Aerogel bukan Metafor yang Bagus untuk Mental Pekerja
bahkan sama sekali tak relevan
tak usah tanya mengapa
cukup bayangkan dirimu hidup
maksudku, benar-benar hidup
dalam 30 hari dengan dana terbatas
dan
garisbawahi:
tanpa utang-piutang!
udara menopang hidup
tidak salah—tetapi
itu bukan mata uang
memang benar ia mengisi
sebagian dari anatomi kita
dan memungkinkan terjadinya
produktivitas mekanistik bagi industri
rantai pasok udara dari lubang hidung
hingga kembang-kempis alveolus
serta bagaimana itu terdistribusi
dalam percabangan aliran darah
menentukan pikiran yang cenderung domestik
nonkomersial dan dapat diperbarui
perhatikan: ini Sumber Daya!
tapi garisbawahi: ini Aset Privat!
paham apapun yang bernilai guna
: potensial bagi laba
bahkan legal diexploitasi
tetapi—
simak baik-baik:
bahwa dalam keberlimpahan udara
yang adalah satu sistem dengan pemikiran kita
tiada yang bakal mampu memampatkannya
dalam kontrol, bahkan tekanan
menjadi sekedar balok-balok modular
yang kosong dalam kekerasannya
kita lengan yang terangkat
dengan beban di atasnya
kokoh dalam proporsi simetris
dan kita adalah tungkai
yang menolak diam
tangkas bergerak
seirama dengus napas tak tertahankan
Kita Natural
Kita Adaptif
dalam pola lantai ekonomi global
dan bahkan bila nasib
mengambang oleh keadaan
pilihlah Batu Apung
ia unggul satu poin
karena orisinal
Yang Perlu Para Dosen Ajarkan
adalah cara meludah
tepatnya:
✓ meludah secara efektif dan efisien
✓ jarak antara peludah dengan sasaran
✓ daya dorong udara dalam mulut
✓ berapa ml kapasitas semburan
✓ panjang celah antara gigi dan bibir
✓ kecepatan lari untuk menyerang dan, yang terpenting
✓ teknik memaki dan mengecoh saat menghindar
BAB I
PENDAHULUAN
LUPAKAN!
kebenaran empiris dari segala yang mereka katakan
sama halnya dengan parameter kualitas ludah
betapa jernih, encer, berlendir atau berbau
selalu berubah menurut waktu dan individu
adapun kemutlakan: tak lain apa yang telah dimakan
“Resolusi!”, seru mereka
memfokuskan tujuan pada kecanggihan era mendatang
sambil mengaburkan persepsi-primer yang membingkai kekinian
: kipas angin sekarat di ruang kelas
koordinasi sistematis dari 3 jenis gigi
terlanjur luput dari visi dan misi
kebijaksanaan adalah suapan terbesar
sendok semen yang mensubstitusi sendok makan
idealisme pretensius sajian kaum pseudoambisius
kelezatan intelektual demi perkembangan temporal
hanya menyisakan pahit setelah kita menelannya
batuk yang keras bukan sekedar membuang dahak
itu pun motif intrinsik dari menolak
tapi kita terlanjur terlibat dalam permainan
dan tiba-tiba pandangan kita tertutup
dan sebuah pemukul tergenggam di tangan
“pecahkan pinata!”, desak mereka
tetapi mereka justru enggan memberi tanda
betapa gemetar melangkah tanpa
“belok kanan, lalu lurus”
atau
“belok kiri, ya, sedikit lagi!”
dan kini, dihantui pepatah tentang pohon dan buah
dijangkiti sebuah pemukul dan penutup mata
kita terus-terusan cemas
dengan bahaya laten hereditas-ideologis
betapa ludah adalah jawaban di atas jawaban
bagi dorongan kognitif setiap anak
saat mereka tak paham seluk-beluk ikan
bilang: “pemalas! terjun ke dalam kolam!”
dengan sedikit muncrat dan membentak
lalu, dengan sepenuh enggan
kelas kita tinggalkan
Konduktivitas Termal pada Komunikasi Massal
tergantung ketahanan mental sebagai prasyarat
dan kalor: sebentuk energi
dari kualitas tiap gagasan
tak perlu memaksakan kritik kepada mereka
yang cenderung sebagai isolator
sekian derajat celsius panas ini lebih bernilai
bagi mereka yang bersedia
ditempa jadi pedang
kami tidak melarang sepasang telapak tangan yang dingin
buat mendekat ke kobaran unggun
namun jelas adalah tanggung jawab masing-masing
bila kemudian terbatuk oleh asapnya
api tak pernah minta disentuh
betapa pun menggoda terangnya
dan hangus tak lain efek samping
dari konsumsi di luar batas
“tapi semua akan arang pada waktunya!”
