaknya peserta dan bertambahnya kota-kota penyelenggara KPN+ di tahun 2025, ada beberapa kota atau region lain yang akan bergabung di 2026, termasuk Bali. Bali, yang tadinya “hanyalah” destinasi wisata budaya etnik yang kuat, ternyata juga ingin membuktikan eksistensinya di dunia seni yang masih dianggap “Barat” ini.
Ini juga membuktikan bahwa musik adalah bahasa yang universal untuk berkomunikasi, dengan genre yang bahkan bisa kelihatan sangat berbeda jauh. Karya saya untuk piano Rapsodia Nusantara no. 10, no. 42, tembang puitik dari puisi Rabindranath Tagore “Go Not To The Temple” yang notabene ditulis sewaktu sang pujangga India sedang di Bali, dan banyak karya saya lainnya tidak akan tercipta tanpa pengaruh dan pengetahuan saya tentang musik asli Bali.
Kompetisi Piano Nusantara Plus ini telah menjadi barometer minat, kualitas dan kuantitas gen Z dan gen alpha dalam musik klasik di Indonesia. Ini bisa jadi bahan penelitian bagi para mahasiswa musik yang ingin mengetahui situasi pendidikan musik saat ini di Indonesia.
Pendidikan musik (klasik) pada umumnya di Indonesia masih menggunakan metode yang digunakan waktu saya mulai belajar piano tahun 1970-an, dan metode itu jugalah yang digunakan oleh para guru piano saat mereka mulai belajar piano tahun 1950-an.
Berarti, sudah sekitar 70 tahun atau mungkin lebih, metode pengajaran piano –yang notabene tidak begitu efektif — masih belum berubah, sementara bidang-bidang seperti fisika, sains, dan bahkan pengajaran musik populer telah mengalami perubahan revolusioner selama abad terakhir.
Fondasi pendidikan piano tradisional sebagian besar dibangun melalui metode yang menekankan latihan teknik yang kaku dan cukup membosankan seperti tangga nada, arpeggio, etude (seperti karya Czerny atau Hanon yang lebih banyak menghasilkan korban akibat kebosanan latihan piano daripada “penyintas”nya).
Pelajaran biasanya mengikuti sistem penilaian hierarkis (seperti yang digunakan oleh metode ABRSM, Trinity atau RCM), di mana siswa dituntut menguasai karya-karya tertentu, tangga nada, dan membaca not balok sebagai persiapan untuk ujian dan resital.
Model ini, dengan fokusnya pada eksekusi not tanpa kreativitas, posisi tangan yang tepat, dan reproduksi yang patuh terhadap partitur (belum tentu maksud komponisnya), tidak banyak berubah.
Beberapa faktor menjelaskan konservatisme yang luar biasa ini. Pertama, repertoar itu sendiri. Memperkenalkan sejumlah besar musik klasik kontemporer apalagi improvisasi jazz, pop, atau soundtracks sering dianggap sebagai penyimpangan dari pelatihan serius daripada sebagai pengayaan.
Kedua, sejarah musik klasik di Indonesia sangat berpengaruh. Para musikus klasik pertama Indonesia yang kuliah di luar negeri adalah anak-anak pejabat tinggi zaman Soekarno yang hanya memiliki fasilitas tapi belum tentu bakat. Mereka dilatih dalam sistem ini, dan hanya mampu memainkan repertoire yang terbatas sehingga mewariskan latihan, penjarian dan tradisi interpretasi yang sama yang mereka terima saat kuliah.
Model pengajaran piano yang mirip magang menciptakan garis keturunan langsung: seorang murid dari murid mereka masih mengajar dengan cara yang sama hingga saat ini. Melepaskan diri dari garis keturunan ini berisiko dianggap “kurang sah”.
Pendekatan ini dapat terasa kaku dengan penekanan pada disiplin, pengulangan, dan koreksi daripada kreativitas atau ekspresi pribadi. Meskipun beberapa pendidik modern telah memasukkan elemen-elemen seperti metode Suzuki (pembelajaran berbasis mendengarkan), Orff, atau metode saya di “Alicia’s Piano Books” yang berdasarkan — dan bertujuan — ke aktivitas yang lebih berpusat pada siswa (dalam hal ini sudah dicoba ke anak saya, Alicia, lewat kejadian-kejadian harian kami), hal-hal ini tetap merupakan pengecualian daripada norma dalam pendidikan piano klasik yang “serius”.
Sebagian besar les privat dan sekolah musik berorientasi ujian masih berputar di sekitar tangga nada dan karya-karya yang sama. Di era perubahan teknologi dan budaya yang pesat, konservatisme pendidikan piano klasik anak-anak menonjol sebagai kekuatan sekaligus keterbatasan.
