JAKARTA, Balipolitika.com- Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG menunjukkan tren penurunan yang sangat tajam pada perdagangan pekan ini. Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat juga terpantau melemah hingga menembus angka psikologis baru. Kondisi pasar modal saat ini mencerminkan hilangnya kepercayaan investor asing terhadap stabilitas ekonomi dalam negeri Indonesia.
“Hari ini sudah resmi yang namanya IHSG jatuh ke level enam ribuan dan ini membuktikan kebenaran ramalan saya,” kata Benny Batara melalui kanal YouTube Bennix.
Para investor asing terpantau menarik dana besar-besaran dari lantai bursa saham Indonesia secara masif dan cepat. Nilai arus modal keluar atau capital outflow mencapai angka fantastis yakni sebesar 23 triliun rupiah lebih. Fenomena ini terjadi akibat kekhawatiran pelaku pasar terhadap lonjakan harga minyak mentah dunia yang terus meroket.
“Investasi asing sudah kabur lebih dari 23 triliun rupiah karena mereka tidak percaya lagi dengan apa yang pemerintah katakan,” ujar Bennix.
Kenaikan harga minyak dunia di atas seratus dolar per barel memberikan tekanan hebat bagi neraca perdagangan kita. Indonesia masih sangat bergantung pada sistem petrodolar sehingga kebutuhan mata uang dolar Amerika Serikat melonjak sangat tinggi. Pelemahan rupiah menjadi konsekuensi logis yang tidak terhindarkan ketika permintaan dolar untuk impor energi terus membengkak.
“Indonesia harus menggadaikan harga dirinya untuk mendatangkan dolar agar bisa membayar impor minyak yang harganya terus naik,” tutur Benny menjelaskan.
Krisis ekonomi ini kabarnya merupakan hasil desain sistematis dari kekuatan pihak asing untuk menggoyang kedaulatan negara kita. Benny menuding kelompok global tertentu sedang berupaya menjadikan Indonesia sebagai negara gagal melalui skema ekonomi yang sangat rumit. Pemerintah dianggap gagal dalam memenangkan pertempuran narasi serta propaganda di tengah situasi geopolitik dunia yang sedang memanas.
“Negara kita akan segera menghadapi skema pengaturan ulang atau reset yang sangat berbahaya dari agen-agen asing tertentu,” ucap Benny dengan nada peringatan.
Lembaga keuangan internasional seperti MSCI diduga ikut berperan dalam menjatuhkan nilai saham-saham unggulan di bursa domestik. Penurunan peringkat tersebut bertujuan agar investor asing dapat membeli aset-aset strategis Indonesia dengan harga yang sangat murah. Beberapa saham dengan kapitalisasi pasar raksasa kini berada dalam bidikan utama untuk dihancurkan nilainya secara perlahan.
“Ada sekitar lima saham spesifik yang menjadi target utama untuk dihancurkan supaya bursa saham Indonesia segera mengalami kolaps,” tegas Benny Batara.
Dampak buruk dari guncangan ekonomi ini diprediksi akan merembet ke ranah sosial dan politik di tanah air. Gejolak massa kemungkinan besar meledak apabila pemerintah nekat mencabut subsidi bahan bakar minyak demi menekan defisit anggaran. Masyarakat harus bersiap menghadapi potensi kerusuhan atau demonstrasi besar jika stabilitas harga kebutuhan pokok tidak segera terkendali.
“Krisis ini akan menjadi alasan kuat bagi masyarakat untuk turun ke jalan karena beban hidup yang semakin berat,” kata Benny. (BP/CHA).













