BADUNG, Balipolitika.com– Maraknya kasus pencurian kilometer PDAM atau meteran air (water meter) yang berfungsi sebagai alat ukur air dari PDAM ke pelanggan tak hanya dikeluhkan warga Desa Ungasan.
Sebagaimana dilaporkan kepada pihak kepolisian di bulan Desember 2025 hingga pertengahan Januari 2026 saja, Tempat Kejadian Perkara (TKP) pencurian ini sudah mencapai belasan lokasi yang diperparah pencurian pis bolong alias uang kepeng di sejumlah pura.
Terbaru, keluhan serupa disampaikan Anggota DPRD Kabupaten Badung, I Made Sumerta.
Politisi PDI Perjuangan yang juga Bendesa Adat Pecatu ini memberikan atensi serius terhadap maraknya kasus pencurian meteran air milik Perumda Tirta Mangutama (PDAM) Badung yang terjadi di wilayah Kuta Selatan.
I Made Sumerta juga menyoroti belum optimalnya distribusi air bersih di Desa Pecatu sehingga memicu keluhan masyarakat.
Turun langsung ke TKP pencurian meteran air, Kamis, 26 Maret 2026, I Made Sumerta mengaku pihaknya menerima laporan kasus kehilangan meteran air hampir setiap hari di wilayah Kuta Selatan.
Kondisi ini dinilai tidak hanya merugikan pelanggan, tetapi juga berpotensi mencoreng citra pariwisata Bali di mata wisatawan mancanegara.
Ungkap I Made Sumerta, dalam satu kali peninjauan ke lapangan, ia menemukan langsung fakta pencurian dua hingga tiga meteran air di kawasan vila yang dihuni warga asing.
Menurutnya, apabila kejadian tersebut tersebar melalui media sosial atau laporan wisatawan di negara asal mereka, hal itu dapat menimbulkan persepsi negatif terhadap keamanan dan pelayanan publik di destinasi pariwisata Bali.
Mirisnya, tak hanya didera maraknya kasus pencurian, I Made Sumerta juga mengungkap fakta pelayanan distribusi air bersih yang belum merata.
Warga di Jalan Belimbing Sari, Banjar Dinas Tambiak, Desa Pecatu contohnya.
Mereka disebut belum pernah menikmati aliran air meskipun sambungan meteran telah dipasang sejak lama.
I Made Sumerta menilai situasi tersebut ironis karena di sejumlah lokasi lain yang justru mengalami kehilangan meteran air, tekanan air terpantau mengalir cukup deras.
Atas kondisi itu, I Made Sumerta meminta Perumda Tirta Mangutama segera melakukan evaluasi teknis dan percepatan penyambungan jaringan pipa agar pelayanan lebih adil dan efisien.
Lebih lanjut, I Made Sumerta mendesak PDAM Badung untuk segera melakukan pemetaan ulang jaringan distribusi air sekaligus meningkatkan pengawasan guna mencegah pencurian meteran air terus berulang.
Alasan teknis petugas lapangan terkait kesulitan menemukan titik katup (valve) sambungan akibat instalasi jaringan yang rumit dinilai tidak bisa terus-menerus dijadikan alasan.
Kondisi itu seharusnya dapat diatasi apabila perusahaan daerah memiliki data teknis maupun denah instalasi jaringan yang terdokumentasi dengan baik.
Jika serius menjaga kepercayaan masyarakat dan wisatawan terhadap kualitas layanan publik di Kabupaten Badung, I Made Sumerta mengingatkan jajaran PDAM Badung untuk bekerja dengan profesional. (bp/ken)