seseorang berdalih
“tapi kau menyulut minyak,
bukan sumbunya!” timpal yang lain
argumentasi selalu di luar rencana
terpantau divergen dalam rambatan
adapun konflik, mungkin komodifikasi
menurunkan nalar sebatas bahan bakar
Bukannya Bermaksud Menjadi Kacang Lupa Kulitnya, tetapi
jujur saja
siapa di sini yang masih mengucap
kasalukutan, pirukat, atau atang
saat hidup di ibu kota?
entah bagaimana perasaan
Syamsiar Seman
andai tahu seri buku ajarnya
“Basa Banjar Gasan SD”
yang tahunan melegenda
: digantikan
rekan-rekan kerja komentar
dari kelas I sampai kelas VI
problemnya sama
kakanakan wahini kada tahu-tahu
lawan basa kampung
namun mereka lebih dulu
mengenal anjir sebelum akay
Free Fire sebelum batewah
dan lebih familiar dengan sepeda listrik
tanpa pernah bajukung pas tulak sakulah
pun kita
yang berkomunikasi dalam percampuran bahasa
masih dominan Banjar—tetapi
makin meninggalkan arkais
menyerap Indonesia sebagai kosakata lokal
perayaan satu tahun sekali
Festival Tunas Bahasa Ibu
kita ikuti—tetapi
sejauh mana antusiasme itu terwujud
jika kehadiran di forum sekedar formalitas
kita hiih-hiih akan haja
paguruan ni gin masih banyak baisi gawian
kemudian jadilah
puisi siswa
cerpen siswa
ditulis setiap tahun
dikliping setiap tahun
setengah bangga
(tuntung jua dah gawian!)
setengah sangsi
(amun jua dibaca!)
jengah dengan kehambaran verbal begitu
aku berpikir soal citarasa bahasa
saat Gwendolyn Brooks menulis
“I shall create! If not a note, a hole”
mungkin suara mesin tik ia ibaratkan
rajangan keras sebilah pisau
di atas kontradiksi seputar lokalitas
bertanya-tanya apakah lidah Banjarku
mampu mengomposisikan klausa
sejenis “We Sing sin. We Thin gin.”
dari ampalam dan pakasam
lalu ke wadai, mandai, lantas
madam sampai apam barabai
Akaay!
tapi aku teringat pula
suara ibu-ibu ngomel
kasi gawi!
jangan tahu makan haja!
jadi mungkin ini bisa dianggap
kesimpulan sementara
dari observasiku yang sempit
bahwa menjadi konsumen
tidak sama dengan
penggerak budaya
predikat “Banjar” kami
ibarat ketupat
ialah anyaman daun kelapa
yang tak pernah diisi beras
dan seperti halnya sasirangan
yang kini tengah kami kenakan
multiwarna, dalam beragam motif
yang bahkan
tak kami hapal nama-namanya
sekadar ornamen
sebatas residu
apakah wajar jika
kami tak sadar
bahwa dalam dusta perilaku sehari-hari
telah kami khianati filosofinya?
Catatan Kaki
kasalukutan: kebakaran.
pirukat: dari cerita anak berjudul “Pirukat lawan Katumbar” pada buku Basa Banjar Gasan SD; saya sendiri belum mendapati makna kata tersebut.
atang: tempat memasak tradisional, tempat menaruh anglo.
kakanakan wahini kada tahu-tahu lawan basa kampung: anak-anak sekarang tidak lagi kenal dengan bahasa kampung.
akay: interjeksi untuk mengungkapkan keterkejutan, setara aduh.
batewah: permainan tradisional yang menggunakan alat berupa kayu yang disusun menyerupai api unggun, kemudian kayu tersebut dilempari sehingga rubuh.
bajukung pas tulak sakulah: naik perahu ketika berangkat sekolah.
kita hiih-hiih akan haja: kita iya-iyakan saja
paguruan ni gin masih banyak baisi gawian: (karena) para guru juga masih punya banyak pekerjaan.
