DI ANTARA harapan dan ketidakpastian, masa depan pedagang kaki lima terus dipertaruhkan. Fluktuasi nilai rupiah terhadap mata uang asing tak hanya berdampak pada sektor makro, tetapi juga merembes hingga ke lapak-lapak sederhana di pinggir jalan. Di sanalah persaingan harga terjadi secara telanjang, terutama dengan pedagang online yang kian agresif menguasai pasar. Fakta ini bukan isapan jempol, melainkan realitas yang setiap hari dihadapi pedagang kaki lima.
Perkembangan perdagangan bebas yang berafiliasi dengan kebijakan pemerintah dan sistem perdagangan global. Salah satunya, menempatkan pedagang kecil pada posisi serba sulit. Mulai dari komoditas sandang pangan seperti sayur-mayur, buah-buahan, makanan, pakaian, hingga barang-barang elektronik, pasar dibanjiri produk dengan harga kompetitif di dalam dan dari luar negeri. Di tengah derasnya arus itu, pedagang kaki lima nyaris kehabisan daya untuk bertahan. Pertanyaan pun mengemuka: ke mana arah solusi bagi mereka?
Saat para pemangku kebijakan sibuk mengolah data di balik meja, denyut kehidupan di pasar kerap luput dari perhatian. Padahal di sana ada wajah-wajah tabah namun gelisah, ibu-ibu yang menawar sayur demi memenuhi kebutuhan gizi keluarga, dan pedagang yang hanya bisa mengelus dada karena keramaian pasar tak lagi menjamin transaksi. Tak sedikit pembeli yang berlalu begitu saja, dan jika pun singgah, sering kali hanya kebetulan.
Pemerintah sejatinya telah membuka akses permodalan melalui berbagai program, salah satunya Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang bekerja sama dengan perbankan. Program ini diakui cukup membantu, terutama karena prosesnya kini lebih mudah dengan berbagai dispensasi. Namun, suntikan modal ternyata belum cukup. Gairah usaha itu kerap terhenti oleh tembok persaingan harga dengan pedagang online yang memiliki skala, jaringan, dan efisiensi lebih besar.
Hampir tiga dekade berlalu, geliat perdagangan kecil terasa semakin semu. Jerit perlawanan pedagang kaki lima tak terdengar lantang, hanya berupa gumam di balik rolling door toko, meja lapak, dan terpal di atas tanah basah. Ironisnya, bukan hanya pedagang kecil yang terpukul. Sejumlah department store pun tumbang, ruko-ruko di pusat perbelanjaan banyak yang kosong, seolah menjadi saksi bisu perubahan lanskap ekonomi.
Dalam hal ini, saya sebagai pedagang kaki lima mengeluhkan aspek pasar konvensional kalah saing harga dengan efek pedagang online, bahkan pertokoan pusat perbelanjaan kena dampak terhadap pedagang online. Sejatinya adalah keluhan terhadap sistem yang sudah terbuka lebar dengan perkembangan belanja penuh kemudahan. Inflasi, neraca keuangan, hingga kebijakan birokrasi yang tumpang tindih memperumit keadaan. Di tengah situasi ini, birokrasi yang rentan praktik korupsi justru memperlemah daya tahan ekonomi rakyat.
Selama sistem perdagangan masih dikuasai oleh kapital besar, persoalan ini sulit menemukan jalan keluar. Di sinilah relevansi gagasan koperasi kembali mengemuka. Sebuah konsep kemandirian ekonomi yang pernah digagas Mohammad Hatta, salah satu pendiri bangsa. Koperasi tidak hanya sebagai ajang nostalgia, melainkan alternatif nyata untuk membangun kekuatan kolektif pedagang kecil.
Saya berpendapat ke pemerintah untuk ke depannya, mungkin pendapat saya ini sama dengan kebanyakan orang. Tugas pemerintah tidak ringan memang? Pemerintah terus menciptakan lapangan kerja seluas-luasnya di berbagai sektor. Pemerintah dituntut mewujudkan swasembada di bidang pertanian, perkebunan, perikanan, peternakan, kreasi produksi industri rumahan, dan mengelola pedagang kali lima tentunya. Langkah ini fundamental untuk menjaga keseimbangan pasar domestik dan internasional. Yang tak kalah penting, pemerintah harus terus jeli membaca denyut ekonomi masyarakat bawah, terutama daya beli dan daya saing pedagang kaki lima. Sebab, dari kaki lima itulah denyut ekonomi rakyat sesungguhnya berdetak.
