BALI, Balipolitika.com – Denpasar kembali menggelar lomba ogoh-ogoh tahun 2026, dalam Kasanga Festival.
Untuk enam juara lomba, Pemerintah Kota Denpasar menyiapkan Rp165 juta. Selain itu, Pemkot juga menggelontorkan dana Bantuan Keuangan Khusus (BKK) masing-masing Rp 20 juta ke sekaa teruna.
Kepala Dinas Kebudayaan (Disbud) Kota Denpasar Raka Purwantara mengatakan, dalam lomba ini pihaknya akan mencari juara I hingga harapan III.
“Untuk juara I, kami beri hadiah Rp 50 juta, juara II Rp 40 juta, dan juara III Rp 30 juta,” kata Raka Purwantara, Selasa (17/2). Sementara untuk juara harapan masing-masing, juara harapan I Rp 20 juta, harapan II Rp 15 juta, dan harapan III Rp 10 juta.
Selain itu, di tahun 2026 ini, Pemkot Denpasar juga memberikan dana bantuan keuangan khusus (BKK) kepada 376 sekaa teruna. Sehingga untuk itu, Dinas Kebudayaan menganggarkan sebesar Rp 7.520.000.000.
“Tahun anggaran 2026 ini BKK sekaa teruna senilai Rp 20 juta. Untuk syarat pencairannya yakni membuat proposal yang berisikan rencana kebutuhan belanja,” kata Raka Purwantara.
Besaran BKK ini masih sama dengan tahun 2025 lalu. Raka menambahkan, pengajuan proposal untuk mendapatkan BKK ini pun telah pada bulan Oktober 2025.
Pengajuan proposal tersebut, saar berlangsungnya musyawarah desa di tiap-tiap desa. “BKK kepada sekaa teruna ini pencairannya melalui desa penyangga,” imbuhnya.
Dana BKK tersebut dapat untuk kegiatan mencakup palemahan, parahyangan dan pawongan. Termasuk untuk membuat ogoh-ogoh serangkaian hari raya Nyepi.
Sementara itu, dalam Kasanga Festival, ada 16 ogoh-ogoh terbaik di Denpasar yang akan ikut pawai dan pameran di Lapangan Puputan Badung. Kasanga festival akan selama tiga hari pada 6 – 8 Maret 2026.
Namun dalam pelaksanaan penilaian ogoh-ogoh, ada perbedaan teknis dengan tahun lalu. Jika tahun 2025 ada penilaian ogah-ogah atau pengangkatan ogoh-ogoh, di tahun ini tidak ada dan panitia mengedepankan penilaian berbasis konsep, filosofi dan karya.
Ketua Pasikian Yowana Kota Denpasar, Anak Agung Made Angga Harta Yana, mengatakan penilaian tetap langsung di banjar, dengan fokus pada kualitas karya sejak proses penciptaan.
“Tahun ini tidak ada lagi mekanisme ogah-ogah atau diangkat seperti sebelumnya. Penilaian lebih menekankan konsep, filosofi, dan kualitas karya di banjar. Untuk perform nantinya fokus di kawasan Catur Muka,” kata Gung Angga.
Kasanga Fest 2026 mengusung tema ‘Jala Sidhi Suvita’ yang bermakna memuliakan air untuk kesejahteraan bersama. Tema ini sebagai refleksi kondisi lingkungan, terutama persoalan banjir dan kebersihan sungai.
Pihaknya berharap generasi muda mampu menerjemahkan isu tersebut, dalam karya ogoh-ogoh yang edukatif dan relevan. Dalam mekanisme penilaian, panitia menugaskan tim juri yang terdiri dari praktisi ogoh-ogoh, budayawan, serta akademisi filsafat untuk memastikan karya tidak hanya kuat secara visual, tetapi juga memiliki kedalaman makna.
Setiap kecamatan melibatkan empat juri lokal dan satu luar kota. Penilaian melalui dua tahapan utama, yakni pertama, penilaian di banjar yang menitikberatkan pada aspek ideoplastis dan psikoplastis meliputi konsep karya, pesan simbolik, proporsi anatomi, konstruksi, hingga kreativitas.
Kedua, penilaian pawai yang melihat ekspresi pertunjukan saat ogoh-ogoh ditarikan. Selain itu, aturan teknis juga kian ketat, termasuk penggunaan bahan ramah lingkungan dan larangan material seperti styrofoam serta plastik sekali pakai. (BP/OKA)













