BUYUNG meluncur ke luar masjid ketika orang-orang miskin di kampung itu masih terlelap dalam mimpi. Langit selepas subuh berwarna biru gelap. Lampu-lampu rumah di kiri dan kanan jalan masih menyala terang. Debu-debu dan daun-daun berterbangan terkena kesiur angin musim kemarau. Ayam-ayam berkokok dan anjing-anjing menyalak, membentuk orkestra aneh, berisik, dan menganggu ketenangan.
Sepeda motor yang dikendarai Buyung melaju pelan. Laki-laki tua itu berpapasan dengan penambang timah ilegal yang pakaiannya lusuh dan basah, mengendarai sepeda motor bebek butut yang mereknya nyaris tak bisa dikenali lagi. Penambang timah itu sengaja menambang di malam hari demi menghindari razia aparat. Dengan lampu sorot kendaraannya, Buyung lantas menangkap senyuman si penambang, senyuman yang dibuat-buat.
Si tua Buyung sudah membayangkan kopi panas dan pisang goreng lezat buatan istrinya pagi itu. Tapi bayangan itu dikacaukan oleh teriakan pemuda mabuk yang membuatnya kaget setengah mati.
“Hoi!! Minggir!!”
Teriakan itu berasal dari Aldi, tetangganya sendiri. Si pemuda mendahuluinya dengan sepeda motor modif. Sepeda motor itu mengeluarkan suara nyaring yang memekakkan telinga karena knalpotnya sudah disetel dengan cara yang entah bagaimana. Buyung bisa saja jatuh tersungkur, atau mungkin terperosok ke selokan kalau saja ia tak mampu mengembalikan keseimbangannya dalam berkendara. Ia lalu berhenti sejenak sambil menekan-nekan dada sebelah kiri, menahan sakit. Sejenak kemudian baru ia melanjutkan perjalanan, menuju rumahnya. Rumah itu berhalaman luas, dipenuhi bonsai dan bunga bakung.
Di ruang tamu yang dihiasi keramik warna-warni Buyung terduduk lesu. Sofa yang nyaman menggiringnya pada lamunan. Dulu kampung ini tenang dan damai, gumamnya dalam hati. Pikirannya kini terbang ke waktu-waktu yang telah lalu. Ingatannya melompat-lompat dari satu titimangsa ke titimangsa yang lain.
Buyung yang dulu adalah seorang petani sekaligus guru mengaji. Ia hidup bersama seorang istri dan dua orang anak. Setiap pagi ia mengurus kebun lada yang luasnya lumayan bersama sang istri. Di sore hari, ia menjadi guru bagi anak-anak kampung di masjid. Ia mengajari anak-anak membaca Al-Qur’an, menuntun mereka agar beribadah dengan benar, dan menanamkan ajaran moral sebagaimana tuntunan Islam.
Buyung yang dulu adalah sosok yang dihormati, oleh anak-anak maupun orang dewasa. Ia sosok pengayom. Yang keluar dari mulutnya adalah ketulusan dan belas kasih. Masih lekat di ingatannya bagaimana Aldi dan anak-anak lain di kampung begitu dekat dengannya. Mendengarkan nasihatnya. Sehingga masjid begitu ramai dengan anak-anak. Namun, kini masjid hanya dipenuhi orang-orang tua. Orang-orang tua yang tinggal menunggu mati.
Buyung tak ingat persis kapan segalanya mulai berubah. Yang ia ingat, semua perlahan berubah ketika ia memutuskan menjual lahan perkebunannya. Ia tak kuasa menahan laju harga lada yang terus turun. Memang ironis, lada Bangka Belitung yang katanya kualitas unggul itu nyatanya tak mampu membuat petani seperti dirinya tetap bertahan. Lahan miliknya itu akhirnya ia jual. Dan pemilik lahan yang baru memanfaatkannya untuk berkebun sawit.
Namun, keputusan itu sama sekali tidak berdampak buruk pada penghidupannya. Malahan hidupnya semakin sejahtera saja. Buyung memiliki banyak kerabat dan koneksi. Berkat itu ia sering diundang ceramah di mana-mana. Oleh seorang kerabat, ia juga diajak masuk menjadi pengurus yayasan yang berlokasi di Tanjung Pandan. Ia juga sempat menjadi pengurus salah satu partai politik karena ajakan kawan lamanya.
Belakangan, dua kali berturut-turut ia terpilih menjadi kepala desa. Berkat menjadi kepala desa, ia pun berkawan dengan banyak politisi dan birokrat. Dari situ, maka ada saja rezeki tak terduga yang didapatnya. Dan tak seperti orang lain di kampung itu, ia pun sukses menyekolahkan anak-anaknya hingga tinggi. Kini kedua anaknya telah sukses. Satu menjadi pegawai pemerintah daerah, dan satu lagi menjadi pengacara di Jakarta.
