BULELENG, Balipolitika.com– Putu Saputra (23 tahun) memilih langkah berani merintis usaha kuliner di usia muda.
Pemuda yang akrab disapa Petra ini memutuskan keluar dari zona nyaman dari bisnis laundry keluarga yang telah mapan demi merintis usaha warung makan bernama Lalapan Abang 67 yang membidik pasar mahasiswa di Singaraja.
Saat ditemui Jumat, 5 Juni 2026, Petra menjelaskan bahwa ide usaha kuliner ini bukanlah bisnis yang muncul secara tiba-tiba.
Keluarga Petra lebih dulu menekuni usaha laundry yang sudah berjalan cukup lama.
Meski usaha tersebut tergolong menghasilkan, ia menilai bidang itu bukan sepenuhnya menjadi passion keluarga.
“Dulu sebenarnya kita ini usahanya keluarga, buka laundry. Profitnya lumayan, tapi kayak bukan passion-nya di sana. Jadi kita beralih ke buka warung, karena kebanyakan keluarga kita ini background-nya dari kuliner,” ujar Petra.
Sebelum memutuskan membuka usaha lalapan, Petra dan keluarganya sempat mempertimbangkan sejumlah konsep usaha kuliner lain, termasuk kedai kopi alias coffee shop.
Namun, setelah memperhitungkan kebutuhan modal, tenaga kerja, dan efisiensi operasional, mereka memilih konsep warung yang dinilai lebih sederhana dan mudah dikelola.
Menurut Petra, menu lalapan dipilih karena lebih praktis dari sisi persiapan bahan dan pengelolaan biaya.
Selain itu, model usaha ini dianggap lebih aman dari risiko bahan baku yang tidak habis terjual.
“Kalau coffee shop tuh kayaknya costing-nya lebih gede kan. Terus kita perlu nambah SDM juga. Makanya kita putusin buat buka lalapan dulu. Karena simple; sambal, nasi, ayam, sama sayur kayak gitu. Lebih gampang,” katanya.
Usaha tersebut dijalankan sepenuhnya oleh keluarga tanpa melibatkan karyawan dari luar.
Petra menyebut masing-masing anggota keluarga memiliki kesibukan lain, tetapi tetap berkomitmen saling membantu dalam operasional harian warung.
Petra sendiri saat ini bekerja di sektor perhotelan, sementara adik-adiknya masih aktif berstatus sebagai mahasiswa.
Di sisi lain, sang ibu juga memiliki usaha mandiri di rumah, namun meski aktivitas mereka padat, sistem kerja sama dan saling membantu membuat operasional Lalapan Abang 67 tetap berjalan dengan baik.
Sebagai pengusaha muda, Petra mengaku sempat dihantui rasa takut saat memulai bisnis baru.
Tak mundur selangkah pun, ia tidak membiarkan ketakutan itu menghambat langkah yang telah direncanakan.
Ketika usaha belum menunjukkan hasil yang diharapkan, langkah yang diambil bukan menyerah, melainkan terus memperbaiki strategi pemasaran dan pelayanan.
Selain menawarkan menu yang dekat dengan selera mahasiswa, Lalapan Abang 67 juga berupaya menghadirkan konsep yang mampu bersaing di tengah banyaknya usaha kuliner serupa.
Petra sengaja mengedepankan suasana yang lebih modern, memperhatikan estetika tempat usaha, serta memberikan pelayanan yang ramah kepada pelanggan demi membangun kepercayaan dan loyalitas konsumen.
Meski masih berada pada tahap awal, Petra optimis usaha yang dirintis bersama keluarganya ini dapat terus berkembang.
Ia membuka kemungkinan untuk menambah outlet, memperluas variasi menu, hingga mengembangkan konsep usaha lain di masa mendatang sesuai dengan kebutuhan pasar.
Di akhir wawancara, Petra memberikan pesan motivasi kepada generasi muda yang ingin memulai bisnis agar menanamkan keberanian, konsistensi, dan kerja keras sejak dini.
“Yang pertama itu jangan takut mencoba. Jangan mudah menyerah. Lebih baik kita sakit-sakit sekarang, kerja keras sekarang, tapi di masa tua kita santai-santai,” pesannya. (bp/Ni Putu Nadia Marchsita Dewi/4A/Basindo/Undiksha)













