DENPASAR, Balipolitika.com– Pasca meledak dan terbakarnya gudang elpiji (ilegal) di Jalan Cargo, Denpasar, tahun 2024 lalu yang menewaskan 18 karyawan, suplai gas LPG 3 kg sempat lancar sampai ke tangan masyarakat dengan harga wajar.
Meski diduga kuat menjadi gudang pengoplosan elpiji subsidi ke tabung nonsubsidi dibuktikan dengan temuan pipa besi untuk mengoplos di TKP, kala itu, pihak berwenang menyimpulkan bahwa pemicu ledakan di gudang Sukojin adalah dinamo starter di mesin mobil pikap yang memercikkan api dan menyambar gas bocor dari tabung 50 kg.
Endingnya, kasus ini hanya berhenti di Sukojin, pemilik gudangnya yang divonis ringan, hanya 1 tahun 2 bulan, setelah menewaskan 18 karyawannya.
Setahun berlalu, kini gas LPG 3 kg kembali langka bahkan hingga menyentuh harga Rp35.000 hingga Rp40.000 per tabung, namun tetap dibeli masyarakat.
Dalam kondisi gas super langka ini, I Gusti Putu Artha, S.P., M.Si. membuat status di media sosial pribadinya dan mencuri perhatian publik.
Ia menulis statsus berjudul “MEMBONGKAR MAFIA GAS ELPIJI 3 KG” yang merupakan sambungan dari status sebelumnya, yakni “Dalam kasus pengoplosan gas elpiji, sejumlah pejabat di pusat berperilaku jadi penjahat. Jadi beking dan menikmati cuan. Makanya aparat di daerah tak ada yang berani gerebek!” pada Senin, 18 Agustus 2025.
“Status saya soal mafia gas elpiji mendapat respons. Hari ini, dua orang relawan bersedia bercerita mengenai seluk beluk mafia gas elpiji 3 kg kepada saya. Keduanya masih bekerja di sektor yang sama. Bahkan seorang diantaranya siang ini mengajak saya mengintip langsung ke lokasi pengoplosan. Saya bisa menyaksikan langsung lalu lalang di sana. Setidaknya saat gas 50 kg ke luar dan es balok satu pickup yang masuk ke gudang pengoplosan. Ada foto dan video yang sengaja saya belum unggah,” ungkap I Gusti Putu Artha, Selasa, 19 Agustus 2025.
Beber I Gusti Putu Artha, dari cerita dua sumber ini, di Bali ada 5 lokasi pemgoplosan besar, yakni di Gianyar, Badung (2 lokasi), Tabanan, dan Jembrana di mana menurutnya, pola mafia dimulai dari SPBE.
“Seharusnya, alur distribusi gas LPG 3 kg bermula dari PT Pertamina yang mengirimkan gas ke Stasiun Pengisian dan Pengangkutan Bulk Elpiji (SPBE) untuk diisi ke tabung, lalu disalurkan ke agen, kemudian ke pangkalan resmi (sub-pangkalan), dan akhirnya langsung ke konsumen akhir. Namun, dari 9 SPBE di Bali, patut diduga terjadi praktek kotor di SPBE. SPBE, kata sumber saya, menjual 5.000-6.000 tabung jatah publik ke sebuah PT dengan harga Rp16.000 per tabung. PT resmi ini membawa tabung 3 kg itu ke lokasi pengoplosan. Diopolos ke 12 dan 50 kg,” ungkap I Gusti Putu Artha.
Sambungya, jika dari 9 SPBE itu anggap saja 5 yang nakal, berarti ada 25.000 tabung 3 kg tak beredar di masyarakat karena diplos per harinya.
“Lalu mafia berapa untung? Harga dasar Rp16 ribu dikali 4 tabung = Rp 64.000. Tabung 13 kg resmi di pasaran harga Rp205 ribu, namun pengoplos menjualnya Rp170 ribu. Tabung 50 kg resmi Rp880 ribu dijual Rp705 ribu. Jika di Bali ada 25 ribu tabung yang dioplos, maka mafia menikmati cuan Rp170 ribu-64 ribu= Rp 106 ribu x 25 ribu = Rp 2,65 miliar per hari!. Sumber mengatakan bahwa angka yang dioplos jauh lebih besar dari 25 ribu tabung, makanya langka,” beber mantan Komisioner KPU Republik Indonesia itu.
“Atas fakta ini saya menelpon dua pejabat. Keduanya langsung ketakutan tatkala saya mengajak diskusi solusi kasus ini terutama rencana penggerebekan. Saya memahami ketakutan dua pejabat itu, karena banyak oknum aparat yang jadi beking oplosan ini. Statemen ini terjelaskan kenapa harus Mabes Polri menggerebek ke Bali bukan Polda atau Polres,” sambung I Gusti Putu Artha.
“Saat saya menelpon Nyoman Parta, saya baru siang ini tahu Parta tak lagi di Komisi VI yang mengawal urusan migas. Ia digantikan I Gusti Ngurah Alit Kelakan. Jangan-jangan Parta tak di komisi migas ini karena gencar menyoal mafia ini?” tanyanya.
“Saya sedikit pun tak ada rasa gentar. Saya sangat percaya sepanjang niat kita lurus dan tulus demi kepentingan orang banyak, semesta dan leluhur akan melindungi. Setidaknya nyali saya ini sudah relatif teruji saat selesaikan konflik-konflik keras saat Pilkada dan Pemilu. Yang juga mendukung akses saya ke sejumlah pejabat di pusat baik di kepolisian, TNI dan istana relatif terpelihara dengan baik,” terang I Gusti Putu Artha.
“Saya bisa membayangkan jeritan warga Nusa Penida yang selain langka juga hargnya tembus Rp 40 ribu per tabung. Juga terjadi Gerokgak Buleleng. Mafia kayak begini yang harusnya dikutuk. Selanjutnya? Saya sedang merumuskan langkah berikutnya dengan cermat. Target saya tiga hari ke depan distribusi gas elpiji 3 kg HARUS NORMAL! Tunggu saja gebrakan berikutnya,” tutupnya. (bp/tim)













