BALI, Balipolitika.com – Natal 2025 dan Tahun Baru 2026, tampaknya tak seramai biasanya di Bali. Biasanya jelang akhir tahun, turis lokal maupun asing datang memadati Pulau Surga ini.
Namun sekarang, tampak lebih sepi dan lesu. Walaupun pemerintah menampik hal ini, bukti nyata terpampang di depan mata. Okupansi anjlok, banyaknya turis nakal, sampah gak beres-beres, sampai masalah macet yang bikin pusing tujuh keliling.
Data juga menunjukkan, jumlah pengguna jasa serta kendaraan masuk Bali dari Pelabuhan Ketapang menuju Pelabuhan Gilimanuk, Jembrana sejak H-10 Natal tahun 2025 tercatat mengalami penurunan dari periode yang sama tahun 2024 lalu.
Namun, justru jumlah kendaraan keluar Bali yang naik sekitar 4 persen. Meskipun demikian, jumlah pengguna jasa masuk Bali dalam periode Natal 2025 ini tercatat sebanyak 189.052 orang.
Lalu apa yang salah, siapa yang salah. Daripada saling menyalahkan lebih baik kita berbenah. Bali adalah daya tarik luar biasa di dunia, bahkan Pulau Seribu Pura ini lebih terkenal dari Indonesia sendiri.
Awalnya alam Bali memang indah, sebelum eksploitasi berlebihan. Kebanyakan untuk akomodasi pariwisata, namun tak hanya itu sempadan tebing, pantai, dan apapun kini menjelma jadi toko atau hotel.
Sampai banjir belakangan menerjang dan jadi langganan, saat musim hujan tiba di akhir hingga awal pergantian tahun. Sayangnya beberapa harus menjadi korban jiwa dan tentu ini musibah yang seharusnya bisa terantisipasi.
Alih fungsi lahan di Bali cukup signifikan, terutama dari lahan pertanian menjadi lahan non-pertanian seperti hotel, villa, dan akomodasi pariwisata lainnya.
Menurut data Badan Pusat Statistik Provinsi Bali, pada tahun 2017, luas sawah di Bali mencapai 78.626 Ha, namun angka ini terus menurun seiring dengan meningkatnya alih fungsi lahan.
Daerah Kuta dan Canggu, sangat macet dan amburadul, tidak tertata sama sekali. Alhasil sebutan Pulau Surga tampaknya terevaluasi kali ini, Bali terjun dari nomor satu ke nomor 6, tak lagi jadi pilihan pertama.
Kemana orang-orang berlibur, konon ada yang beralih ke Thailand bahkan ke Yogyakarta. Kalau mau bertahan di pariwisata, tak hanya modal ramah saja.
Akar pariwisata Bali, yang menjadi keunikan dan membedakan dari yang lain adalah adat, seni, dan budaya. Tetapi ini pun kian berat, karena warga Bali harus berlomba dengan dunia modern dan perutnya.
Namun harus bertahan menjaga adat, budaya dan alamnya. Lalu hadir pungutan wisatawan yang katanya bisa membantu ini, namun sampai detik ini tidak ada dampaknya.
Bahkan BPS pun mencatat, Denpasar menjadi kota yang membuat “cepat miskin” karena antara kebutuhan hidup dengan penghasilan sudah tidak setara. Ibaratnya, jauh panggang dari api.
Tak adanya pengelolaan yang baik sejak awal, membuat Bali semakin amburadul. Sampah berserakan, macet tak terelakkan. Belum lagi kejahatan makin naik, tak hanya oleh pelaku pribumi tapi juga turis asing yang datang.
Banyak WNA yang datang malah buat onar, jualan narkoba, bahkan buat video syur. Sungguh miris dan tragis, bagi masa depan Bali yang hidupnya dari pariwisata. Bahkan penyetor devisa terbesar dari pariwisata, sampai ratusan triliun.
Bali butuh pengaturan yang tegas dan berfokus pada akar pariwisata budaya. Jika tidak, Bali akan kalah dengan destinasi lain yang alamnya masih perawan, dan menawarkan banyak keindahan serta kemudahan bagi wisatawan. (BP/OKA)










