DENPASAR, Balipolitika.com– Kantor Bawaslu Provinsi Bali menjadi ruang kolaborasi strategis bagi generasi muda dalam mengawal integritas demokrasi, Selasa, 12 Mei 2026.
Pertemuan antara jajaran Bawaslu Bali dengan mahasiswa Fakultas Administrasi Publik, Universitas Pendidikan Nasional (Undiknas) ini fokus pada pengembangan komunitas digital sebagai garda terdepan pengawasan partisipatif di media sosial.
Koordinator Divisi Pencegahan, Partisipasi Masyarakat, dan Hubungan Masyarakat (P2H) Bawaslu Bali, Ketut Ariyani mengawali pertemuan dengan menekankan pentingnya literasi digital bagi mahasiswa.
Ariyani mendorong agar kelompok intelektual muda tidak hanya mengenal Bawaslu secara permukaan, tetapi aktif mendalami peran pengawasan melalui kanal digital yang telah tersedia.
Pemahaman mendalam mengenai kinerja lembaga pengawas menjadi modal utama sebelum mahasiswa terjun mengajak masyarakat luas peduli pada pemilu.
Menyambung arahan tersebut, Putu Mirayani, Tim Humas Bawaslu Bali memaparkan konsep komunitas digital yang dikelola secara mandiri oleh masyarakat.
Melalui platform seperti Instagram, TikTok, hingga Threads, komunitas ini berperan menyebarluaskan informasi pengawasan dari perspektif warga sipil.
“Intinya, ini adalah gerakan mandiri masyarakat yang ingin berperan aktif sebagai pengawas di media digital,” jelas Mira.
Dalam diskusi tersebut, terungkap realita bahwa banyak pemilih pemula yang masih cenderung mengikuti pilihan keluarga atau terpengaruh oleh praktik politik uang.
Menanggapi fenomena tersebut, Ketut Ariyani memberikan penekanan tegas mengenai pentingnya independensi dalam menentukan hak suara.
“Adik-adik memiliki kebebasan penuh dalam menentukan pilihan tanpa harus terikat oleh preferensi keluarga atau lingkungan sekitar. Kenali sosoknya, pelajari program kerjanya, dan pilihlah berdasarkan hati nurani, bukan karena pemberian barang atau uang. Menjadi pemilih cerdas adalah langkah nyata dalam menjaga masa depan bangsa,” ujar Ariyani.
Langkah konkret dihasilkan dari pertemuan ini melalui rencana koordinasi mahasiswa dengan BEM PM Undiknas untuk membentuk komunitas digital yang lebih terstruktur.
Pihak Bawaslu Bali pun merespons positif rencana tersebut dengan menjanjikan dukungan penuh dan pendampingan teknis secara berkelanjutan.
“Kami sangat terbuka terhadap setiap masukan dan siap hadir langsung ke kampus jika diperlukan untuk berdiskusi lebih dalam mengenai pengembangan komunitas ini,” tambah Ariyani .
Sinergi ini menandai babak baru pengawasan pemilu di Bali yang lebih inklusif dan adaptif terhadap perkembangan teknologi.
Melalui kolaborasi antara otoritas pengawas dan semangat kreatif mahasiswa, Bawaslu Bali optimistis prinsip demokrasi yang jujur dan adil dapat tetap terjaga, baik di dunia nyata maupun di ruang siber. (bp/ken)













