DENPASAR, Balipolitika.com– Dalam upaya merespons isu mendesak mengenai perlindungan anak di era digital, Duta Anak Kota Denpasar 2025 Komisi Jaringan, Kadek Nanda Pradnyana Putra, sukses menyelenggarakan sebuah kegiatan edukatif yang inovatif serta menarik.
Kegiatan ini bertajuk MATAHARI: Membangun Anak Tangguh dan Aman Hadapi Ancaman Ruang Internet.
Acara yang dilaksanakan di SD Santo Yoseph 1 Denpasar yang juga terlaksana pada tanggal 17 Desember 2025 ini memiliki tujuan utama untuk membekali anak-anak dengan pemahaman mendalam mengenai bahaya konten yang tidak ramah anak di internet, sekaligus mendorong mereka untuk menjadi agen perubahan yang proaktif.
Terdapat beberapa hal yang ditekankan oleh Duta Anak Komisi Jaringan 2025, diantaranya:
Urgensi Isu di Era Digital
Menurut Kadek Nanda Pradnyana Putra, inisiatif kegiatan MATAHARI didasarkan pada kekhawatiran yang sangat mendesak.
“Kami melihat adanya peningkatan signifikan jumlah anak yang terpapar konten tidak ramah anak seiring dengan akselerasi digitalisasi,” ujar Kadek Nanda.
Urgensi permasalahan ini semakin diperkuat setelah isu bahaya konten digital menjadi salah satu topik utama yang diangkat dalam Suara Anak Kota Denpasar 2025.
Hal ini menunjukkan bahwa ancaman di ruang internet adalah masalah yang nyata dan dirasakan langsung oleh anak-anak, sehingga memerlukan penanganan yang cepat dan komprehensif dari semua pihak.
Kadek Nanda Pradnyana Putra memiliki keyakinan kuat pada filosofi: “Layar Positif, Anak Produktif, Bangsa Progresif.”
Ia menegaskan bahwa dengan memastikan lingkungan digital yang sehat dan positif bagi anak, produktivitas mereka akan meningkat, yang pada akhirnya akan mendorong kemajuan bangsa secara keseluruhan.
Inovasi Edukasi Melalui Games
Salah satu inovasi utama dari kegiatan MATAHARI adalah penggunaan games edukatif sebagai media sosialisasi. Kadek Nanda Pradnyana Putra menjelaskan alasan di balik metode ini:
“Di era digital ini, rentang fokus anak-anak semakin pendek, dan mereka cenderung cepat bosan. Kami harus mencari solusi yang lebih kreatif. Dengan games edukatif, kami mempermudah anak-anak untuk memahami materi yang kompleks tentang bahaya konten negatif, mengubah proses belajar menjadi pengalaman yang menyenangkan dan interaktif.”
Sesi edukasi ini tidak hanya bersifat pasif. Peserta diajak berpartisipasi dalam permainan yang berisikan tantangan dan pertanyaan-pertanyaan seputar bahaya konten tidak ramah anak dan cara mengatasinya.
Pendekatan yang santai namun terstruktur ini terbukti efektif dalam menyalurkan informasi penting secara efisien.
Membentuk Pelopor dan Pelapor (2P)
Puncak dari kegiatan MATAHARI adalah ajakan bagi seluruh peserta untuk menjadi 2P: Pelopor dan Pelapor.
Anak-anak didorong untuk menjadi Pelopor dalam penggunaan internet yang sehat di lingkungan mereka dan menjadi Pelapor terhadap konten atau tindakan online yang berbahaya.
Untuk memperkuat pesan ini, setiap peserta diajak menghias dan merancang poster berisi pesan-pesan tentang bahaya konten tidak ramah anak dan kiat-kiat untuk menghindarinya.
Poster-poster kreatif hasil karya anak-anak ini selanjutnya akan ditempel di setiap kelas SD Santo Yoseph sebagai pengingat visual yang berkelanjutan tentang keamanan digital.
Melalui MATAHARI, Duta Anak Kota Denpasar 2025 tidak hanya memberikan pengetahuan, tetapi juga menanamkan kesadaran dan tanggung jawab pada generasi muda untuk secara aktif menjaga diri dan lingkungan digital mereka dari ancaman yang tersembunyi.
Inisiatif ini diharapkan menjadi model bagi kegiatan edukasi sejenis di seluruh Kota Denpasar dan sekitarnya. (bp/jk/ken)













