DENPASAR, Balipolitika.com– Kabar duka datang dari dunia seni rupa Bali. Ni Luh Gde Vony Dewi Sri Partani, perupa kelahiran Denpasar, 28 Juni 1978 berpulang di usia belia, 48 tahun, Rabu, 8 April 2026.
Kabar duka tersebut salah satunya diunggah oleh sastrawan Wayan Jengki Sunarta dalam akun media sosialnya, Rabu, 8 April 2026 siang.
“RIP, perupa Ni Luh Voni Dewi (28 Juni 1978-8 April 2026). Damailah di Alam Niskala, Voni. Kini, dirimu tidak merasa sakit lagi, baik fisik maupun batin. Kini, kau bebas….lepas…. Kini, kau bisa melukis wajah Tuhan, melukis para malaikat, melukis ruh-ruh kesepian… Kini, aku hanya bisa mengenang kepergianmu, mengenang kebersamaan kita dalam seni rupa, mengenang waktu-waktu gila kita dalam dentuman musik dan aroma alkohol…. Aku sedih….maaf tak sempat menjengukmu saat terbaring sakit….,” tulis Jengki.
Di dunia seni rupa, Ni Luh Gde Vony Dewi Sri Partani tercatat belajar melukis secara otodidak.
Sejak 2012 dia aktif menampilkan karyanya dalam berbagai pameran bersama, seperti pameran Hari Kartini di Warung Yaya, Sanur (2012), Pararelissmo di Farabi Bali (2013), “Alignment” di Bidadari Art Gallery, Ubud (2013), Bali Art Fair di Maha Art Gallery (2013), I Love My Mom di Seniwati Artspace, Ubud (2016), She Paint Her Sky di Krisnalila Foundation (2018), Jabuik Tabao Padang di Bentara Budaya Bali (2018), Luwih Utamaning Luh di Taman Budaya Bali (2018), Indonesia Satu di Hotel Pullman, Jakarta (2019), Vidya Diva di Taman Budaya Bali (2019).
Ia menggelar pameran tunggal pertama pada tahun 2011 bertajuk “Perempuan” di Serambi Arts Antida, Denpasar, dan pada tahun 2012 menggelar pameran Make Up Artist Grafiti di Yaya Artspace.
Selain melukis, Ni Luh Gde Vony Dewi Sri Partani menekuni seni merias wajah dan menata rambut.
Bersama Jengki, Ni Luh Gde Vony Dewi Sri Partani menggelar pameran bertajuk “Transendensi” di TAT Art Space yang berlokasi di The Ambengan Tenten, Jalan Imam Bonjol, Gang Rahayu 16 A, Denpasar, Bali.
Pameran yang dikuratori perupa internasional Citra Sasmita ini berlangsung dari tanggal 29 September 2023 hingga 8 Oktober 2023.
Pameran “Transendensi” menampilkan karya-karya seni visual yang paradoks secara estetika dan tematik, namun pada hakikatnya saling melengkapi.
Voni menampilkan karya-karya bertematik dewa-dewi dengan penggarapan lembut dan cenderung mengarah pada spiritualitas.
Sedangkan Jengki menggeber karya-karya berbau seksualitas yang ganjil. Seksualitas menyangkut berbagai dimensi yang sangat luas, yakni biologis, psikologis, sosial, dan budaya.
Jengki mengatakan ide pameran berdua dengan Voni sebenarnya telah muncul sejak lama dan baru sekarang bisa terwujud di TAT Art Space.
Jengki dan Voni telah bersahabat sejak lama. Salah satu gagasan pameran ini adalah untuk mempererat rasa persahabatan, meski tematik karya-karya mereka berbeda.
“Karya-karya Voni penuh kelembutan dan cenderung mengarah spiritualitas. Sedangkan karya-karya saya cenderung berbau seksualitas. Dua hal berlawanan ini menarik dipertemukan dalam sebuah pameran,” ungkap Jengki.
Voni mengungkapkan dalam keseharian dia seringkali mengembangkan konsep keseimbangan.Dia merasa sangat bersemangat dan tertantang berpameran dengan Jengki. Bagi Voni, karya-karya Jengki sangat ekspresif dan gamblang.
