BALI, Balipolitika.com – Aksi ulah pati kembali hampir terjadi di Jembatan Tukad Bangkung, Plaga, Badung, Bali. Upaya ulah pati ini berhasil terhenti karena ketahuan sebelum kejadian.
Peristiwa tersebut terjadi Senin malam, 5 Januari 2026, dan berhasil terhenti oleh Unit UKL Polsek Petang. Petugas menggagalkan aksi nekat seorang pria bernama Mulus, yang datang ke lokasi menggunakan sepeda motor Vespa.
Pelaku dugaan hendak melompat dari Jembatan Tukad Bangkung, sebelum petugas mengamankannya yang sedang melaksanakan patroli rutin.
Setelah berhasil terevakuasi, pelaku langsung teramankan dan dapat penanganan awal. Pihak kepolisian juga telah menghubungi keluarga dan teman dekat pelaku untuk penanganan lebih lanjut.
Hingga saat ini, pihak kepolisian masih mendalami motif percobaan ulah pati tersebut dan mengimbau masyarakat agar segera melapor jika melihat tanda-tanda gangguan keselamatan di kawasan Jembatan Tukad Bangkung.
Alangkah lebih bijak jika mengalami depresi, mendatangi ahli seperti psikolog dan psikiater. Sebab dalam Hindu ulah pati adalah tindakan salah, dan hukumannya tidak main-main.
Dalam agama Hindu, hukuman untuk ulah pati (bunuh diri) sebagai tindakan yang sangat tidak baik dan memiliki konsekuensi karma yang berat.
Ulah pati sebagai tindakan yang melanggar prinsip ahimsa (tidak membunuh) dan dapat menyebabkan karma buruk. Orang yang melakukan ulah pati dapat terjebak dalam siklus kelahiran kembali (samsara) dan mengalami penderitaan di alam lain.
Dalam beberapa tradisi Hindu, ulah pati sebagai tindakan yang tidak suci dan dapat membuat roh orang yang meninggal tidak dapat mencapai moksha (pembebasan).
Dalam beberapa teks Hindu, seperti Manu Smriti, ulah pati sebagai kejahatan yang setara dengan pembunuhan.
– Hukuman untuk ulah pati dapat berupa:
– Tidak boleh melakukan upacara kremasi dengan cara yang biasa.
– Tidak boleh melakukan ritual śraddha (upacara kematian) untuk menghormati roh orang yang meninggal.
– Keluarga orang yang melakukan ulah pati dapat kena hukuman sosial dan agama.
Namun, bahwa pandangan Hindu tentang ulah pati dapat berbeda-beda tergantung pada tradisi dan interpretasi yang terpakai.
Beberapa tradisi Hindu lebih menekankan pada belas kasihan dan kasih sayang, sehingga mungkin memiliki pandangan yang lebih toleran terhadap ulah pati. (BP/OKA)













