PERSPEKTIF KRITIS: (Kiri) Tokoh Muda Bali, Ni Made Sri Yogi Lestari, terkait kontroversi penetapan Presiden Soeharto sebagai Pahlawan Nasional. (Ilustrasi: Gung Kris)
TABANAN, Balipolitika.com – Pasca ramainya komentar warganet terkait pro kontra pemberian gelar kepada Jendral Besar TNI (Purn) H.M. Soeharto, Presiden Indonesia ke-2 era Orde Baru (Orba), sebagai Pahlawan Nasional per 10 November 2025 kemarin, ditetapkan oleh Presiden Indonesia ke-8, Prabowo Subianto. Tokoh muda asal Bali, Ni Made Sri Yogi Lestari menyebut Presiden Soeharto layak menyandang gelar Pahlawan Nasional.
Layaknya Presiden Soeharto menyandang gelar sebagai Pahlawan Nasional, menurut Sri Yogi, atas segala jasa-jasa nya dalam membangun bangsa dan negara, melanjutkan perjuangan Presiden Indonesia ke-1, Ir. Soekarno, pasca era Orde Lama, secara langsung Presiden Soeharto ikut berkontribusi untuk mengukir sejarah dalam perjalanan panjang 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia.
“Saya rasa beliau (Presiden Soeharto, red) layak menyandang gelar Pahlawan Nasional. Secara aturan, yuridis formalnya, penetapan gelar tersebut sudah sesuai kaidah Undang-Undang (UU, red) Nomor 20 Tahun 2009. Jadi apalagi yang harus diperdebatkan?” Ucap Sri Yogi kepada wartawan Bali Politika melalui sambungan telepon, Selasa, 11 November 2025.
Walaupun era Orba sempat meninggalkan sejarah yang kelam bagi bangsa Indonesia, masa pemerintahan Presiden Soeharto dikenal sebagai rezim KKN (Korupsi, Kolusi dan Nepotisme), tetapi dalam perjalanan sejarah juga mencatat bagaimana jasa-jasa besar Presiden Soeharto dalam membangun negara, menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara dengan kekuatan ekonomi yang besar pada masanya, hingga Indonesia dikenal dengan julukannya sebagai Macan Asia di era kepemimpinan Presiden Soeharto, juga merupakan sesuatu hal yang sangat signifikan terjadi dan dirasakan seluruh masyarakat Indonesia di era Orba.
“Memang Orba sempat meninggalkan sejarah kelam bagi Indonesia, rezim Presiden Soeharto dikenal rezim KKN. Tetapi itu semua kembali lagi, masing-masing rezim kepemimpinan pasti ada meninggalkan jejak negatif bagi masyarakat. Lalu apa bedanya dengan rezim pasca reformasi hingga saat ini? Yang perlu kita lihat adalah, bagaimana kepemimpinan Presiden Soeharto banyak memberikan dampak positif bagi masyarakat saat itu, bagaimanapun Orba telah meninggalkan banyak sejarah positif bagi perekonomian dan pembangunan di Indonesia,” singgungnya.
Terkait pro kontra yang terjadi di kalangan warganet, pasca ditetapkannya Presiden Soeharto sebagai Pahlawan Nasional, Sri Yogi berharap para Yowana (muda-mudi Bali) lebih bijak menyikapi informasi yang beredar. Ia meminta anak muda Bali untuk bisa lebih kritis dalam berpikir, menggali sejarah Indonesia secara lebih dalam, sehingga tidak mudah terhasut oleh informasi yang bersifat provokatif.
“Tentu dengan adanya pro kontra yang terjadi di masyarakat, saya berharap anak-anak muda, khususnya yang ada di Bali, lebih kritis lagi dalam berpikir. Menggali lebih dalam sejarah-sejarah yang terjadi di negara ini. Biar bagaimanapun, anak-anak muda kita nantinya yang akan meneruskan tongkat estafet pembangunan bangsa ini kedepannya,” tutup Sri Yogi. (bp/gk)