Kampung pun berubah seturut perubahan kehidupan Buyung. Anak-anak yang dulunya rajin mengaji, kini mulai tumbuh remaja—menjadi muda-mudi yang mulai melihat dunia. Alih-alih mengaji, remaja-remaja itu lebih memilih kebut-kebutan di jalan. Motor dikebut seolah malaikat Izrail sedang mengejar dan hendak mencabut nyawa mereka. Alih-alih meramaikan masjid, remaja-remaja itu lebih memilih berkumpul di warung atau perempatan jalan, sibuk dengan ponsel pintar dan melakukan sesuatu yang entah apa. Di waktu lain, kadang mereka menenggak minuman keras, terlibat perkelahian, dan berbuat mesum.
Begitulah, kenakalan remaja memang tak mengenal tempat. Di kota dan di desa sama saja. Di Jawa dan luar Jawa tiada beda.
Anehnya, Buyung seolah hilang akal ketika menghadapi remaja-remaja itu, yang dulunya adalah anak-anak yang begitu ia sayang dan menaruh hormat kepadanya. Bukannya welas asih, yang ada dalam dirinya adalah rasa geram. Yang meluncur dari mulutnya bukan lagi nasihat yang tulus, melainkan ungkapan kemarahan.
Kemanakah sosok Buyung yang mengayomi itu? Ia bukannya tak pernah mencoba tetap bersikap lemah lembut. Ia pernah mencobanya ketika remaja-remaja itu sedang bercangkung di atas motor di depan masjid. Buyung membujuk dengan kata-kata halus; menyeru mereka agar kembali pada kebenaran. Tapi, respons dari remaja-remaja itu justru membuatnya meradang.
“Jangan banyak cakap kau, Buyung!” kata salah satu dari mereka.
“Mengaji tak membuat kita kaya, Buyung!” sahut yang lainnya.
“Simpan khotbahmu, Buyung!” jawab yang lainnya lagi.
Semuanya mencela. Semuanya kurang ajar. Buyung pun tak tinggal diam.
“Setan!! Tunggulah sampai kerak neraka membinasakan kalian!!” ujar Buyung dengan berapi-api. Wajahnya merah padam. Telunjuknya menuding-nuding anak remaja yang jadi sasaran kemarahannya. “Pergi sana!!” ujarnya lagi, nadanya makin tinggi.
Remaja-remaja itu kemudian pergi, menggeber motor masing-masing dengan sekuat tenaga.
Esoknya, atas komando Aldi—tetangga Buyung itu—para remaja tersebut berkumpul lagi di depan masjid. Kali ini jumlah mereka jauh lebih banyak. Motor berjejer-jejer, membelakangi masjid. Motor kemudian digeber sesuka hati. Suara yang keluar dari knalpot nyaring melengking. Asap mengepul dan memenuhi halaman masjid. Orang-orang tua yang baru saja selesai salat berjamaah langsung terbatuk-batuk. Beberapa di antaranya ada yang pingsan. Beberapanya lagi langsung asma dan nyaris meregang nyawa.
Ada sesal di hati Buyung karena sikap kerasnya. Ia pun bertanya-tanya, mengapa ia kehilangan kesabaran dan berlaku keras? Ia bukannya tak tahu kalau bocah-bocah bengal itu butuh perhatian dan kasih sayang. Tapi mengapa ia tak sabar? Seolah ia tak ingat lagi cara mendakwahkan agama dengan semestinya—mengajak pada kebaikan dengan kepala dingin, bukan dengan amarah.
Terbersit di pikirannya kalau jangan-jangan ini semua lantaran ia menjadi kepala desa. Jangan-jangan menjadi kepala desa telah membuatnya tidak lagi punya kepedulian dan kasih sayang, karena ia hanya peduli pada reputasi dan kepentingannya sendiri. Terjebak hal-hal pragmatis dan dikuasai ego dalam diri. Memang begitukah tabiat kekuasaan? Ia bertanya dalam hati. Ah, tidak, anak-anak sekarang nakalnya memang sudah melampaui batas, ini memang tanda-tanda akhir zaman. Tiba-tiba saja ia membantah apa yang dipikirkan sebelumnya; pikiran yang satu menepis pikiran yang lain.
Kini di hadapan Buyung telah teronggok secangkir kopi hitam dan sepiring pisang goreng. Kudapan seperti itu selalu ada setiap pagi, disediakan istrinya sebelum pergi ke pasar. Kopi masih panas mengepul, menguarkan keharuman khas dengan asap yang meliuk-liuk. Sesaat kemudian kopi itu disesapnya pelan-pelan. Pikirannya sedikit tenang. Tapi tiba-tiba saja ia teringat peristiwa tiga bulan lalu. Peristiwa yang kalau ia pikir-pikir lagi sungguh ia sesali.
