DI TENGAH kecenderungan ruang publik yang semakin dipenuhi percakapan dangkal, forum diskusi sastra–seni rupa yang diselenggarakan RuSa TerBang Project di I-Club Madiun pada 14 Februari 2026 menghadirkan sesuatu yang jarang: ruang berpikir bersama. Acara ini tidak sekadar menjadi kegiatan bedah karya, tetapi berfungsi sebagai ruang dialog terbuka yang mempertemukan seniman, akademisi, komunitas budaya, dan masyarakat untuk mendiskusikan sastra sebagai praktik refleksi sosial.
Diskusi berlangsung dalam format pemaparan kajian, dialog interaktif, serta pertukaran gagasan antara peserta dan pembicara. Suasananya tidak kaku seperti forum akademik formal, tetapi juga tidak kehilangan kedalaman analitis. Justru dalam ruang semacam ini terlihat bagaimana karya sastra dapat menjadi medium untuk membaca ulang pengalaman sosial, nilai budaya, dan cara pandang kita terhadap identitas manusia—terutama perempuan.
Melalui kajian terhadap cerpen “Perempuan yang Datang ketika Hujan” karya Fileski, saya mencoba menunjukkan bahwa romantisme yang tampak puitik dalam teks sesungguhnya menyimpan struktur makna yang lebih kompleks. Cerpen ini tidak hanya berbicara tentang cinta atau kenangan, tetapi juga mengungkap bagaimana perempuan dikonstruksi dalam imajinasi budaya yang patriarkal.
Dengan menggunakan pendekatan semiotika Roland Barthes, hujan dalam cerpen tidak hanya hadir sebagai latar peristiwa alam. Ia menjadi tanda yang memproduksi makna kesedihan, kerinduan, dan nostalgia, sekaligus membangun mitos tentang cinta pertama yang abadi.
Dalam konstruksi ini, tokoh Jasmin tidak sepenuhnya hadir sebagai individu yang memiliki kesadaran sendiri, melainkan sebagai simbol yang dibentuk oleh ingatan tokoh laki-laki.
Pembacaan tersebut mengungkap adanya oposisi representasi perempuan. Perempuan dalam kenangan digambarkan sebagai figur ideal dan suci, sementara perempuan yang hadir dalam ruang sosial kontemporer—misalnya melalui aplikasi kencan—direpresentasikan melalui tubuh dan seksualitasnya. Pembagian ini memperlihatkan standar moral yang tidak netral, melainkan lahir dari konstruksi sosial yang mengkategorikan perempuan dalam kerangka nilai tertentu.
Dari perspektif kritik feminis, fenomena ini dapat dipahami melalui konsep male gaze dari Laura Mulvey. Dalam cerpen, tokoh perempuan terutama hadir melalui sudut pandang tokoh “aku”, sehingga keberadaannya lebih berfungsi sebagai objek refleksi emosi laki-laki daripada sebagai subjek dengan pengalaman otonom. Cara pandang ini sejalan dengan gagasan Simone de Beauvoir tentang perempuan sebagai the Other, yakni pihak yang didefinisikan melalui perspektif dominan laki-laki dalam struktur sosial patriarkal.
Yang menarik, romantisme justru menjadi mekanisme yang menutupi relasi kuasa tersebut. Estetika hujan, kesedihan, dan kenangan menghadirkan suasana puitik yang membuat konstruksi representasi tampak alami dan wajar. Di sinilah sastra menunjukkan ambivalensinya: ia dapat menjadi ruang refleksi kritis sekaligus medium reproduksi ideologi.
Diskusi dalam forum tersebut memperlihatkan bahwa pembacaan kritis terhadap karya sastra masih sangat relevan bagi kehidupan sosial kita. Dialog yang muncul tidak berhenti pada teks, tetapi meluas pada pertanyaan tentang bagaimana masyarakat membentuk makna tentang perempuan, bagaimana standar moral bekerja, dan bagaimana budaya populer terus mereproduksi pandangan tertentu tentang identitas.
Bagi saya, kegiatan semacam ini menunjukkan bahwa diskusi sastra memiliki peran penting dalam membangun kesadaran budaya. Ia bukan hanya ruang apresiasi estetika, tetapi juga ruang untuk mempertanyakan nilai-nilai yang kita anggap wajar. Membaca sastra berarti membaca struktur kekuasaan, relasi sosial, dan ideologi yang bekerja di balik bahasa.
Pada akhirnya, cerpen “Perempuan yang Datang ketika Hujan” bukan sekadar kisah romantik tentang cinta dan kenangan. Ia menjadi cermin dari imajinasi sosial yang masih menempatkan perempuan dalam batas-batas tertentu. Dan forum diskusi seperti yang diselenggarakan RuSa TerBang Project membuktikan bahwa membaca secara kritis—bersama, dalam dialog—masih menjadi praktik penting untuk memahami diri kita sebagai bagian dari budaya yang terus membentuk makna tentang manusia.
BIODATA
Shalihah Ramadhanita (1998) adalah seniman, peneliti, dan pengkaji seni yang berfokus pada kajian seni rupa, kuratorial, dan kritik budaya. Ia menyelesaikan studi magister pengkajian seni pertunjukan dan seni rupa di Universitas Gadjah Mada, dengan minat kajian meliputi semiotika, kritik seni, dan perspektif feminis dalam studi visual dan sastra.