Sebuah kesimpulan dari kenyataan saya sebagai penulis sendiri mengamati perkembangan di kaki lima bahwa: pedagang itu sih bebas-bebas saja berniaga. Baik itu transaksi di kaki lima sekaligus di toko pusat perbelanjaan pun lewat online. Berdagang lewat online itu sebentuk perkembangan dunia digitalisasi, berniaga lewat aplikasi digital demi memudahkan konsumen berselancar sambil duduk santai menunggu tidak berapa lama barang yang dipesan sudah ada di depan rumah. Sebab pisau bermata dua ketika perkembangan dibatasi ruang dan waktu bertransaksi jual beli dengan seiring peraturan yang ada (perdagangan beba). Akan tetapi, bagaimana geliat pasar itu semarak? Masyarakatnya dapat bahagia.
Sebaliknya, jika korupsi merajalela sendi-sendi kehidupan melemah. Negara akan bangkrut membutuhkan jangka panjang membenahi untuk bangkit dan berdarah-darah. Kaki lima termasuk peringkat kedua menampung lapangan kerja. Ada pun berniaga dengan sistem di dunia digital/aplikasi sejatinya pun menampung lapangan pekerjaan. Sekali lagi, pisau bermata dua itu ada pada persoalan persaingan harga sulit dikontrol di lapangan, ya pedagang kaki lima jatuh bangun dengan modal yang ada.
Bagaimana pertahanan di tiga kubu perniagaan kaki lima, pusat perbelanjaan dan online tersebut dapat sama-sama bergairah pada transaksi jual-beli? Rahasia tekniknya salah satu menurut saya ada pada strategi kualitas barang yang dijual oleh pedagang konvensional kepada pelanggan dan bisa mengimbangi harga yang ada dengan pedagang online. Kenyataannya, konsumen sering mendapatkan kekecewaan belanja secara online dengan banyak hal, termasuk kualitas barang tidak sesuai pesanan serta penipuan barang tidak terkirim ke alamat pembeli.
Saya berpandangan sendiri kepada pihak berwenang untuk menyelaraskan keseimbangan geliat pasar konvensional dan pusat pertokoan/mall dengan pedagang online. Bagaimana pihak berwenang bisa menekan pedang online berbasis digital demi keseimbangan pasar dengan menaikkan pajak atau pembiayaan lainnya di transaksi tersebut yang lebih relevan kepada pedagang online. Lalu dengan sendirinya barang yang dijual di pedagang online seyogyanya harga akan spontan sedikit mahal memecah konsentrasi pembeli
Hanya konsumen santai di rumah berduit yang siap membeli lewat online. Ya, tujuannya sedikit menekan dengan aturan di pasar online, setidaknya ada konsumen kembali belanja ke pedagang konvensional (kali lima) dan pusat pertokoan/mall (pasar modern).
Jakarta, 16 Januari 2026
BIODATA
Romy Sastra penyair berdarah Minang menetap di Jakarta Barat. Lelaki yang mencintai dunia sastra, namanya mulai dikenal sejak berkiprah di kancah sastra Indonesia tahun 2015. Semakin berkibar setelah puisinya meraih Anugerah Puisi Terbaik Pertama di media Apajake tahun 2023, disusul dengan Juara 3 Lomba Cipta Puisi Nasional bertema “Jejak Seni dan Dakwah dalam Langkah Sang Pendiri: Ambo Dalle” pada tahun 2024, serta penghargaan juara event lainnya di sosial media. Hingga kini, Romy telah menerbitkan tiga buku puisi tunggal: Tarian Angin (2019) dan Alegori (2023), serta Heraldik Berwajah Seribu (2025). Karya-karyanya juga tersebar di lebih 100 antologi puisi bersama, melibatkan penulis dari Indonesia, Malaysia, hingga Kanada.