“Dalam hidup kita mengenal konsep Rwa Bhineda,Ying-Yang,hitam–putih, yang membentuk keseimbangan. Hal itulah yang membuat saya semangat terlibat dalam pameran ini berduet dengan Jengki. Bagi saya, hitam dan putih, kiri dan kanan, harus diseimbangkan sehingga muncul keselarasan dan harmonisasi,” tutur Voni.
Jengki dan Voni belajar melukis secara otodidak. Meski Jengki sempat mencicipi kuliah seni lukis di ISI Denpasar tahun 2002, namun tidak ia tamatkan. Sementara Voni sejak lama menekuni seni tata rias wajah yang pada akhirnya banyak memengaruhi teknik melukisnya.
Selain pameran “Transendensi”, kedua perupa ini pernah menjajal sejumlah pameran bersama di beberapa tempat.
Jengki pernah menampilkan karya-karyanya dalam pameran “SahabART” di Rumah Seni Paros, Sukawati, Gianyar (2020), “Silang Sengkarut” di Dalam Rumah Art Station, Denpasar (2022), pameranonlinetingkat internasional “Bricolage” yang digelar Universitas Pendidikan Ganesha, Singaraja (2022), “Rajah Rasa” di Teba Kangin Pemanis Art Space, Tabanan (2022). Pada 2020, tiga lukisannya masuk semi final lomba lukis “Titian Art Prize” yang digelar Yayasan Titian, Bali.
Kala itu, Manajer TAT Art Space, Yurison Suryantara,mengatakan sangat senang pameran ini akhirnya terlaksana. Dia mengenal Voni pada tahun 2021 dan mengagumi karya-karyanya yang sarat spiritualitas.
Awal tahun 2023 dia bertemu Jengki yang karya-karyanya menarik dan nakal, sangat berbanding terbalik dengan Voni. Kemudian tercetuslah ide untuk menyatukan kedua seniman ini dalam sebuah pameran.
“Kami juga sangat beruntung pameran ini dibantu oleh Citra Sasmita yang bertindak sebagai kurator dan terlibat dalam display karya,” ujar Yurison.
Dalam tulisan kuratorialnya, Citra Sasmita membahas dan mengulas konsep pameran tersebut dari sudut pandang psikoanalisis Carl Gustav Jung, terutama dalam pembacaan mengenai konstruksi mimpi, mitologi, filsafat, agama, dan kesenian terhadap aktualisasi diri seseorang.
Citra mengatakan karya seni yang diciptakan seorang seniman bisa merupakan suatu akumulasi pengalaman diri, bisa juga gagasan ideal atau ekspektasi dari realitas di luar dirinya. Seorang seniman juga mampu mengakses dan menerjemahkan hal-hal di luar limitasi dan nalar yang bisa diterima masyarakat.
“Kemampuan seorang seniman mengolah simbol dan narasi yang melampaui kesadaran manusia dalam medium seni inilah yang dimaksud transendensi,” ujar Citra.
Citra mengamati karya-karya Voni dan Jengki merupakan upaya merepresentasikan akumulasi pengalaman kultural mereka sebagai orang Bali. Voni melakukan proses internalisasi dari pengalamannya sebagai pelatih pernafasan dan ilmu holistik Qi Gong serta sebagai make-up artist dan laku hidup spiritual yang ia jalani ke dalam tema-tema lukisannya.
Lukisan-lukisan Voni dominan menampilkan sosok–sosok dewa dan dewi dengan gaya dan warna yang naif. Nuansa, pilihan warna auratik, dan garis tegas mewakili sifat dan karakter sosok-sosok yang ia gambarkan untuk memberikan kesan magis.
Sementara itu, sebagai seorang penyair yang kerap berkontemplasi serta bermain dengan bahasa dan kata-kata, Jengki melakukan titik balik untuk mentransformasikan hasrat dan keinginan terpendam manusia melalui mahkluk-mahkluk ganjil, penis, vagina, yang berkelindan dengan potongan-potongan tubuh tidak sempurna.
“Transendensi yang direpresentasikan kedua seniman ini menjadi peleburan dua sifat yang berlawanan atau dalam istilah Bali disebut Rwa Bhineda. Sebagai bahasa visual, ekspresi dualisme pada karya Voni dan Jengki kerap menampilkan unsur paradoks namun berintegrasi menciptakan suatu harmoni,” ungkap Citra. (bp/ken)