tuntung jua dah gawian!: selesai juga pekerjaan ini!
amun jua dibaca!: kalau juga (hasil pekerjaan ini) dibaca!
ampalam: mangga, terutama yang masih muda.
pakasam: olahan ikan air tawar yang diawetkan lewat fermentasi menggunakan garam dan beras sangrai tumbuk.
wadai: kue.
mandai: kulit buah cempedak yang difermentasi dengan garam.
madam: pergi jauh; merantau.
apam barabai: makanan yang diolah dari tepung beras, tape singkong, gula merah, dan gula putih yang berasal dari Barabai.
kasi gawi!: cepat kerjakan!
jangan tahu makan haja!: jangan cuma makan bisanya!
sasirangan: kain tradisional khas Kalimantan Selatan dari suku Banjar, motif hiasnya dibuat dengan teknik menjelujur dan pencelupan warna.
Sepertinya Menarik jika Seluruh Kata Sifat Dapat
direpresentasikan secara matematis
seperti halnya km-hm untuk panjang
jam-menit untuk lama menunggu
sebentuk instrumen multifungsi
bahkan buat sekedar melayani selera
sehingga sebutir telur dapat direbus
dengan tingkat kematangan tertentu
dan rasa lelahmu
bukan sekedar kesan pribadi
tapi angka tekanan darah
dan saldo buku tabungan
pun rasa gerahku
turut ditentukan albedo
di samping tebal pakaian
dan temperatur ruang
“menyamakan persepsi”
dalam setiap pertemuan
sebelum dimulai suatu agenda
kerap gagal
sebab pemetaan biner yang sempit
dari “ya” atau “tidak”
“sepakat” atau “menolak”
tanpa mempertimbangkan adjektiva
yang implisit dalam setiap klausul
mungkin dengan lima butir opsi
pada kuesioner:
• SS
• S
• N
• TS
• STS
abstraksi menemu sebuah formula, atau
semacam gradasi dari terang ke gelap
bergerak dalam sebuah matrix komplex
sebagai dispersi pixel-pixel warna
menyusun profil kita pada layar
apa yang membuatmu suka atau tidak suka
sebelum itu diuraikan ke sederet kata sifat
ialah putih yang kita terima dari matahari
dan mengonstruksi tampakan objek-objek indra
setiap pernyataan seperti
“sedikit banyak”
serta
“agak sedang”
jika diandaikan diagram venn
mungkin bisa ditulis sebagai A∩B
dengan luas irisan yang nyaris
menelan kedua bidang himpunan
dan rasio A:B ± 7:8
dengan selisih dalam rentang
1 s.d. infinitesimal
dikombinasikan dengan adverbia
adjektiva jadi sesublim kabut pagi
yang disandingkan uap dari ketel
serta napasmu yang putih menggigil
hingga ilustrasi ini menyugestikan
perbedaan sekadar komposisi garis
dari ≠ ke ≈ ke = ke ≡
kehampaan batin di tengah malam
kaurujuk pada 00.00
namun bilangan yang sama
ialah garis start bagiku
untuk terlahir sebagai phoenix
kausebut itu kekosongan
kusebut itu potensial
silang pendapat yang kelak terjadi
tak kan pernah benar-benar eksak
sebab kau bergerak konstan sebagai absis
sedang aku melangit sebagai ordinat
tanpa pernah sungguh-sungguh hadir
pada perpotongan (0,0) dengan kesadaran sebanding
sebelum reda dari amarah
atau memuncak pada kebengisan
sifat semata fluktuasi dalam improvisasi jazz
sejumlah intervensi janggal dari tekanan tuts spontan
seperti partitur yang ditafsir secara arbitrer
disusul setiupan panjang saxophone + trombone
mendenyarkan variabel x dan y
ke dalam sekian persamaan aljabar yang terbuka
sekaligus terhubung ke persamaan lainnya
metronom tetap terdengar
bukan sebagai musik
tetapi detak jantungmu, Parmenides
apa yang membuatnya begitu berdebar
: falsifikasi kesatuan oleh entropi simultan
atau impian tak tertahankan terhadap konstanta?
BIODATA
Karst Mawardi, lahir di Banjarmasin pada 28 Juni 1999.