Tiga bulan lalu Rita, tetangga sebelah rumahnya yang juga ibunya Aldi, mendatanginya dengan tergopoh-gopoh dan bercucuran keringat. Wajah perempuan itu tampak letih dan matanya berkaca-kaca. Tubuhnya kurus seakan tinggal tulang. Rita ingin pinjam uang karena ia berulang kali didatangi debt collector. Buyung sempat bertanya kenapa Rita sampai terjerat utang. Dan Rita pun menjawab jujur, mengatakan kalau Aldi yang berulah. Anak laki-lakinya itu kecanduan bermain judi online, dan ujung-ujungnya terjerat jasa pinjaman online ilegal.
Namun, bukannya uang pinjaman yang didapat Rita, tetapi ceramah yang tidak pada waktunya, yang keluar dari mulut Buyung. Buyung juga melempar kesalahan pada Rita, yang menurutnya tidak bisa mendidik anak dengan benar. Ketika Rita kembali memohon-mohon pinjam uang, Buyung malah menggusah perempuan itu dengan kibasan tangan, memintanya segera pergi dari rumahnya.
Rita sendiri sudah dua tahun menjanda. Jarot, suaminya, tewas mengenaskan pada musim penghujan ketika sedang menambang timah bersama kawan-kawannya. Sebagaimana orang-orang miskin yang tak punya pilihan di kampung itu, Jarot adalah pekerja tambang ilegal. Ia menambang timah tanpa tahu aturan dan dengan peralatan seadanya.
Pada suatu petang, Jarot dan kawan-kawannya yang sedang menambang di tengah hutan menjadi sasaran razia aparat kepolisian. Mereka langsung kocar-kacir. Peralatan tambang ditinggalkan begitu saja. Jarot terpisah dari kawan-kawannya. Ia lari ke rawa-rawa. Polisi sempat menembakkan pistol ke udara berkali-kali, tapi laki-laki itu terus lari, sampai ia tersudut di bibir sungai. Dan Jarot tetap nekat. Tak peduli dengan arus yang sedang sangat deras, ia menceburkan diri ke sungai. Meski tenaganya kuat, ia tetap tak bisa berenang sampai ke seberang. Otot-ototnya tak kuasa melawan kekuatan alam. Dua hari kemudian mayatnya ditemukan mengambang di tengah laut.
Perkara pinjam uang karena dikejar debt collector bukanlah satu-satunya hal menyangkut Rita yang disesali Buyung. Sebab, dua hari setelah peristiwa itu justru terjadi hal lain yang lebih gawat. Saat itu Buyung baru saja pulang dari masjid ketika ia mendengar ribut-ribut dari rumah Rita. Seorang laki-laki berambut cepak mendatangi janda itu dan memaki-maki. Rupanya laki-laki cepak itu menuduh Aldi telah membikin hamil keponakannya. Rita langsung mendedas anak laki-lakinya, tetapi si anak hanya mematung. Sementara itu si laki-laki cepak terus memaki. Dan alih-alih meminta Aldi bertanggung jawab sebagai seorang lelaki, ia malah meminta uang ganti rugi senilai seratus juta rupiah. Jika tidak membayar, maka Aldi akan dilaporkan ke polisi. Begitu ancaman si laki-laki cepak. Rita tak terima karena ia mana punya uang sebanyak itu. Adu mulut pun terjadi.
“Makanya urus itu anakmu! Jangan cuma jadi janda gatal!!” bentak si laki-laki cepak.
Aldi meradang. Kupingnya panas. Ia tak terima ibunya disebut “janda gatal”. Satu bogem mentah langsung mendarat di pipi si laki-laki cepak. Tak terima, si laki-laki cepak langsung membalas. Sebuah tinju langsung menghantam wajah Aldi. Tak cukup, satu terjangan kaki juga menghantam perut Aldi. Bocah itu langsung terpental, tubuhnya ambruk ke lantai. Belum puas, si laki-laki cepak lantas menghampiri Aldi, ingin melampiaskan rasa kesalnya sampai tuntas, tapi Rita menghadang.
Rita, dengan tangannya yang hanya selebar gagang sapu, menahan tangan si laki-laki cepak yang hendak menghabisi anaknya. Tentu itu bukan perlawanan yang seimbang. Mudah saja bagi laki-laki itu mencengkeram balik tangan Rita yang tenaganya jauh lebih kecil. Sebuah tamparan keras kemudian menghantam wajah perempuan itu. Ia langsung ambruk, mengerang kesakitan. Seperti sedang dirasuki iblis, laki-laki itu kemudian mengangkangi dan menindih tubuh Rita, lalu menamparnya lagi berkali-kali.
