KARANGASEM, Balipolitika.com – Sektor pariwisata di kawasan Candidasa, Kabupaten Karangasem, mulai merasakan dampak dari proyek revitalisasi pantai yang tengah berlangsung. Aktivitas pekerjaan fisik di sepanjang pesisir pantai, memicu penurunan drastis kunjungan wisatawan. Bahkan banyak wisatawan yang memilih check out karena tak nyaman dengan suara bising. Terkait hal ini, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Karangasem hanya bisa meminta para pelaku usaha bersabar.
Ditemui Senin ( 15/12) lalu, Kadisbudpar Kabupaten Karangasem, Putu Eddy Surya Artha, tidak menampik adanya dampak negatif jangka pendek terhadap industri pariwisata setempat. Sebelum proyek dimulai, bahkan pihaknya telah getol melakukan sosialisai dampak dari pengerjaan. “Saya minta bersabar, proyek ini merupakan investasi jangka panjang untuk mempercantik kawasan Candidasa. Nantinya kalau sudah jadi, tentu akan bisa mendatangkan wisataaan jauh lebih banyak,” tuturnya.
Diketahui, Proyek perbaikan pesisir yang membentang sepanjang 5,5 kilometer. Saat pengerjaan di kawasan Hotel Puri Bagus hingga wilayah Karma Royal Buana, dilaporkan menjadi pemicu utama. Kebisingan dari alat berat dan aktivitas pekerja membuat sejumlah tamu hotel merasa terganggu. Tak sedikit wisatawan yang memilih memperpendek masa tinggal mereka dan pindah ke kawasan lain yang lebih tenang.
Terkait hal ini eddy mengaku tak dapat memberi solusi. Pihaknya akan mencoba mencari jalan keluar dengan berkomunikasi dengan BPKAD karangasem terkait keringanan pajak. ” Ini sebenarnya wewenang BPKAD, namun kami coba komunikasikan agar hotel yang terdampak bisa dapat keringanan atau potongan dalam pembayaran pajak,” jelas mantan camat manggis ini.
Di sisi lain, pengusaha hotel yang enggan ditulis namanya mengaku berada dalam posisi sulit. Sebelumnya, sejumlah pengusaha sempat melakukan audiensi dengan pihak terkait untuk menyampaikan keluhan tamu mengenai kebisingan proyek, namun tak kunjung mendapat solusi.
Kendala utama di lapangan adalah jadwal pengerjaan yang tidak menentu, bergantung kondisi gelombang. “Ketidakteraturan jadwal ini membuat kami sulit memberikan penjelasan atau kompensasi waktu yang tepat kepada wisatawan yang menginap, ” ujarnya. Hingga saat ini, para pelaku wisata hanya bisa berharap pengerjaan dapat berjalan lebih efisien guna meminimalisir kerugian yang lebih dalam di tengah upaya pemulihan pariwisata Bali. (bp/yun)













