ANGAN dibawa melayang jauh, menuju masa yang lalu. Bagaimana hiruk-pikuk kawasan Denpasar Timur ini dulunya? Apakah wilayah rimba raya yang dikenal dengan nama “Wongaya”? Ternyata, di balik modernitas ruko dan jalanan protokolnya, sejarah Desa Sumerta menyimpan narasi mendalam tentang pengabdian ksatria, perpindahan kekuasaan, hingga berkah spiritual yang melimpah. Bukan sekadar pemukiman padat, Sumerta adalah tanah yang lahir dari kebijaksanaan para pemimpin masa lampau yang membangun peradaban di atas landasan ketulusan dan kerja keras.
DENPASAR, Balipolitika.com- Lama sebelum dikenal sebagai jantung Kota Denpasar, wilayah ini adalah sebuah hamparan tanah bernama Wongaya. Sejarah Desa Sumerta tidak bisa dilepaskan dari peran besar para pendatang yang membawa pengaruh spiritual dan kepemimpinan yang kuat.
Salah satu tokoh kuncinya adalah Ki Gde Pasek Sumerta (putra Ki Gusti Pasek Gelgel Aan), yang berpindah dari Gelgel menuju Jagat Bandana (Badung) pada akhir masa pemerintahan Dalem Waturenggong.
Nama Sumerta sendiri sebenarnya diambil dari gelar pemimpin legendaris tersebut. Dalam Prasasti Ki Kerobakan Badung, dikisahkan bahwa Ki Pasek Gelgel Sumerta adalah sosok yang cerdas dan bijaksana atau dalam bahasa kawi disebut widagda wicaksana. Beliau sangat disayangi oleh Raja Badung karena kecakapannya dalam menjalankan mandat kepemimpinan.
Karena karakter kepemimpinannya yang dianggap “membawa berkat” atau merta, tempat tinggal beliau kemudian dikenal dengan nama Sumerta. Lambat laun, nama Wongaya yang asli mulai bergeser menjadi Sumerta Wongaya, dan kini kita akrab menyapanya cukup dengan sebutan Desa Sumerta.
Perintah Sakti I Gusti Ngurah Sumerta
Jejak peradaban spiritual di desa ini semakin diperkuat dengan keberadaan tokoh bernama I Gusti Ngurah Sumerta. Sejarah mencatat sebuah piagam sakral berangka tahun Caka 15 (sekitar abad ke-16) yang hingga kini masih disimpan rapi oleh keluarga Jro Mangku Puseh Sumerta di Banjar Sima. Piagam tersebut berisi perintah langsung dari sang penguasa kepada Ki Bendesa Bekung untuk membangun Pura Puseh dan Pura Kebon.
Tugas berat tersebut harus diselesaikan dalam waktu tepat satu tahun. Sebagai imbalan atas ketaatan dan kerja kerasnya membangun tempat suci, Ki Bendesa Bekung dianugerahi hadiah berupa tanah atau gumi lengkap dengan bibit tanamannya untuk dikelola. Peristiwa ini menjadi tonggak penting berdirinya Pura Puseh Desa Adat Sumerta yang hingga kini berdiri kokoh sebagai pusat spiritual masyarakat.
Transformasi dari Desa Induk Menjadi Kelurahan
Seiring laju pertumbuhan penduduk yang pesat dan tuntutan pelayanan publik, Desa Sumerta yang tadinya sangat luas akhirnya mengalami pemekaran besar pada tahun 1982. Melalui Surat Keputusan Gubernur Bali, desa induk bertransformasi menjadi empat wilayah administratif: Kelurahan Sumerta, Desa Sumerta Kaja, Desa Sumerta Kauh, dan Desa Sumerta Kelod.
Meskipun secara administratif telah terbagi, napas adat dan budayanya tetap menyatu erat di bawah naungan Desa Adat Sumerta. Memahami sejarah Desa Sumerta menyadarkan kita bahwa di balik kemajuan kota, ada nilai pengabdian ksatria yang tetap dijaga melalui bangunan suci. Bagi siapa pun yang melintasi wilayah ini, Sumerta bukan sekadar koordinat di peta, melainkan simbol keharmonisan antara pengabdian manusia kepada Tuhan dan penghormatan terhadap jasa para pendahulu. (BP/CHA).













