Ngaben
kita terlahir dari perut dermaga ditolong tangan bidan tua,
nama-nama yang kelak berpulang—dilarung dengan bahasa ombak
lihatlah sebelum biduk beranjak, para ibu membasuh dayung
dengan air sirih dan mantra purba penerang biduk sampai ke swah loka
ketika matahari terendam muka laut, dihitunglah tiap liang angin
agar segala yang lebur mengabu hanyut tenggelam ke pusaraMu
Lampung, 2025
Sebelum Menuju Rantau
aku tumbuh dari goa-goa cadas
di mana sunyi menyusu pada puting batu
sebelum langkah pertama ibu mengusap jidatku
dengan arang pembakaran doa-doa
agar tak sesat arah bila mata tak lagi mampu
melihat arah cahaya
aku tahu tanah selain di sini
adalah rimba yang teramat luas; belukar
yang menjegal kaki, dahan patah yang
sewaktu-waktu menimpa kepala, hewan buas,
hewan licik, hewan berbisa
maka kau ajarkan aku untuk hidup
mengingat nama-nama dewa
meniru gambar-gambar leluhur di dinding
di malam sebelum keberangkatan, ibu menyelipkan
cahaya bulan ke lekuk telinga lalu berkata:
“usah takut sebab Tuhan mendarah di tiap sumsummu..”
Lampung, 2025
Kelahiran
kita terlempar ke tanah
cacimaki
fitnahkeji
sumpahserapah
pesta darah,
lahir sebagai tragedi,bertahan hanya karena
rasa malas untuk mati.
kau dan aku
sebatang lilin
habis memakan diri sendiri.
hidup terlalu lama
dan itu satusatunya
derita
mengekor di belakang kaki kita
Lampung, 2025
Kalender Muram
kau robek waktu demi waktu pada kalender muram
angka angka berjatuhan
namun tak ada isyarat akan tiba hari di mana
tak perlu ada ketakutan; kau bisa hidup sebagai
belalang tanpa perlu risau bagaimana
cara ikan berenang, kau bisa melayang di udara
sebagai apapun menghirup segarnya tak khawatir
tersedak karbon monoksida, berlarian di hijau sabana
sebagai kijang, rusa, atau cheeta’ bebas dari
intaian mata peluru para pemburu
tetapi di kalendermu duka masih betah
mendekam menjelma hari buruk
badai yang kerap dikabarkan peramal cuaca;
angin, guntur, dan kilat menyambar—
membakar layar para pelaut, meluluhlantakkan
jagung di ladang, dedahan patah menimpa pertokoan
berserak di depan rumah saudagar
enggan membukakan pintunya
di kakimu berserak lembar lembar waktu
kau terus merobek kalendermu
merobek, merobek, merobek,
merobek, merobek, merobek,
merobek, merobek, merobek,
hingga tiba lembar ke sekian, tak ada isyarat
kabar masih saja muram
Lampung, 2025
Bermalam di Rumah Sakit
Adakah maksud dari segala yang kau tulis pada kitab tragedi itu Tuhan?
serpihan takdir menyusun dirinya jadi semacam mozaik dalam diriku, wajah yang tak kukenali begitu asing dan sangat hitam, lalu ia dongengkan sejumlah ketakutan bahwa manusia lahir dari rasa bersalah. aku meraba-raba lagi menerka sekiranya manusia terbaca sebagai apa? de profundis clamavi ad te, domine! domine, exaudi vocem meam!
segala yang putih dan pernah ternoda
peluk aku dengan tangan embunmu
Lampung, 2024
BIODATA
Bima Yuswa lahir di Bogor dan sekarang berdomisili di Bandar Lampung. Salah satu puisinya terpilih dalam ajang Payakumbuh Poetry Festival (2024). Beberapa puisinya yang lain tersiar di Tempo, Kompas, Sastra Media, Bali Politika, dan media lainnya.