Untungnya ada tetangga yang mendengar keributan, dan segera mendatangi rumah Rita. Dua orang laki-laki langsung memiting kedua tangan si laki-laki cepak, dan langsung mengusirnya. Kekerasan pagi itu akhirnya berhasil dihentikan.
Tak lama setelah itu, suara ketukan terdengar dari pintu depan rumah Buyung. Rita berdiri di balik pintu. Wajahnya pasi. Bibirnya pecah dan berdarah. Dengan suara parau ia kembali memohon kepada Buyung untuk pinjam uang.
“Tolonglah saya kali ini, Pak Buyung…” ujarnya memelas.
Buyung yang berdiri di ambang pintu menatapnya tajam. Wajahnya tampak angkuh.
“Itu salahmu sendiri,” sahut Buyung, “sudah berapa kali kukatakan, urus anak laki-lakimu itu!”
“Tolonglah, Pak Buyung… Tolong, Pak,” ujar Rita lagi. Suaranya bergetar. Air matanya meleleh.
Namun Buyung masih saja angkuh. Ia lagi-lagi melempar kesalahan pada Rita. Lalu menggusah perempuan itu dengan kibasan tangan, menyuruhnya pergi.
Udara yang mulai terasa panas menyadarkan Buyung dari lamunan. Laki-laki tua itu mengusap-usap wajahnya. Kopinya yang sudah dingin langsung ditenggaknya habis. Pisang goreng yang juga sudah dingin tak berselera lagi ia memakannya. Hatinya masih digerogoti penyesalan, tapi pikirannya tetap berusaha menghalau.
“Aku sudah tua sekarang, aku hanya ingin beribadah dengan tenang,” katanya kepada diri sendiri.
Hari itu pun ia habiskan dengan beribadah dan mengurus berbagai tanaman yang tumbuh subur di pekarangan rumahnya. Jabatan kepala desa sudah ia lepas satu bulan lalu, bersamaan dengan tubuhnya yang makin digerogoti penyakit.
Esok paginya Buyung bangun seperti biasa. Pukul 04.05. Setelah membersihkan diri sebentar dan berganti pakaian, ia pun bergegas dengan sepeda motornya, menuju masjid. Peci hitam beludru terpacak kokoh di kepalanya. Langit masih hitam pekat. Lampu-lampu rumah orang miskin masih menyala terang. Angin malam bertiup cukup kencang, suara desirnya beradu dengan suara cericit kelelawar di batang-batang pohon randu.
Buyung masih berkendara dengan tenang ketika sampai di satu perempatan jalan. Namun tiba-tiba dari arah kanan memberondong motor-motor dengan suara nyaring. Seperti berondongan roket yang berasal dari kegelapan. Aksi balap liar. Satu motor dengan kecepatan tinggi menyenggol motor Buyung. Ia langsung oleng, tapi sebenarnya masih bisa mengembalikan keseimbangannya. Namun, beberapa detik kemudian ada yang menghantamnya dari belakang, seperti dengan sengaja menubruknya. Buyung langsung jatuh tersungkur. Kepala dan badannya menghantam aspal. Kedua kakinya tertindih motor. Ia mengerang kesakitan.
Dengan telapak tangan, Buyung kemudian menjamahi bagian-bagian tubuhnya yang terasa sakit dan berdarah. Napasnya tersengal-sengal. Ia tak mampu melepaskan diri dari jerat motor yang menindih kedua kakinya. Sekian menit ia hanya terbaring di atas aspal, menengadah ke arah langit. Tak lama setelah itu, suara berondongan balap liar terdengar lagi. Dari arah kanan meluncur motor-motor dengan lampu sorot yang menyilaukan matanya. Buyung langsung memekik minta tolong. Ia melolong-lolong, tapi tak ada yang memedulikannya.
“Bangun sendiri, Buyung!!”
Tiba-tiba terdengar suara dari salah satu pebalap liar yang entah siapa. Tak lama setelah itu Buyung merasa dada kirinya begitu sakit. Ia pun menekan-nekan bagian dada yang sakit itu. Napasnya makin tersengal dan pandangannya kabur. Tapi ia masih bisa menatap langit yang hitam pekat, dengan rembulan dan bintang-bintang di atas sana. Kemudian sayup-sayup terdengar suara azan Subuh. Suara itu menenteramkan jiwanya sebelum akhirnya ia menutup mata.
BIODATA
Anggit Rizkianto adalah penulis fiksi dan nonfiksi. Lahir di Belitung Timur, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Kini tinggal di Surabaya dan bekerja sebagai dosen. Buku terbarunya berjudul Pelayaran Terakhir: Kolase Kisah dari Bumi Timah hingga Jawa (Mekar Cipta Lestari, 2024).