Hal ini telah melestarikan warisan artistik yang luar biasa dan menghasilkan generasi musisi yang terampil. Namun, hal ini juga menimbulkan pertanyaan tentang aksesibilitas, relevansi, dan apakah seratus tahun ke depan akhirnya akan melihat evolusi yang lebih substansial dalam cara kita memperkenalkan anak-anak pada keindahan musik klasik yang mendalam.
Namun, untuk saat ini, memasuki les piano pada tahun 2025 bisa sangat mirip dengan apa yang akan dirasakan pada tahun 1925 — sebuah bukti kekuatan tradisi yang abadi.
Saya bahagia bahwa di dunia vokal klasik Indonesia tidak terjadi hal serupa seperti di piano. Banyak sekali puisi penyair muda telah menjadi bagian dari repertoire vokal klasik.
Di kategori Tembang Puitik selama KPN+ 2025 ada 9 vokalis (soprano, mezzo soprano, bariton) yang telah tembus ke babak final di Jakarta, dan kebetulan sekali ada 4 tembang puitik favorit yang dipilih oleh mereka untuk menunjukkan teknik dan kedalaman musikalitas mereka di babak yang akan sangat tangguh ini (pilihan lagu bebas, tanpa sepengetahuan saya): Untuk babak final KPN+ tanggal 14 Desember lalu saja telah dipilih oleh 9 vokalis puisi-puisi:
– “Dialog Sesama Virus Corona Tentang Koruptor” (Riri Satria): dinyanyikan 3 vokalis, antara lain oleh Dwi Rahma Aulia dari Sumatra Barat yang walaupun menjadi juara ke-3, buat saya adalah salah seorang pemenang utama KPN+ 2025 karena 2 alasan: 1. Lonjakan kualitas artistik dari semi final September lalu ke final. Jelas terdengar Aulia memoles tekniknya dengan sangat intensif selama 3 bulan ini. 2. Pemilihan repertoire: ia sengaja memilih puisi dari “putra Minang” yaitu Riri Satria. Ini penting untuk karirnya sebagai musikus dalam hal diplomasi budaya dan pemapanan identitas atau personal branding.
– “Parafrase Ibu” (Muhammad Daffa) dan Seonggok Bangkai (Ewith Bahar): masing-masing dinyanyikan 2 vokalis.
– “Dari Duka Masa Lalu” (Sihar Ramses Simatupang): dinyanyikan 1 vokalis
– “Bunga” (Ready Susanto): dinyanyikan 1 vokalis
Selama babak semi final, para finalis serta mereka yang belum beruntung menembus ke babak final ini juga menyanyikan tembang puitik saya dari Helvy Tiana Rosa, Tengsoe Tjahjono dan Nanang Suryadi selain para penyair yang telah “melegenda” seperti Sapardi Djoko Damono atau Joko Pinurbo.
Puisi “Seonggok Bangkai” Ewith Bahar ini adalah favorit para vokalis tahun 2025 ini. Tapi kemudian mereka harus mengganti repertoire di babak final. Nah, puisi Riri Satria, “Dialog Sesama Virus Corona Tentang Koruptor” yang menjadi favorit di final, mungkin karena tingkat virtuositasnya yang cukup tinggi.
Baik puisi Ewith Bahar maupun Riri Satria mendeskripsikan pandemi Covid-19, tapi dengan cara yang sangat berbeda. Ini membuktikan bahwa para vokalis ingin berekspresi dengan hal atau tema yang sangat kontemporer yang terjadi ke kehidupan kita.
Mungkin para vokalis dan sastrawan itu belum saling bertemu muka, tapi ini langkah pertama untuk saling berkolaborasi antar dua bidang seni, yaitu lewat produk seni mereka. Saya bahagia bisa menjadi ‘jembatan’ untuk para vokalis dan penyair. Ini juga menunjukkan bahwa musik klasik, seperti sastra, tetap hidup dan relevan dengan situasi saat ini dan sejarah masa lalu.***
BIODATA
Selain dianugerahi penghargaan tertinggi dari Kerajaan Spanyol “Real Orden de Isabel la Católica”, Ananda Sukarlan juga pernah dianugerahi gelar kesatriaan “Cavaliere Ordine della Stella d’Italia” oleh Presiden Italia Sergio Mattarella pada tahun 2020.
Ia juga seniman Indonesia pertama yang diundang Portugal tepat setelah hubungan diplomatik Indonesia dan Portugal pada tahun 2000 ini juga telah dianugerahi banyak pengakuan swasta seperti Prix Nadia Boulanger dari Orleans, Perancis.
Ananda Sukarlan adalah salah satu dari 32 tokoh dalam buku “Heroes Amongst Us (Pahlawan di Antara Kita)”, yang ditulis oleh Dr. Amit Nagpal yang diterbitkan di India. Ananda juga masuk sebagai salah satu dari 100 “Asia’s Most Influential” atau “Orang Asia Paling Berpengaruh” di dunia seni tahun 2020 oleh Majalah Tatler Asia.













